breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Kinerja Satu Tahun Pembangunan Pertanian 2015

Share This


news

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Indonesia dengan penduduk 252 juta dan laju pertumbuhan penduduk 1,49% membutuhkan pangan dalam jumlah besar. Berbagai tantangan perlu dihadapi antara lain: (1) perekonomian global yang sangat dinamis, (2) harga pangan dunia yang fluktuatif, (3) perubahan iklim dan bencana alam. Pada sisi lain untuk menghadapi tantangan tersebut, juga diperlukan penguatan pada: (1) infrastruktur pertanian, (2) sarana produksi dan alat dan mesin pertanian, (3) permodalan petani dan (5) hilirisasi produk dan pemasaran hasil pertanian.

UPSUS swasembada pangan yang dilakukan satu tahun terakhir telah berdampak pada peningkatan produksi. Walaupun menghadapi kekeringan akibat El Nino, namun dengan upaya antisipasi yang baik melalui upaya khusus penanggulangan kekeringan, maka dampaknya tidak signifikan terhadap penurunan produksi.

Berdasarkan Angka Ramalan II BPS, produksi padi tahun 2015 diperkirakan 74,99 juta ton gabah kering giling (GKG) meningkat 5,85 persen dibandingkan tahun 2014. Produksi jagung tahun 2015 sebesar 19,83 juta ton meningkat 4,34 persen. Produksi kedelai tahun 2015 sebanyak 982,97 ribu ton biji kering atau meningkat 2,93 persen. Kenaikan produksi terjadi karena adanya peningkatan luas panen dan peningkatan produktivitas.

Peningkatan produksi padi yang juga diikuti dengan peningkatan produksi jagung dan kedelai secara bersamaan merupakan fakta yang patut kita syukuri. Hal ini karena umumnya peningkatan produksi padi diikuti turunnya produksi jagung dan atau kedelai. Hal ini sebagai dampak dari kebijakan bantuan di luar lokasi existing sehingga areal tanam bertambah 630 ribu ha.

Pada tahun 2015, Indonesia mengalami El-nino lebih kuat dari tahun 1997. Pada tahun 1998 Indonesia impor beras 7,1 juta ton dan apabila diinterpolasi dengan jumlah penduduk 1998 sebanyak 202 juta jiwa dan 2015 sebanyak 252 juta jiwa maka semestinta 2015 impor beras 8,9 juta ton.  Berkat antisipasi dini dan penanganan kekeringan secara masif, maka sejak Januari-Oktober 2015 tidak ada impor beras medium.

Keragaaan beras bulan Desember 2015 dimana ketersediaan beras 8,26 juta ton, terdiri stock di masyarakat 7,06 juta ton dan di Bulog pada 22 Desember 1,20 juta ton.  Stock beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) per 23 Desember 2015 sebesar 45.093 ton lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2014 dan standing crop per 18 Desember 2015 sebesar 4,24 juta hektar.

Kondisi kesejahteraan petani juga menunjukkan peningkatan dilihat dari Nilai Tukar Petani (NTP), dimana NTP pada bulan November 2015 sebesar 102,95 lebih tinggi dibandingkan dengan  NTP November 2014 sebesar 102,37.

Keberhasilan ini tentunya merupakan hasil kerja keras dan dedikasi dari tim work yang melibatkan Pemerintah, BUMN, swasta, 47.000 tenaga penyuluh, pendampingan dari 50.000 aparat TNI, 8.600 mahasiswa dan dosen, 10.000 anggota KTNA, dan seluruh petani di Indonesia.

Berbagai capaian kinerja peningkatan produksi pangan strategis merupakan hasil dari terobosan kebijakan/regulasi yang ditempuh, meliputi: (1) merevisi prosedur pengadaan dari Lelang menjadi Penunjukan Langsung untuk pengadaan benih dan pupuk (Perpres 172/2014) dan e-catalogue untuk pengadaan alat dan mesin pertanian (Alsintan), sehingga penyediaan benih, pupuk dan alsintan menjadi tepat waktu, sesuai musim tanam;  (2) refocusing anggaran Rp 4,1 triliun dari pos perjalanan dinas, rapat/seminar menjadi perbaikan irigasi dan penyediaan alsintan, sehingga setiap rupiah APBN berdampak terhadap output dan outcome; (3) bantuan saprodi/benih tidak di lokasi existing, sehingga menambah luas tanam; (4) kebijakan tidak dialokasikan anggaran pada tahun berikutnya bagi daerah yang  produksi padi, jagung dan kedelai menurun; (5) bekerja sinergis dan melepaskan ego-sektoral, sehingga terpadu mulai aspek hulu sampai hilir; (6) mengevaluasi serapan secara harian/mingguan dan (7) melakukan antisipasi dini terhadap dampak perubahan iklim melalui penanganan banjir, kekeringan serta serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Guna meningkatkan efisiensi usahatani dan mengatasi tenaga kerja, telah dilaksanakan program modernisasi pertanian melalui mekanisasi. Minat generasi muda pada pertanian meningkat seiring pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan).  Mekanisasi mencakup penyediaan 80 ribu alsintan: Rice Transplanter, Combine Harvester, Dryer, Power Thresher, Corn Sheller dan Rice Milling Unit (RMU), traktor dan pompa air.  Mekanisasi ini menghemat biaya produksi ±30% dan menurunkan susut panen 10%.

Kementerian Pertanian juga mendorong investasi secara besar-besaran, mencakup pengembangan industri gula, jagung dan sapi dengan komitmen kesiapan dari 35 investor dengan kebutuhan lahan 2 juta hektar, nilai investasi Rp 140 triliun dan akan menyerap tenaga kerja secara langsung 330.370 orang dan tenaga kerja tidak langsung lebih dari satu juta orang.(www.pertanian.today.com/www.pertanian.go.id/lasman simanjuntak)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama