Ads


» » » Munarta Ginting : Sebaiknya Impor Jagung Jangan Bersamaan dengan Panen Raya

Munarta Ginting, Sp, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Kabupaten Karo, Sumatera utara. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaonline)

Tanah Karo, BeritaRayaOnline,-Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo, Sumatera utara, Munarta Ginting, meminta kepada pemerintah sebaiknya impor jagung dari Malaysia, India, dan China-khususnya untuk kebutuhan pabrik pakan ternak di Medan dan sekitarnya- tidak dilakukan pada saat bersamaan dengan panen raya jagung karena akan mengakibatkan anjlok-nya harga jagung yang dijual pengumpul dan petani dari Tanah Karo.

Permintaan ini disampaikannya kepada wartawan BeritaRayaOnline di kantornya di Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara, Jumat siang (6/11/2015).

"Panen raya jagung di Tanah Karo, Sumatera Utara,  akan dimulai pada akhir Desember 2015. Dan, puncak panen raya akan terjadi pada Januari sampai Februari 2016. Harapan saya rekomendasi impor jagung dari Kementerian Pertanian  jangan diberikan atau dikeluarkan pada saat petani panen raya jagung," imbaunya.

Diakui oleh Munarta Ginting, sarjana pertanian alumnus Universitas Nomensens Medan ini, memang untuk memenuhi kebutuhan jagung bagi pabrik pakan ternak sebanyak 1,5 juta ton di Sumut dirasakan masih kurang.

"Saya sudah tanya-tanya kepada pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) di Medan untuk saat ini kebutuhan jagung bagi pakan ternak sebesar 1,5 juta ton, sedangkan produksi jagung dari Tanah Karo baru mencapai 500 ribu ton per tahun. Jadi pengusaha pakan ternak masih butuh 1/3-nya lagi yang bisa dipenuhi dari impor jagung. Kami tidak hambat impor jagung, tetapi mereka  juga harus tahu kapan saat petani panen raya jagung," jelasnya.

Teks foto : Areal tanaman jagung hibrida di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Jumat (6/11/2015). Siap panen raya sebesar 500 ribu ton mulai akhir Desember 2015, dan puncaknya pada Januari-Februari 2016. (Foto: Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)


 Tentang impor jagung ini- suatu kali dalam suatu pertemuan dengan para pengusaha yang tergabung dalam GPMT di Kantor Gubernuran Sumatera Utara- Munarta Ginting pernah menerima perkataan begini," Pak Munarta Ginting....itu 'kan kita belinya bukan hari ini, besok datang.Kedua, pada saat beli harusnya mau jalan, tetapi karena ada ombak besar, kapal tak bisa berlayar.Pada saat kapal tiba di Pelabuhan Belawan yang membawa impor jagung, pada saat itu pula para petani lokal sedang panen raya jagung."

Munarta Ginting-mengaku sebelum jadi PNS sempat jadi pedagang jual beli jagung-pada saat masuk impor curah, memang biaya sedikit diturunkan, dan itu tidak menjadi masalah. Namun, di-refraksi pemotongan per kadar air ."Di situ mereka 'mainkan' kadar air  tidak di atas 17 %, sehingga harga jagung menjadi turun," ucapnya.

Disebutkan ,  refraksi atau konversi harga karena tidak sesuai standar. Misalnya, petani dan pengumpul menjual jagung ke pabrik pakan ternak harga sudah disetujui Rp 2500/kg sampai Rp 3000/kg kadar air 17 %. Namun, sampai di sana pihak pabrik bilang karena kadar air tidak di atas 17 % harga lalu ditawar refraksi atau di-konversi dari kadar air 20 % jadi 17 %, sehingga harga jagung bisa turun menjadi Rp 2000/kg.

"Di sinilah sering terjadi "dimainkan"  refraksi itu," selanya.

"Sebenarnya kita tidak minta stop impor jagung,' kan distop tidak mungkin.Namun,  bisa diatur kapan impor jagung dan kapan pula panen raya jagung. Jadi impor jagung jangan bersamaan dengan panen raya jagung para petani. Ini yang bisa menyebabkan kerugian yang diderita para petani jagung," katanya mengakhiri keterangan. (lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini