Ads


» » » Kementerian PUPR akan "Gandeng" Konsultan Lokal Dalam Renovasi dan Rehabilitasi GBK

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya akan "menggandeng" konsultan/arsitek lokal anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dalam pekerjaan renovasi dan rehabilitasi di Kompleks  Gelora Bung Karno (GBK) untuk sambut pesta Asian Games XVIII  diikuti 45 negara Agustus 2018 mendatang.

Demikian dikatakan oleh Adjar Prayudi, Direktur Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PUPR kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/2/2016).

"Kita akan pakai konsultan lokal  atau arsitek -arsitek Indonesia yang telah punya pengalaman internasional. Ada kerjasama antara Kementerian PUPR dan IAI, "jelasnya.


 "Kami minta bantuan Ikatan Arsitek Indonesia yang sudah punya pengalaman rehab gedung olahraga, diminta bantuan Kementerian PUPR baik dalam perencanaan, pengawasan berkala, perbaikan pasca event sampai dengan berakhirnya pelaksanaan Asia Games XVIII Agustus 2018," ujar Adjar Prayudi, Direktur Bina Penataan Bangunan.


 Dalam renovasi dan rehabilitasi ini terdapat 14 bangunan venues di Komplels GBK yaitu  stadion utama, tenis indor dan outdoor, gedung stadion madya, gedung basket, lapangan hocky, lapangan sepak bola A/B/C, stadion renang, Istora Senayan,  lapangan latihan bulu tangkis,  gedung bola volley, lapangan soft ball dan lapangan bulu tangkis," katanya seraya menambahkan timnya sudah melihat langsung dokumen pembangunan GBK untuk Asian Games tahun 1962yang dibangun Rusia.

Disusun dengan dua skenario penanganan kegiatan yakni sistem kontrak konvensional dan sistem kontrak design and build diperkirakan  renovasi dan rehabilitasi Kompleks GBK akan selesai Juni 2017. Kementerian PUPR mulai mendapat tugas 5 Januari 2016, dan pada Mei 2016 sudah lelang konstruksinya, serta  Juli 2016 s/d Juli 2017 mulai pekerjaan fisik.

"Renovasi moderat maskudnya dulu mau membuat kualitas lingkungan  GBK lebih baik. Makanya akan disain tahun 2016 sampai 2018. Mengingat  waktu Juni 2017 harus selesai, maka kita pilih yang moderat. Dikembalikan kepada kondisi awal saat dibangun tahun 1962. Ini soal konseling waktu saja. Kalau mau membangun harus ada konsultan perancang terlebih dahulu , lalu dibuat detail desain engineering, ini yang konvensional," jelasnya.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang dana/anggaran, Adjar Prayudi minta maaf tak bisa sebut angkanya."Mohon maaf saya tak bisa sebut angkanya. Hitungan kasarnya saya belum dapat data yang sebenar-benarnya," kilahnya.

Namun, ia menyebutkan ada dana sebesar Rp 500 miliar dari Kementerian Pemuda dan Olahragayang "dipindahkan" ke Kementerian PUPR cq Ditjen Cipta Karya."Lainnya menggunakan dana-dana dari Ditjen Cipta Karya untuk direvisi dulu. Juga dapat tambahan dana dari APBN-P. Semua dananya bersumber dari APBN," jawabnya.(lasman simanjuntak)

Foto-foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini