Ads


» » » Terkait Permentan No. 58 Tahun 2015, Pemerintah akan Terus Pantau Pelaksanaan Impor Daging Sapi

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Sehubungan dengan maraknya pemberitaan di beberapa media masa bahwa penerbitan Peraturan Menteri Pertanian No. 58 Tahun 2015 tentang pemasukan karkas, daging, dan/atau olahannya Ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia akan berdampak terhadap persaingan tidak sehat di tingkat pedagang daging sapi lokal dan akan merusak harga komoditas lokal.

 Dengan ini disampaikan beberapa hal dalam upaya meluruskan pemberitaan tersebut diatas, antara lain:
 
1.     Paket Kebijakan Ekonomi Jilid I telah mengamanatkan perlunya dilakukan deregulasi terhadap beberapa peraturan dan salah satunya adalah  Peraturan Menteri Pertanian No. 139 Tahun 2014 tentang pemasukan karkas, daging, dan/atau olahannya ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Deregulasi peraturan tersebut dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memberikan kelancaran dan kepastian, serta optimalisasi pelayanan pemasukan karkas, daging, dan/atau olahannya.

 Arahan substansi rancangan perubahan peraturan dimaksud telah diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas tingkat Menteri tanggal 25 September 2015 tentang Kebijakan penyediaan sapi dan daging sapi. Dalam perkembangannya rancangan perubahan peraturan dimaksud telah dibahas berulang kali ditingkat eselon II dan eselon I lingkup Kementerian Pertanian serta telah dilakukan beberapa kali public hearing terhadap seluruh stakeholder terkait.
2.     Perubahan prinsip dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 139 Tahun 2014, antara lain:
a.     Pemasukan (impor) daging dari jenis lembu (sapi) hanya dalam bentuk  potongan prime cut, daging industri dan daging variasi seperti tercantum dalam Lampiran I.
b.     Pemasukan daging dari jenis lembu dalam bentuk  karkas dan potongan secondary cut seperti tercantum dalam Lampiran III hanya apabila terjadi kekurangan ketersediaan daging sapi akibat terjadi wabah penyakit hewan dan/atau bencana, dan mengantisipasi gejolak harga. 

Pemasukan tersebut dapat dilakukan sewaktu-waktu dan hanya oleh BUMN atau BUMD setelah mendapatkan penugasan dari Menteri BUMN atau Gubernur berdasarkan hasil rapat koordinasi yang dipimpin oleh menteri yang melakukan sinkronisasi dan koordinasi di bidang perekonomian.
c.      Mewajibkan penyerapan daging sapi lokal sebanyak 3 (tiga) persen untuk importir umum dan 1,5 (satu koma lima) persen untuk importir produsen dari total jumlah daging sapi yang akan dimasukkan per periode. 
d.     Masa penyimpanan karkas dan daging  sejak waktu pemotongan ternak sampai tiba di wilayah NKRI paling lama 6 bulan  dalam bentuk beku/frozen dan paling lama 3 bulan dalam bentuk segar dingin /chilled
e.     Permohonan Rekomendasi diajukan secara on line  kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perijinan Pertanian, sebanyak 3 periode setahun yaitu: 1-31 Desember tahun sebelumnya, 1-31 April,  dan 1-31 Agustus tahun berjalan.
f.       Proses persetujuan/penolakan permohonan Rekomendasi maksimal 4 hari  kerja sejak permohonan diterima dan dilakukan secara on line. Masa berlaku rekomendasi selama 4 (empat) bulan dan dibuat tiga periode dalam satu tahun yaitu:  1) Periode kesatu berlaku mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 30 April; 2) Periode kedua berlaku mulai tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Agustus; 3) Periode ketiga berlaku mulai tanggal 1 September sampai dengan 31 Desember.

 Rekomendasi disampaikan langsung kepada  Portal INSW  dengan tembusan pemohon.
3.     Item jenis potongan daging variasi dalam Permentan No. 58/2015 seperti tercantum dalam Lampiran I meliputi: 1) buntut (ox tail); 2) lidah (tounge); 3) bibir (lips); 4) daging kepala (head meat); 5) urat (tendon). Buntut dan lidah termasuk dalam jenis potongan daging variasi yang dicantumkan dalam peraturan sebelumnya (Peraturan Menteri Pertanian No. 139/2014) meliputi potongan utama dan jenis potongannya. Pengaturan pemasukan buntut dan lidah sama dengan pengaturan dalam Permentan No. 58/2015. Sedangkan penambahan item jenis potongan pangkal lidah, bibir dan daging kepala dalam item potongan daging variasi tersebut dilatar belakangi:
a.    Memenuhi persyaratan keamanan dan kehalalan:
-       Daging variasi tidak memiliki risiko mengancam kesehatan manusia maupun hewan, selain itu semua daging termasuk daging variasi harus memenuhi standar keamanan dan kehalalan yang dipersyaratkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
-       Daging variasi adalah daging yang diperoleh dari bagian sapi diluar karkas. Dalam Permentan No. 58/2015, jenis item potongan daging variasi yang dapat dimasukkan hanya terbatas pada lima (5) item tersebut diatas.
b.    Dimungkinkan secara hukum:
-       Undang-undang No. 18 Tahun 2009 Jo. Undang-undang No. 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa pemasukan produk hewan dilakukan apabila produksi dan pasokan di dalam negeri belum mencukupi kebutuhan masyarakat.
-       Saat Indonesia merasionalisasi (pengetatan) pemasukan daging sapi pada tahun 2011 melalui penerbitan Peraturan  Menteri Pertanian No. 50/2011, kelima item jenis potongan dimaksud masih tercantum dalam Lampiran produk yang dapat dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia.




Kelima item jenis potongan dimaksud juga tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri Pertanian No. 84/2013 yang merupakan revisi terhadap Peraturan  Menteri Pertanian No. 50/2011.
c.    Dibutuhkan untuk memenuhi permintaan HOREKA dan Industri
-       Kelima jenis item potongan daging variasi tersebut dibutuhkan untuk memenuhi permintaan HOREKA dan Industri, sementara penyediaan di dalam negeri jumlahnya terbatas dengan harga yang tidak kompetitif khusus sebagai bahan baku industri pengolahan daging skala kecil dan menengah.
-       Dengan dibatasinya pemasukan potongan daging secondary cut, maka diperbolehkannya kembali kelima jenis item potongan daging variasi tersebut menjadi pilihan memperoleh bahan baku yang terjangkau dan pada gilirannya diharapkan mendorong pertumbuhan HOREKA dan Industri dan mampu menyediakan produk yang memiliki daya saing tinggi.
d.    Tidak akan merusak harga daging lokal
-       Persentase kelima jenis item potongan tersebut dari satu ekor sapi jumlahnya sangat kecil (1,6% dibandingkan bobot karkas), sehingga tidak mungkin dapat mempengaruhi harga daging yang persentasenya jauh lebih besar.
-       Tujuan penggunaan daging impor (termasuk daging variasi) hanya untuk HOREKA dan Industri dan dilarang dijual di pasar tradisional sehingga tidak akan mendistorsi harga daging lokal.
-       Saat Peraturan Menteri Pertanian No. 84/2013 berlaku mulai September 2013 sampai dengan akhir tahun 2014, kelima jenis item potongan daging variasi tersebut diperbolehkan untuk dimasukkan secara bebas dan tanpa ada batasan (alokasi), namun harga daging sapi di dalam negeri tidak pernah turun dan cenderung stabil tinggi.
Memperhatikan hal tersebut di atas, pencantuman kelima item jenis potongan daging variasi dalam Lampiran Peraturan Menteri Pertanian No. 58/2015  tidak akan memicu persaingan tidak sehat di tingkat pedagang sapi lokal apalagi merusak harga komoditas lokal. 

Pemerintah akan terus memantau pelaksanaan impor daging sapi, dan apabila impor tersebut dapat mengganggu komoditas lokal, maka peraturan menteri tersebut akan segera dievaluasi.


JENIS DAGING VARIASI YANG DAPAT DIMASUKKAN KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SESUAI PERATURAN MENTERI PERTANIAN DARI TAHUN 2011 – 2015

NO
PERMENTAN NO. 50/2011
PERMENTAN NO. 84/2013
PERMENTAN NO. 139/2014
PERMENTAN NO. 85/2015
(UNTUK 2016)
1
Lidah (Tounge)

Lidah (Tounge):
-     Lidah potongan panjang
(Tounge-long cut)
-     Lidah potongan pendek
(Tounge-short cut)
-     Lidah potongan spesial
(Special trim Tounge)
-     Lidah potongan swiss spesial
(Swiss cut special trim)
-     Tetelan lidah/pangkal lidah
(Tounge root/ Tounge triming)

Lidah (Tounge):
-     Lidah potongan panjang
(Tounge-long cut)
-     Lidah potongan pendek
(Tounge-short cut)
-     Lidah potongan spesial
(Special trim Tounge)
-     Lidah potongan swiss spesial
(Swiss cut special trim)

Lidah (Tounge):
-     Lidah potongan panjang
(Tounge-long cut)
-     Lidah potongan pendek
(Tounge-short cut)
-     Lidah potongan spesial
(Special trim Tounge)
-     Lidah potongan swiss spesial
(Swiss cut special trim)
-     Tetelan lidah/pangkal lidah
(Tounge root/ THROAT trim)

2
Bibir (Lips)

Bibir (Lips)

-
Bibir (Lips)

3
Daging Kepala (Head Meat)

Daging Kepala (Head Meat)

-
Daging Kepala (Head Meat)
Daging pipi (Cheek meat)
4
Urat (Tendon)

Urat (Tendon)

-
Urat (Tendon)

5
Buntut (tail)

Buntut (tail)
-     Potongan buntut (Tail pieces)
Buntut (tail)
-     Potongan buntut (Tail pieces)
Buntut (tail)
-     Potongan buntut (Tail pieces)
6

Tulang leher (Neck bone)
-
-
-


(Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan /Humas  Kementan/Lasman Simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini