breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Sunarto Sastrowiyoto : MMS Telah Bangun Saluran Air Drainase Sesuai DED Disetujui Kementerian PUPR

Share This

Hotel Aston,Anyer,BeritaRayaOnline,-"Air selalu dikalahkan, tetapi air tetap tidak mau mengalah,"kata Sunarto Sastrowiyoto, Direktur Teknik dan Operasi PT.Marga Mandalasakti (MMS) ketika tampil sebagai pembicara dalam acara media gathering bertemakan "Forum Group Discussion, Perubahan Tata Ruang di Sekitar Jalan Tol" di Hotel Aston, Anyer,Serang,Banten, Jumat pagi (12/2/2016).

Menurutnya, jalan tol dibangun di atas beberapa perlintasan air.Jadi, kalau ada saluran pengairan tidak akan ganggu kondisi saat itu.

"Namun yang terjadi sekarang terjadi perkembangan penduduk, permukiman, dan pabrik atau industri, termasuk areal persawahan berubah jadi permukiman,sehingga saluran-saluran kecil terkumpul pada satu titik.Misalnya di kawasan Balaraja, penduduk di sini kemarin sempat komplain karena kebanjiran,"katanya.

Balaraja, lanjut Sunarto, dulu merupakan daerah rawa, sehingga di sini digunakan konstruksi aspal (bukan konstruksi semen beton-red) karena lahan rawa penurunannya cukup tinggi.Konstruksi aspal dengan metode vertikal disain.

"Di sini berkembang pabrik cukup besar, air sering melimpas, lalu kita bangun tanggul di kiri kanan.Air selalu dikalahkan, tetapi air tetap tidak mau mengalah," katanya lagi sambil tertawa.

Jalan tol Tangerang-Merak sudah mulai dibangun sejak tahun 1990.Pembangunan tersebut sudah sesuai dengan Detailed Engineering Design (DED) yang telah disetujui oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan memperhatikan kondisi tata ruang wilayah sekitar jalan tol pada saat itu.

Namun, Saat ini terjadi perubahan fungsi lahan dan ruang seperti persawahan, rawa, dan lahan kosong yang tadinya merupakan daerah resapan air kini berubah menjadi  kawasan permukiman dan industri (pabrik).

"Perubahan tata lingkungan dan pembukaan kawasan yang sebelumnya merupakan daerah resapan air, lahan kosong maupun persawahan yang tadinya merupakan daerah resapan air  kini berubah menjadi permukiman dan industri seyogyanya diikuti dengan perencanaan tata ruang yang matang dalam pembukaan baik dari pemerintah setempat maupun pengembang dengan memperhatikan berbagai aspek seperti fungsi drainase dan akses tol," ujarnya.

Perkembangan daerah-daerah di sekitar jalan tol membuat aktivitas daerah tersebut semakin tinggi, sehingga persimpangan jalan seperti terowongan penghubung desa saat ini sudah tidak memadai dan perlu ditingkatkan.

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No:02 PRT/M/2007 tentang Petunjuk Teknis Pemeliharaan Jalan Tol dan Jalan Penghubung pada pasal 6 diantaranya menyebutkan  Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) harus memelihara jalan tol dan jalan penghubung yang terdapat pada Rumija tol atau Rumija penghubung termasuk bagian jalan umum bukan tol yang menyilang di atas atau di bawah jalan tol atau jalan penghubung tersebut.Adapun untuk peningkatan kapasitas jalan umum bukan tol tersebut menjadi tanggungjawab pemerintah pusat atau pemerintah daerah berdasarkan status bagian jalan bukan tol tersebut dengan mendapat pertimbangan badan usaha jalan tol dan berkoordinasi dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) agar tidak menganggu operasi jalan tol.

"Sebagai upaya memberikan layanan terbaik kepada pengguna jalan tol Tangerang-Merak dan masyarakat di sekitar jalan tol dan dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.18/PRT/M/2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan di sekitar akses jalan tol MMS melaksanakan  program revitalisasi akses di 10 lokasi akses sepanjang jalan tol Tangerang-Merak yang sudah dilakukan sejak tahun 2013," ujarnya.

Selain itu MMS telah membangun saluran air/drainase sesuai dengan Detailed Engineering Design (DED) yang telah disetujui oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sesuai dengan kondisi setempat pada saat itu dan telah direvitalisasi pada 2012-2014.

Sistem drainase yang ada di jalan tol Tangerang-Merak hanya berfungsi sebagai saluran untuk menampung dan mengalirkan air hujan serta air yang berasal dari permukaan badan jalan tol.

Menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline mengenai perubahan tata ruang di jalan tol Tangerang-Merak , Sunarto Sastrowiyoto, Direktur Teknik dan Operasi PT.MMS menjelaskan rencana ketika itu saat membangun jalan tol Tangerang-Merak pengembangan wilayah jadi satu kesatuan yaitu jalan tol dibangun dengan kondisi lahan saat itu.

"Namun, dalam perjalanan selanjutnya tata ruang dirubah jadi kawasan permukiman dan industri.Itu di luar wewenang kekuasaan kami selaku  pengelola jalan tol Tangerang-Merak,"tegasnya.

Sementara itu  Bambang Eko dari Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR  menambahkan pada saat dibangun jalan tol Tangerang-Merak tahun 1990-an itu sudah punya "peil banjir" termasuk dari Dinas PU kabupaten/kota dan provinsi.

"Lalu ada terjadi perubahan tata ruang, seharusnya mereka juga memperhatikan 'peil banjir' khususnya bila terjadi perubahan lahan di sekitar jalan tol termasuk jalan tol Tangerang-Merak," katanya.(lasman simanjuntak)

Foto-foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama