breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Terapi Sel Punca Pengobatan Masa Mendatang Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Share This

Jakarta,BeritaRayaOnline  ,-"Terapi sel punca adalah pelayanan pengobatan berbasis penelitian.Pengobatan masa kini dan masa mendatang dan diharapkan jadi tuan rumah di negeri sendiri;" jelas Ketua Konsorsium Pengembangan Sel Punca dan Jaringan Prof.Dr.dr.Farid A Moeloek kepada wartawan di Jakarta,Rabu pagi (28/10/2015).

Menurutnya terapi ini mulai dikembangkan di dunia pada 1996 dan di Indonesia sejak 2007.Mekanisme dasar terapi adalah memperbaiki sel-sel tubuh rusak agar berfungsi normal.Sel yang dipakai untuk memperbaiki berupa sel punca atau induk dari tubuh pasien itu sendiri (autologous) atau dari orang lain(allaogeneic).

"Sel punca bisa diambil dari embrio darah tali pusat,dari sumsun tulang belakang,darah tepi,dan jaringan lemak orang dewasa.Namun,di Indonesia sel punca dari embrio belum dilakukan karena rentan pertentangan etika dan norma agama,"katanya.

Sekretaris Pusat Kedokteran Regeneratif dan Sel Punca Surabaya (SRMSCC) dr.Purwati yang ikut hadir pada jumpa pers tersebut mengatakan SRMSCC dibentuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)dr.Soetomo Surabaya,Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK.Unair) dan Lembaga Penyakit Tropis Unair.

"Jantung koroner,pelemahan pompa jantung,diabetes melitus,stroke,parkison,serta sejumlah kanker dan gangguan tulang bisa diterapi dengan sel punca," ucapnya.

Semula banyak masyarakat memperkirakan sel punca dianggap sebagai terapi yang bisa menyembuhkan  segala jenis penyakit.Menurut penjelasan dr.Purwanti untuk sementara ini terapi sel punca hanya untuk penyakit degeneratif terkait penuaan,mutasi sel,dan keganasan sel.

Sedangkan Kepala Bagian Penelitian Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta yang juga pengembang terapi sel punca untuk cidera tulang rawan, dr.Andri Lubis mengatakan resiko terapi sel punca bergantung pada  jenis sel punca yang diambil.

"Makin awal sel punca diambil seperti dari embrio atau darah tali pusat potensinya kian tinggi dan resikonya makin besar.Sementara sel punca yang diambil pada orang dewasa potensinya kian kecil tetapi resikonya  kecil.Penolakan tubuh atas sel punca yang diambil dari tubuh pasien lebih kecil  dibandingkan diambil dari orang lain,"katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline soal dana terapi sel punca ini, Prof.Dr.dr.Farid F Moeloek, Ketua Komite Pengembangan Sel Punca menjelaskan soal biaya ini nantinya harus dibuat standar pembiayaannya.Konsorsium diharapkan akan buat standar biaya seperti proses(laboratorium, sarana, proses biaya SDM, dsb), kemudian input dan output.

"Memang untuk biaya terapi sel punca ini belum dicover BPJS karena ini masih pelayanan pengobatan berbasis penelitian. Kita teliti dulu deh," ujarnya.(lasman simanjuntak)

 Teks Foto : Ketua Komite Pengembangan Sel Punca Prof.Dr.dr.Farid F Moeloek sedang memberikan penjelasan kepada wartawan di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu pagi (28/10/2015) mengenai terapi sel punca yang merupakan pelayanan pengobatan berbasis penelitian  masa kini dan masa mendatang dan diharapkan akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.Tampak pula tiga orang pasien yang telah menggunakan terapi sel punca yaitu Prof.dr.Musa Asy'arie, Guru Besar UIN Jogja menderita penyakit diabetes melitus, dr.Ardan , sedang mengambil spesialis bedah plastik menderita penyakit hati atau sirosis, dan Rio Gunawan , pekerja swasta yang 2009 lalu mengalami kecelakaan lalulintas. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama