breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Mentan Andi Amran Sulaiman Berikan Alasan Kenaikan Harga Beras

Share This

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Bogor, BeritaRayaOnline,-Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan alasan terkait harga beras naik di tengah surplus produksi padi disebabkan oleh pergeseran jenis dari medium menjadi premium (nonsubsidi).

"Karena El Nino, kan itu kering juga panas, sehingga produksi fotosintesis padi maksimal, ketika sudah kualitas maksimal maka dikategorikan beras premium, bukan medium lagi," kata Mentan Andi Amran Sulaiman usai menghadiri acara "Karnaval Festival Bunga dan Buah Nusantara (FBBN) " di Bogor, Jawa Barat, Minggu (29/11/2015).

Ia juga menjelaskan, kondisi saat ini lebih banyak beras berkualitas premium daripada medium, sehingga harganya pun lebih banyak yang berkisar nonsubsidi.

"Tapi walaupun banyak premium, secara kuantitas juga lebih banyak dari tahun sebelumnya, setiap hari Senin, masuk di Cipinang 5.000 ton, sebelumnya hanya 3.000 ton," katanya.

Sedangkan sebelumnya, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Hasil Sembiring mengatakan penemuan harga beras yang masih naik karena gabah kering masih banyak disimpan oleh masyarakat dalam jumlah yang banyak.

"Kalau beras itu tidak bisa disimpan lama, nah jika gabah kering lain hal, karena mampu bertahan hingga satu tahun lebih, makanya bisa mempengaruhi distribusi," kata Hasil Sembiring.

Ia juga menjelaskan, semua pemangku kepentingan memiliki informasi yang sama mengenai distribusi, menurutnya distribusi dari titik satu ke titik yang lain tidaklah lancar.

"Kami menemukan 24 ribu ton disimpan di suatu daerah, selain itu gabah kering juga disimpan, nah ini trik yang dimainkan," katanya.

Hal tersebut menjadi polemik, karena produksi padi mengalami surplus namun harga beras di beberapa daerah justru mengalami kenaikan, bahkan pemerintah justru mencanangkan impor beras.

Kementerian Pertanian mengklaim produksi padi dari Oktober 2014 sampai Oktober 2015 surplus karena tidak ada impor beras umum pada periode tersebut.

"Produksi padi berlebih, ini hasil terbaik dalam lima tahun terakhir," katanya. (ant/elshinta.com/lasman simanjuntak)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama