breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Distribusi Benih Subsidi Tahun Ini Kembali Alami Gangguan Penyaluran

Share This

Benih sering terlambat datang saat petani mulai tanam sampai hari ini masih dialami para petani jagung hibrida di Tanah Karo , Sumatera Utara, sehingga dapat menganggu produksi dan produktivitas. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta ,BeritaRayaOnline,-Distribusi benih subsidi tahun ini kembali mengalami gangguan penyaluran karena persoalan perusahaan keuangan penyalur benih. Tahun ini 2 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri (SHS) mendapat tugas menyalurkan benih subsidi melalui penunjukan langsung.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Hasil Sembiring mengungkapkan penyebab masalah tersebut yaitu kondisi BUMN benih yang bertugas menyalurkan benih tengah kolaps dan menanggung beban defisit keuangan.

"Sesuai peraturan pemerintah, penyaluran benih bersubsidi hanya bisa dilakukan oleh BUMN benih. Penyaluran benih subsidi terhambat karena kondisi BUMN benihnya saat ini sedang kolaps dan menanggung defisit," kata Hasil Sembiring  ditemui usai Rakernas Kementerian Pertanian di Hotel Bidakara,  Jakarta, Senin (9/11/2015).

Ada dua BUMN benih yaitu PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri (SHS) yang bertugas menyalurkan benih subsidi. Buruknya kondisi keuangan kedua BUMN ini, khususnya SHS, berakibat pada terhambatnya penyaluran benih bersubsidi ke petani.

"Terlihat dari subsidi serapan anggaran penyaluran benih bersubsidi yang masih rendah. Baru terserap sekitar 60.000 ton atau baru 10% yang terserap. Kondisinya memang BUMN penyalurnya kolaps. Bukan karena barang tidak ada, tapi karena BUMN ini dalam keadaan koma," jelas Hasil.

Meski demikian, tanggung jawab pemerintah tetap harus dilaksanakan untuk menjamin ketersedian bantuan benih subsidi di tingkat petani. Solusi yang diusulkan Hasil, salah satunya restrukturisasi keuangan BUMN yang kolaps.

"Utang-utang mereka perlu di-reschedule ulang. Perlu ditambah penyertaan modal negara (PMN). Memang ada Rp 250 miliar ke masing-masing BUMN tapi masih di hold kan. Paling tidak kalau PMN ini cair bisa membantu memperbaiki modal," jelasnya.

Langkah pertama dan utama, kata Hasil, sehatkan dulu BUMNnya dan perbaiki manajemen BUMN penyalur benih. "Saran saya dimerger saja dua BUMN itu. Kalau BUMNnya nggak sehat, nggak akan pernah bisa tersalur benih subsidinya," kata Hasil.

Kementerian Pertanian mengantisipasinya dengan menaksimalkan progran desa mandiri benih dengan membantu benih pada para penangkar benih secara langsung tanpa perantara BUMN.

"Program kita penangkaran benih bisa mengcover 2,6 juta hektar lahan itu lancar karena tidak melalui mekanisme BUMN, tapi melalui penangkar lokal. Sebenarnya benih di petani kan banyak seperti yang digalakan melalui program GP-PTT (Gerakan Penerapan-Pengelolaan Tanaman Terpadu)," tambahnya.

Alokasi anggaran tahun 2016 untuk penyediaan benih padi dari Kementerian Pertanian mencapai Rp 1 triliun dinilai mampu menyuplai kebutuhan seluas 4 juta hektar lahan.

"Masih ada alokasi Rp 1 triliun tahun 2016. Ada uangnya sudah resmi di badan anggaran DPR bisa dicairkan untuk bantu benih sekitar 4 juta hektar," katanya.(detikfinance.com/lasman)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama