breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono : 2016 Tak akan Keluarkan Rekomendasi Impor Bawang Merah

Share This

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr.Ir.Spudnik Sujono, K, MM, dalam jumpa pers di kantornya di kawasan Pasar Minggu , Jakarta Selatan, Senin siang (21/12/2015) mengenai stabilisasi pasokan bawang merah dan cabai  sedang memperlihatkan produksi bawang putih dari  Kabupaten Bima, NTB. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Dr.Ir.Spudnik Sujono, K, MM, menegaskan tahun 2016 pihaknya tak akan mengeluarkan rekomendasi impor bawang merah baik untuk industri dan benih.

"Tahun 2014 impor bawang merah mencapai 87.526 ton, dan tahun 2015 impor mencapai 15.769 ton. Namun , sampai semester II Juni 2015 tak ada lagi impor bawang merah. Menteri Pertanian minta stop impor," jelasnya kepada wartawan di Jakarta, Senin siang (21/12/2015) mengenai stabilisasi pasokan bawang merah dan cabai sampai akhir Desember 2015.

Menurut Dirjen Hortikultura tahun depan Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, tidak ada memberikan rekomendasi impor bawang merah baik untuk industri maupun benih.

"Impor bawang merah dari India harganya mencapai US$ 240, sedang di Indonesia Rp 348/kg.Kita tak mau bersaing. Inilah salah satu yang juga menyebabkan bawang putih kita 'mati suri'.Impor dibuka, loss, Rp 4,5 triliun untuk impor bawang putih. Namun,  bawang putih lokal dari Bima, tetap tak bisa bersaing dengan bawang putih impor," katanya.

Teks Foto : Dirjen Hortikultura Dr.Ir.Spudnik Sujono memperlihatkan foto hamparan tanaman bawang merah di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang ditanam di lereng-lereng dan harus memiliki sumber air yang banyak . (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline) 


Pada kesempatan tersebut Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian Dr.Ir.Spudnik Sujono, K,MM, dalam press release stabilisasi pasokan bawang merah dan cabai menjelaskan langkah-langkah yang sudah dilakukan sejak Oktober-Desember 2015, pertama, pemantauan langsung di lapangan meliputi potensi produksi, luas tanam, dan rencana panen.

"Pemantauan harga yang diawali dari Bima, Majalengka, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Tegal, Grobogan, Demak, Pemalang, Wonosobo, Probolinggo, Nganjuk, dan Malang. Kedua, melakukan koordinasi dengan industri seperti PT.Heinz ABC, PT.Indofood, dan PT.Wings, asosiasi, penangkar benih bawang, dan pedagang pasar induk," ujarnya.

Ketiga, untuk pengamanan produksi Desember 2015-Maret 2016 telah dilakukan revisi kegiatan untuk pengadaan benih di sentra produksi  utama. Keempat, memfasilitasi kerjasama antara pedagang pasar induk dengan kelompok tani champion di sentra produksi Jawa dan NTB yang direalisasikan tahap pertama sebanyak 5 ton dalam upaya menstabilisasi harga.  

Kelima, melakukan koordinasi dengan Bulog untuk operasi pasar. Memfasilitasi kerjasama tiga pihak (Bulog, pelaku usaha, dan Poktan) untuk menghindari barang tidak terserap atau pengalaman OP menjelang Ramadhan Juni lalu.

 Keenam, telah dilakukan pertemuan dengan Poktan sentra produksi dan petugas untuk konsolidasi dalam pelaksanaan pola tanam sesuai dengan kebutuhan pasar Ketua Poktan membuat pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan produksi dan mengendalikan harga pada tingkat harga wajar di pasaran yang diketahui oleh Kadis pertanian kabupaten/kota.(lasman simanjuntak)




«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama