breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Petani Menikmati Harga Pangan Wajar

Share This

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Mengurai penyebab lonjakan harga pangan tidaklah sederhana. Kebutuhan pangan yang tinggi menjelang dan pada saat hari raya/libur nasional seolah menjadi alasan valid penyebab naiknya harga pangan. Jangan-jangan ini hanya ‘persepsi rutinitas’ yang dibangun opini tahunan oleh ‘orang tertentu’ untuk ‘mengail di air keruh’. Wilayah yang paling rentan terhadap gejolak harga pangan terdapat di kota-kota besar, namun dipelosok lainnya ternyata pangan cukup dan harga juga normal.

Jangan sampai penanganan pangan hanya mendasarkan pada pergerakan harga dalam 1-2 hari dan terpengaruh oleh opini yang beredar. Kebijakan pangan janganlah mengambil jalan pintas dengan impor sebagai satu-satunya solusi meredam gejolak harga pangan. Perlu dipahami trend harga dari waktu ke waktu, sebab komoditas pangan dalam waktu tertentu pernah jatuh dan petani menderita rugi, sedangkan pada saat tertentu harga melonjak tinggi. Karakteristik jenis pangan dan fluktuasi harga ini turut terkontribusi terhadap inflasi, inilah yang menjadikan pemerintah memberikan perhatian khsusus.

Fakta menunjukkan terjadi ‘anomali’ harga beras di tingkat eceran dengan harga gabah di petani. Berdasarkan data harga beras bulanan di tingkat eceran sejak 2011-2015 diketahui bahwa harga beras setiap bulan cenderung naik walaupun pasokan berfluktuasi naik dan turun sesuai dengan musimnya. Hal ini menunjukkan tidak ada korelasi antara pasokan dengan harga eceran beras. Kenaikan harga beras ini tidak dinikmati oleh petani.


Harga cenderung tinggi ini bukan akibat kurangnya pasokan beras, melainkan factor lain seperti tahun 2015 tidak ada subsidi BBM sehingga biaya input naik, impor pangan dikendalikan, nilai kurs inflasi dan adanya ‘kegagalan pasar’ di tingkat eceran. Mengatasi gejolak harga dalam kondisi ‘pasar gagal’ ini semestinya dengan investasi pemerintah sehingga terjadi pasar bersaing sempurna.

Kondisi sebaliknya terjadi pada harga gabah ditingkat produsen. Pasar gabah di produsen pada saat musim panen raya harga akan jatuh dan sebaliknya pada musim gadu harga akan naik. Kebijakan pemerintah melindungi petani sudah tepat dengan menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan diikuti pembelian gabah/beras petani langsung oleh Bulog. Dengan demikian produksi petani berupa padi ARAM II tahun 2015 sebesar 74,99 juta ton, jagung 19,83 juta ton, dan kedelai 982,97 ribu ton atau masing-masing naik 5,85 persen, 4,34 persen, dan 2,93 persen dibandingkan 2014 sudah tentu meningkat kesejahteraan petani, karena petani menikmati harga yang wajar dan dilindungi oleh kebijakan HPP.

Parameter bahwa terjadi peningkatan kesejahteraan petani juga bisa dilihat dari nilai tukar petani (NTP) nasional yakni pada November 2015 sebesar 102,95 (di atas 100) dan lebih tinggi dibandingkan 2014. Selanjutnya nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTURTP) nasional yaitu di November 2015 sebesar 109,38 atau naik 0,63 persen dibandingkan NTURTP bulan sebelumnya.

Penurunan harga BBM yang akan berlaku pada Januari 2016 tentunya akan berpengaruh terhadap pertanian, baik berpengaruh pada efisiensi usaha tani maupun transportasi. Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk kegiatan proses produksi dan pascapanen membutuhkan BBM terutama jenis solar. Kebutuhan BBM untuk alsintan diperkirakan 0,9 persen dari total BBM. Rencana penurunan harga solar akan menghemat biaya bahan bakar traktor roda 2 sekitar Rp 168.750 per unit per musim, pompa air Rp 750.000 per unit per musim, power thresher Rp 405.000 per unit per musim dan lainnya. Demikian juga biaya angkut hasil petani ke pasar akan dihemat yang besarnya tergantung jenis kendaraan dan status kepemilikan yaitu milik sendiri atau sewa. (press release humas kementan/lasman simanjuntak)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama