breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Musim Panceklik, Pasokan Beras di Pasar Cipinang Berlimpah

Share This

Varietas padi  IPB-3 karya Institut Pertanian Bogor (IPB)  yang akan menjadi beras unggulan di Indonesia (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)
Jakarta,BeritaRayaOnline,- Di tengah tekanan impor beras beras dan musim penceklik, pasokan beras dari petani lokal untuk Pasar Induk Beras Cipinang justru melimpah. Dalam satu minggu terakhir ini, sudah masuk 320 truk beras dari berbagai daerah yang mencapai 5.250 ton.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Nellys Soekidi mengatakan,  dalam hitungannya, stok beras sampai Desember cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ada beras masuk mulai Senin 12 Oktober kemarin ada 5.250 ton. Ini pertama terjadi padahal paceklik, biasanya kalau musim-musim seperti ini tidak pernah sebanyak ini. Ada lagi tambahan nanti,” ujarnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (16/10/2015).

Menurutnya, pihaknya sudah menyiapkan strategi untuk kondisi kekeringan seperti saat ini. Selain Bulog yang memiliki stok, dirinya dan kawan-kawan pedagang juga menyiapkan stok.

"Kita pasar punya strategi, kita para pedagang punya stok. Bukan hanya di Bulog saja, tapi di penggilingan juga masih ada stok. Pertimbangannya adalah stok di Bulog dan stok di penggilingan. Kalau kita load di beberpa daerah juga kan masih ada potensi panen," jelasnya kepada wartawan.

Dia menambahkan, seandainya terpaksa impor, sebaiknya pemerintah memperhitungkannya secara cermat, yakni hanya sebatas memenuhi cadangan saja untuk maksimal 3 bulan di bulan Januari-Maret.

"Seandainya impor, tolong hitung kebutuhannya. Yang dikhawatirkan beberapa bulan saja, jangan diisi dengan impor sebanyak-banyaknya untuk memenuhi stok,” tegasnya.

Nellys menjelaskan, dengan stok yang ada, kebutuhan Januari-Februari akan tergantung kondisi bulan November. Kalau November hujan, maka Februari sudah panen, kalau Desember hujan, panennya mundur di Maret.

Bila separah-parahnya tidak ada hujan, maka cukup kebutuhan 3 bulan itu saja yang bisa dipenuhi dari impor. Jangan karena memenuhi kebutuhan 3 bulan, tapi impornya besar-besaran," ujar Nellys.

Menurut dia, impor beras bisa menjadi problem serius bagi petani jika beras yang diimpor melebihi kebutuhan. Dia menyarankan, impor beras sebaiknya diserahkan kepada Bulog semata, tanpa melibatkan swasta.

“Karena begitu masuk melalui Bulog, beras bisa ditahan menyesuaikan kebutuhan. Bila di tangan swasta, beras itu akan keluar sewaktu-waktu. Kasihan masyarakat kalau begitu,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Umum PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Presetyo Adi mengungkapkan, sampai dengan hari ini stok yang dimiliki adalah sebanyak 33.600 ton. Dengan penurunan harga beras yang telah mencapai Rp500 per kilogram dibanding pekan sebelumnya.

"Sampai dengan hari ini, stok on hand 33.600 ton. Pasokan sangat normal. Untuk harga beras saat ini stabil, tidak ada kenaikan signifikan. Dibandingkan dua minggu yang lalu turun Rp400 sampai Rp500 per kilogram. Penurunan harga untuk semua jenis," ujarnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam inspeksi mendadak (sidak)-nya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (16/10/2015) mendapati kondisi serupa, pasokan melimpah.

Dalam sidaknya, bukannya mendapati beras impor, Amran justru menemukan pasokan yang melimpah dari petani dalam negeri yang baru tiba dalam satu minggu terakhir ini

"Alur masuk beras sebesar ini di saat musim kering seperti ini yang tidak pernah terjadi. Makanya kami cek langsung kebenarannya," ujar Amran.

Mentan menjelaskan, harga beras juga terpantau stabil, tidak ada kenaikam signifikan, justru terjadi penurunan untuk semua jenis beras Rp 400 hingga Rp 500 dibandingkan dua minggu lalu.

Pasokan sangat normal. Saat ini harga beras Premium Rp 9.450 dan  medium Rp 9.200 sampai Rp 9.300 per kilogramnya," ungkap Mentan.

Dengan adanya pasokan melimpah ke Pasar Induk Beras Cipinang dari petani lokal, Mentan Amran makin optimis belum dibutuhkan untuk mengimpor beras.

“Di saat panceklik saja pasokan banyak, ditambah sudah terdata ada standing crop padi yang mencapai 4,1 juta hektar. Jadi jangan lagi kita berbicara soal impor-impor beras dulu,” tukasnya.(press release humas kementan/lasman simanjuntak)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama