breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Cost Produksi Jagung di Tanah Karo Terbilang Mahal karena Petani Gemar Gunakan Bahan Kimia

Share This

Masalah pupuk terlambat saat musim tanam dimulai sampai saat ini masih dihadapi para petani di Tanah Karo, Sumatera Utara.Tampak dalam gambar yang diambil, Jumat 96/11/2015) pupuk NPK untuk keperluan para petani jagung hibrida di Desa Perbesi, Kecamatan Tiga Binanga, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Kabanjahe, BeritaRayaOnline,-"Kami sebagai aparatur negara memang kurang memberikan penyuluhan sehingga cost produksi  jagung di sini (Tanah Karo-red) terbilang mahal karena masyarakat petani masih gemar atau percaya pada penggunaan kimia yang berlebihan sehingga menyebabkan keracunan tanah," ujar Munarta Ginting, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, dalam wawancara khusus dengan BeritaRayaOnline di Kabanjahe, Jumat siang (6/11/2015).

Menurutnya, para petani jagung di Tanah Karo masih gunakan pupuk kimia tinggi, bahkan hampir mencapai 800 kilo pemupukan jagung per hektar-nya.

"Saya sudah bilang kepada para penyuluh untuk membikin demplot-demplot kecil yang penggunaan bahan kimianya dikurangi karena ini berpengaruh pada cost produksi," jelasnya.

Munarta Ginting menyebutkan kalau  kita lihat Break Event Point (BEP) dengan produksi yang tinggi itu 'kan produktivitas yang jadi mahal.

"Cost di BEP hampir 1900 untuk BEP dari jagung. Kalaupun produksinya besar, tetapi margin atau keuntungan kecil karena tingginya biaya produksi tersebut," katanya.

Sedangkan kendala atau masalah lainnya yang masih dihadapi para petani jagung di Tanah Karo, Provinsi Sumatera Utara yaitu soal pengadaan pupuk.

"Produktivitas sangat dipengaruhi pada  ketersediaan pupuk bersubsidi secara tetap dan cukup. Kadang-kadang kebutuhan kita hanya alokasi 30 %. Namun, terkadang yang 30 % distribusi di lapangan tak sesuai dengan kebutuhan. Petani sudah mulai melakukan tanam, tetapi pupuk tidak datang sehingga menganggu produksi dan produktivitas," jelasnya.


Ditanya wartawan BeritaRayaOnline soal harga standar jagung, Munarta Ginting, mengatakan kita sudah pernah melakukan rapat dengan pengusaha pakan ternak yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) , Biro Perekonomian Provinsi Sumatera Utara, serta rapat dengan pihak DPRD.

"Kita selalu tuntut harga dasar jagung atau HRD di kisaran Rp 3500/kg untuk harga pabrik. Namun, kawan-kawan GPMT masih keberatan. Beberapakali rapat belum ada kesepakatan soal HRD ini.HRD jagung di Tanah Karo terbilang masih tinggi dibandingkan kabupaten-kabupaten lain penghasil jagung seperti Simalungun, dan Dairi. Walaupun produksi tinggi, tetapi keuntungan kita di sektor budi daya jagung bagi petaninya masih kalah dengan kabupaten lainnya di Provinsi Sumatera Utara," ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo Munarta Ginting menambahkan areal jagung di Tanah Karo tiap tahun mencapai 70 ribu hektar-kadang sampai 80 ribu hektar-Oktober 2015 mencapai 80 ribu hektar.

"Sudah lebih 70 ribu hektar pertanian jagung di Tanah Karo. Namun, semua ini juga tergantung curah hujan. Kalau terjadi musim kemarau panjang  pertanian jagung mengalami pergeseran. Produksi jagung   di Tanah Karo tertinggi di Provinsi Sumatera utara. Rata-rata  63,18 kuintal per hektar produktivitasnya.Luas tanam 78,664 ribu hektar. Saya upayakan 2015 ini lebih dari 80 ribu hektar. Namun, kalau ada kemarau panjang, bisa turun lagi,' ucapnya. (lasman simanjuntak)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama