Ads


» » » Prospek 2016: Pasokan Cabai dan Bawang Terjamin dan Harga Stabil

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Mengurai penyebab lonjakan harga cabai dan bawang merah tidaklah sederhana. Tidak bisa hanya dilihat dari pergerakan harga dalam 1-2 hari saja, namun harus dilihat dalam kurun waktu panjang. Kedua komoditas ini dalam waktu tertentu pernah jatuh dan petani menderita rugi. Namun pada saat tertentu harga melonjak tinggi. Berbeda dengan komoditas lainnya, karakteristik cabai dan bawang merah yang mudah rusak (perishable) dan fluktuasi harganya berkontribusi terhadap inflasi, sehingga Pemerintah memberi perhatian serius.

Stabilitas harga cabai dan bawang merah di Jakarta dapat dengan mudah dideteksi dari jumlah pasokan ke Pasar Cibitung.  Apabila tiap hari mampu memasok minimal 40 truk masuk ke pasar ini maka diyakini harga akan turun dan stabil, sebaliknya bila pasokan kurang dari 25 truk, maka harga akan merangkak naik. 

 Fluktuasi harga komoditas ini bukan karena kekurangan pasokan, melainkan karena pengaturan kontinuitas pasokan antar wilayah sentra cabai.  Tiga jenis cabai memiliki karakteristik berbeda, (1) jenis cabai besar untuk industri berkontribusi 20% dari total produksi, harganya relatif stabil; (2) cabai keriting berkontribusi 50% dari total produksi sedikit berfluktuasi, dan (3) jenis cabai rawit kontribusi 30% dari total produksi ini harganya berfluktuasi. Kurva harga cabai berbentuk huruf U ini dimana harga rendah saat kemarau karena panen cabai berbarengan.  Hal ini diatasi dengan pengaturan pola tanam, produksi dan rantai pasoknya.

Guna memenuhi pasokan secara cukup dan kontinu, Kementan secara cermat menghitung sebaran produksi berdasarkan geo-spasial dan dimensi waktu sehingga menjamin pasokan setiap hari dan telah dirancang kesiapan produksi harian/mingguan sampai dengan akhir tahun 2016.   

Seperti diketahui di 8 kota besar di Indonesia membutuhkan pasokan 48% dari total kebutuhan konsumsi nasional cabai merah besar; 24,8% cabai rawit dan 33% bawang merah.  Untuk itu lokasi pengembangan sentra produksinya diarahkan tidak terlalu jauh dari pusat kota besar.

Berdasarkan siklus tahunan, harga bawang merah akan naik pada saat musim hujan wilayah sentra andalannya seperti Brebes dan Majalengka saat hujan sedang menyiapkan lahannya untuk tanam padi. 

Mengatasi hal tersebut, Kementan sejak 2015 secara sistemik dikembangkan bawang merah besar-besaran minimal 1.000 ha di wilayah sentra lain yang tersebar di Bima, Sumbawa, Tapin, Enrekang, Pesisir Selatan, Kampar, Nganjuk, Probolinggo dan lainnya.   Pengaturan pola tanam, panen dan rencana produksi secara bulanan selama 2016 dengan target luas 129 ribu hektar telah dipetakan, perkiraan produksi 1,29 juta ton tersebar di sentra produksi bawang merah di Pulau Jawa akan memasok 73% dari total kebutuhan, Bali Nusa Tenggara 15% dan sisanya di Sumatera, Sulawasi dan lainnya.

Demikian juga guna memenuhi kebutuhan cabai di Seluruh Indonesia sekitar 150 ribu ton per hari ini, bila selama ini produksi cabai bertumpu pada musimnya.  Selama ini bulan November-Maret pasokan berkurang, maka kini \Kementan membuat terobosan mengembangkan cabai di luar musim (off season) yang dilengkapi dengan pompa air dan irigasi tetes, serta dipusatkan di Jawa Barat, dan Banten, diyakini akan mampu memasok kebutuhan Jabodetabek secara berkelanjutan.

 Pertimbangan geo-spasial dan waktu tanam dikembangkan cabai di sekitar Jabodetabek ini mengingat karakteristik cabai perishable dan konsumen menghendaki cabai segar sehingga cabai harus dipanen setiap pagi hari dan sore harinya sudah masuk ke pasar.

Direncanakan akan ditanam cabai besar 2016 seluas 152 ribu ha dn cabai rawit 188 ribu ha dengan perkiraan produksi 1,2 juta ton dan 940 ribu ton terdiri dari sentra di Pulau Jawa sebesar 51%;  Sumatera 17%, Sulawesi 4% dan sisanya dipasok dari wilayah lainnya.

Daya tahan cabai segar hanya satu-tiga hari saja, semakin rendah kesegaran semakin jatuh harganya.  Kementan memberikan solusi sistemik ini sekaligus juga untuk menekan disparitas harga cabai tinggi antara harga di petani dan di pasaran akibat susut hasil dan kerusakan cabai selama perjalanan ke pasar dan dari pasar ke konsumen.  Hal ini berbeda dengan bawang merah tidak terdapat disparitas harga yang terlalu jauh, mengingat bawang merah lebih tahan simpan dan tingkat penyusutan lebih rendah.

Komoditas cabai dapat dikembangkan di setiap jengkal lahan, Untuk itu agar Pemda Kabupaten/Kota juga mendorong pengembangan cabai di setiap lahan warga tersedia, di pekarangan rumah dan lainnya, sehingga mampu mencukupi kebutuhan cabai secara mandiri dan tidak bergantung pada daerah lain. 

Asosiasi Agribisnis Cabe Indonesia (AACI) pun bersepakat dengan petani, Kepala Desa dan Camat bersama penyuluh untuk menata pola tanam cabai setiap harinya, sehingga ada sejenis kalender tanam cabai di sentra cabai level desa, kecamatan, maupun kabupaten yang dikoordinasikan oleh Pemda setempat.

Selanjutnya agar swasta berinvestasi di cabai dan bawang merah dengan sistem contract farming, mengingat “pedes”nya harga cabai dan bawang merah juga akibat permintaan industri yang waktu lalu sebagian dipenuhi dari impor.

Hal yang perlu mendapat perhatian juga adalah pada sisi konsumen. Diperlukan perubahan kebiasaan konsumen, dari biasa mengkonsumsi cabai segar berpindah selera menjadi cabai kering tanpa merubah cita rasa sebagaimana yang telah berhasil dilakukan di India.(press release humas kementerian pertanian/lasman simanjuntak)

-o0o-

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini