Ads


» » » Petani Jagung Hibrida di Tanah Karo Minta Pemerintah Stop Impor Jagung

S.Sembiring (62 tahun) Ketua Gapoktan Sirehulo yang membawahi 14 kelompok tani jagung (800 petani) dengan areal seluas 1700 hektar di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, yang merupakan sentra produksi jagung hibrida terbesar di Provinsi sumatera Utara. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Tanah Karo, BeritaRayaOnline,- Para petani jagung hibrida untuk pakan ternak (proyek jagung upsus-red) di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara minta kepada pemerintah untuk segera stop impor jagung terutama untuk kebutuhan pabrik pakan ternak di Kota Medan Sumatera Utara.

Hal ini dikarenakan masuknya impor jagung dari Malaysia, India, dan China telah menyebabkan harga jagung pada panen raya jatuh dan sangat merugikan para petani khususnya di Tanah Karo yang merupakan sentra terbesar jagung untuk Provinsi Sumatera Utara.

Demikian hasil wawancara langsung wartawan BeritaRayaOnline dengan para petani jagung hibrida di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (6/11/2015).

"Stop impor jagung. Kami tidak setuju kalau masuk jagung dari luar karena harga jagung di tingkat petani lokal akan anjlok .P ada saat panen raya harganya bisa jatuh sampai Rp 2400 per kilogram per pipil dengan kadar air 17 persen. Kami mohon Menteri Pertanian Bapak Andi Amran Sulaiman harus segera menyetop  impor jagung ini,"pinta S.Sembiring (62 tahun) Ketua Gapoktan Sirehulo yang membawahi 14 kelompok tani jagung (800 petani-red) dengan areal seluas 1700 hektar kepada wartawan BeritaRayaOnline di hamparan tanaman jagung di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (6/11/2015).

Teks Foto : Hamparan tanaman jagung di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Tanah Karo, Sumut. Pada kawasan tanaman jagung ini tiap petani memiliki 2 hektar sampai 3 hektar. (Foto: Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)


Hal yang sama juga dikatakan petani jagung  (penggarap jagung  seluas 1,6 Ha asal Parusuan Jawa Timur-red) bernama Seno."Kurang setuju impor jagung.Bila jagung luar masuk, harganya di tingkat petani bisa jatuh. Hancur deh kalau impor terus....ini yang bikin rusak," tegasnya seraya menambahkan memang ia pernah mendengar impor jagung ke Provinsi Sumatera Utara berasal dari Malaysia dan India.

Permintaaan stop impor jagung juga dilontarkan James Ginting, pengumpul jagung di Gudang Lao Gembong, di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Tanah Karo, Sumut, yang ditemui wartawan BeritaRayaOnline, Jumat siang (6/11/2015) .

"Tak setuju jagung impor. Harga jagung pasti langsung turun bila impor jagung," katanya.

Sementara itu Munarta Ginting, SP, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo, Sumut, yang ditemui wartawan BeritaRayaOnline di kantornya di Kabanjahe, Jumat siang 96/11/2015) mengakui impor jagung yang masuk ke Provinsi Sumatera Utara berasal dari India, China, dan Malaysia.

"Memang untuk langsung stop impor jagung tidak mungkin. Namun, sebaiknya impor jagung bisa diatur waktunya. Sebab jangan sampai saat petani panen raya, impor jagung masuk. Di sinilah harga jagung di tingkat petani lokal langsung anjlok ," jelasnya. (lasman simanjuntak)




eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini