Ads


» » » Berpotensi Sebarkan Wabah, Mentan Saksikan Pembongkaran 609,9 Ton Buah Impor Illegal

Tanjung Perak,BeritaRayaOnline,- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman langsung melihat 609,9 ton buah impor illegal yang disita Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Perak,Jumat pagi (4/4/2016).

Didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron, Kasdam  V Brawijaya Brigjen Rahmad Pribadi , Kapolda Jawa Timur Irjen (Pol) Anton Setiadji menyaksikan pembongkaran peti-kemas berisi buah illegal asal Tiongkok di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok,  Surabaya, Jum'at  pagi(4/3/2016).

Kini, 609.9 ton buah itu masih ditahan di Terminal Peti Kemas Surabaya untuk proses hukum selanjutnya.

Di Terminal Peti Kemas Surabaya Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) melakukan penahanan 34 kontainer atau setara dengan 609.986 kilogram buah jeruk,pir, dan apel tanpa jaminan kesehatan asal negeri Tiongkok.Penahanan dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan dokumen dan fisik dimana tak ada kesesuaian.

Jeruk illegal negeri Tiongkok yang tidak disertai surat jaminan kesehatan ini berpotensi membawa wabah penyakit yaitu lalat buah yang sangat menyukai buah jeruk sebagai medianya.

Berdasarkan Permentan No.42 tahun 2012 spesies lalat buah yang berasal dari negeri Tiongkok adalah bactrocera tsuneonis/ japanase orange fly/cytrus fruit fly merupakan organisme penganggu tumbuhan yang belum terdapat di Indonesia, sehingga perlu kewaspadaan  yang tinggi.

"Badan Karantina Pertanian menahan 609,9 ton buah illegal ini untuk menyelamatkan Rp 2,2 triliun potensi kerugian petani yang terjadi bila telur dan larva lalat buah yang terbawa di dalam  buah jeruk illegal ini menjangkiti tanaman jeruk dalam negeri," kata Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian Banun Harpini.

Selain itu, berkaca pada pengalaman yang terjadi di Jepang yaitu mewabahnya penyakit jenis itu yang menyebabkan gagal panen hingga 50 persen. Oleh karenannya, selaku penjamin kesehatan produk segar dan peroduk olahan pertanian yang masuk melalui bandara dan pelabuhan Indonesia.

 Badan Karantina yang menahan buah illegal tersebut untuk menyelamatkan Rp2,2 triliun potensi kerugian petani bila telur dan larva lalat buah itu menjangkiti tanaman di Indonesia.

Terkait dengan buah illegal tersebut, maka penegakan hukum pun dilakukan yakni karena adanya dugaan pelanggaran pasal 5 UU No 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dengan ancama pidana paling lama 3 tahun dan denda Rp 150 juta.

 Isu keamanan pangan menjadi sangat penting di dunia internasional dan telah diakomodir melalui peraturan codex sebagai rujukan untuk seluruh negara.Hal ini sangat penting karena menyangkut kesehatan dan keselamatan manusia berkenaan dengan cemaran, kimia, residu pestisida dan menjadi hak masyarakat untuk mendapatkan pangan yang aman dan layak dikonsumsi.

Berkenaan dengan hal tersebut,  Karantina Pertanian yang memiliki tupoksi mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan karantina dan organisme pengganggu tumbuhan karantina dan mengawasi hayati hewan/ nabati, senantiasa melakukan pengawasan setiap pemasukan pangan segar yang masuk ke dalam wilayah Indonesia.
Badan Karantina sangat concern melindungi konsumen dan cemaran. Oleh karena itu, importasi harus dipastikan aman dan layak dikonsumsi bagi rakyat Indonesia. 

"Maka, Kementerian Pertanian Indonesia menghimbau kepada seluruh masyarakat lebih mencintai dan mengkonsumsi buah nusantara yang lebih sehat dan juga demi untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia,” kata Banu Harpini.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meng-apresiasi kinerja dan sinergi seluruh pihak yang berhasil menggagalkan impor illegal ini. Mentan menilai upaya tersebut bisa melindungi pangan dalam negeri.

"Upaya pengetatan pengawasan ini sangat bagus untuk mengontrol impor buah dari luar," ucapnya.

Dijelaskan lagi oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, 609 ton buah asal Tiongkok ini diimpor oleh PT.DPM yang berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan ini hanya mencantumkan buah pir dalam dokumen impor.

Kenyataannya buah pir hanya sekitar 5 persen dari total buah yang diimpor ke Indonesia. Buah pir ini ditaruh di bagian belakang atau di pintu kontainer. Sedangkan bagian depan diisi buah jeruk.

"Buah ini tak ada jaminan kesehatan dari negara asal," jelas Mentan.

"Buah illegal ini sangat berbahaya kalau sampai beredar di Indonesia.Ini harus ditindak tegas.Pihak karantina pertanian yan berada di pintu masuk buah impor harus meningkatkan pengawasan karena buah-buah illegal masih bisa masuk.Dengan pengawasan yang ketat, kasus seperti ini bisa dicegah sejak dini," kilahnya.(lasman simanjuntak)

Teks Foto : Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron, Kasdam  V Brawijaya Brigjen Rahmad Pribadi , Kapolda Jawa Timur Irjen (Pol) Anton Setiadji menyaksikan pembongkaran peti-kemas berisi buah illegal asal Tiongkok di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok,  Surabaya, Jum'at  pagi (4/3/2016). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini