Ads


» » » Mentan Andi Amran Sulaiman : Pemerintah Tak Anak Tirikan Sawit

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Nusa Dua, BeritaRayaOnline,-Ribuan peserta konferensi sawit internasional (International Palm Oil Conference/IPOC 2015) yang dihelat di Nusa Dua, Badung, Bali akhir pekan lalu, memberikan aplaus meriah saat Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan dukungannya pada komoditas ini. Amran, selama ini dikenal banyak mengurusi sektor pertanian seperti padi.

“Jadi bukan kami tidak mencintai bapak (pengusaha kelapa sawit), tapi kami mencintai,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Menteri yang selalu tampak bugar ini pun menceritakan di hadapan peserta konferensi yang juga berasal dari berbagai negara bahwa sejak 15 tahun silam, dirinya sudah berkutat dengan sawit. Bahkan sawit baginya pembawa hikmah.

Melalui sawit inilah dirinya bisa mengetahui metode mengendalikan hama tikus dan babi.
Dikisahkannya, 15 tahun lalu perkebunan sawit di Indonesia Timur terkena hama tikus dan babi. Amran pun ditunjuk mengendalikan hama tersebut. Ia bahkan bisa menemukan racun tikus yang disebutnya Tiran. “Tikus diracun Amran,” selorohnya.

Hama babi dia taklukkan dengan metode pengendalian selama 24 jam. Dengan metode itu, sebanyak 2.341 ekor babi bisa ditaklukkan. Tugas pengendalian hama berhasil. Selanjutnya, Amran mengaku bisa menanami 1.179 hektare lahan dengan kelapa sawit hanya dalam waktu 3 bulan.

Jadi, tak ada alasan baginya untuk bersikap tak adil terhadap komoditas yang menyumbang devisa cukup besar ini, karena dirinya sangat dekat dengan sawit.

Tahun 2015 devisa hasil sawit dan turunannya mencapai Rp 250 triliun. “Ini kan sangat luar biasa,” katanya.

Amran memaparkan saat ini, ada 3 komoditas yang masuk unit gawat darurat (UGD), termasuk padi dan juga kedelai dan bawang merah. “Kelapa sawit tidak masuk ICU. Organisasi dan industri kelapa sawit sudah kuat,” tuturnya.

Bagaimana tidak, data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) menunjukkan sampai dengan akhir 2014, produksi minyak kelapa sawit Indonesia 31,5 juta ton. Dari jumlah itu, 21,7 juta ton diekspor.

Alasan kedua terkait organisasi kelapa sawit yang sudah kuat. Amran mengaku tidak menjumpainya di sektor pertanian padi. Itulah sebabnya pertanian padi memerlukan perhatian khusus pemerintah.
Ada sekitar 80 juta orang yang hidupnya tergantung pada padi. Bila dibandingkan sektor pertanian lain, misalnya padi dan cabai, nasib kelapa sawit masih lebih baik.

“Ini, harga sawit turun sedikit, disebut pak menteri menganaktirikan sawit,” ucap Amran berseloroh sambil me-nambahkan belum tentu para pengusaha sawit mau bertukar dan menjadi petani padi.
Ia juga mengajak semua industri sawit dari Indonesia dan Malaysia bekerja sama. Terlebih setelah terbentuknya Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC), untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

Indonesia-Malaysia adalah produsen 85 persen pasar sawit global. Amran memperkirakan produksi CPO tahun ini mencapai 30 juta ton. Dengan produksi sebesar ini, Indonesia dan Malaysia dapat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan CPO dunia.

Selain berpengaruh karena pencapaian devisa ekspornya yang tinggi, kelapa sawit juga memiliki peranan penting bagi kesejehteraan masyarakat petani. Dari jumlah lahan sawit petani seluas 4 juta ha, ada sekitar 20 juta orang menggantungkan hidupnya pada industri ini.

Adapun total lahan sawit di Indonesia mencapai 109 juta hektare. Namun, dia meminta agar lingkungan tetap menjadi perhatian para pengusaha sawit.

“Bukan berarti kami tidak peduli dengan lingkungan. Orangutan saja kita lindungi dan mendapatkan perhatian dunia, apalagi petani dan masyarakat sekitarnya. Cara pandangnya harus kesejahteraan manusia, bukan hanya lingkungan.

"Ada saudara-saudara kita yang harus dijaga dan diprioritaskan,” tuturnya.

Dia lalu kembali mengingatkan, peran kelapa sawit ke depan akan semakin besar dan strategis. Bukan hanya sebagai food, tetapi juga feed, dan fuel. Tidak hanya menghasilkan kelapa sawit, namun juga mendukung upaya swasembada pangan dan daging serta pemanfaatannya untuk biodiesel dari B15 menjadi B30 pada 2020.

Mentan mencatat tiga hal penting penyebab industri perkebunan sawit bernilai dan berharga. Pertama, crude palm oil atau minyak kelapa sawit mentah, merupakan sumber untuk makanan dan kehidupan di dunia. Kedua, karena menjadi produsen terbesar di dunia, Indonesia tentu mempunyai agenda penting. “Jangan dilupakan bahwa pengembangan korporasi kelapa sawit harus seimbang dengan pengembangan petani plasma dan usaha-usaha kecil masyarakat,” katanya. (lasman simanjuntak)
sumber berita : hu.suara karya

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini