breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Ekspor Bawang Merah Naik Tajam 219 Persen, Impor Turun 82 Persen

Share This

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sedang berdialog dengan  Wasiruddin, Amd, petani bawang merah dari Desa Karangwangun, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon saat gelar bawang merah 'murah' Rp 15.000/kg di halaman Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan,Rabu,  27 Januari 2016. Pada kesempatan itu Wasiruddin menolak dengan tegas di depan Mentan bahwa Indonesia tak perlu impor bawang merah karena produk bawang dalam negeri banyak , harga stabil, dan kualitas lokal juga sudah bagus. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Di era pemerintahan Jokowi-JK, Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil meningkatkan volume ekspor bawang merah dalam jumlah fantastis. Adanya eskpor tersebut, secara otomatis menurunkan volume impor bawang merah yang selalu mencekek petani.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebutkan ekspor bawang merah Indonesia pada tahun 2014 hanya 4.439 ton, sedangkan di tahun 2015 naik tajam mencapai 14.149 ton. Ini menunjukan terjadi kenaikan ekspor sebesar 219%. 

Selanjutnya, lanjut Mentan, impor bawang merah turun dari 87.526 ton pada 2014 menjadi 15.769 ton pada 2015. "Artinya impor bawang merah turun drastis 82 persen," kata Mentan Andi Amran Sulaiman di Jakarta,  Jumat (29/1/2016).

Menurut Mentan, adanya kenaikan volume ekspor bawang merah tersebut akibat kenaikan produksi. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), produksi bawang merah nasional tahun 2015 mencapai 1,265 juta ton, sedangkan kebutuhan hanya 947.385 ton. "Dengan demikian, produksi bawang merah nasional surplus 318.325 ton," ujarnya.

Terkait Indonesia masih mengimpor bawang merah, Mentan menjelaskan hal tersebut terjadi karena faktor tata niaga yaitu rantai pasok yang terlalu panjang atau terlalu banyak middle man yang terlibat memainkan harga. Sehingga pasokan bawang merah menjadi tidak stabil walaupun produksi nasional tercatat surplus. 

Untuk memangkas rantai pasok agar harga bawang merah yang dibeli konsumen stabil, Kementan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Perum Bulog sebagai lembaga stabisator harga pangan agar dapat melakukan upaya intervensi pasar bawang merah.

Langkah kongkret yang dilakukan Perum Bulog, lanjut Mentan, yakni membeli bawang merah langsung di tingkat petani dengan harga menguntungkan petani. Kemudian, melakukan penyimpanan stok bawang merah untuk digelontorkan saat pasokan bawang merah di pasar menipis. 

"Dengan upaya ini, kekurangan pasokan di bulan-bulan tertentu dapat dipenuhi sendiri tanpa harus impor," tutur Mentan.

Saat terjadi kenaikan harga bawang merah menjelang dan selama bulan Ramadhan tahun 2015, Perum Bulog sebagai stabilisator harga berhasil menstabilkan harga bawang merah nasional. Misalnya, harga bawang merah di Jabodetabek mencapai Rp 25.000 per kg menjadi stabil ke harga Rp 15.000 per kg.  

"Ini terjadi karena saat itu Bulog turun langsung membeli bawang merah di sentra produksi yakni di Brebes dan Bima," tegas Mentan.(press release/humas kementerian pertanian/lasman simanjuntak)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama