breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Mulai 2016, Kementan Tak Izinkan Impor Bawang Merah Segar

Share This

Mataram, BeritaRayaOnline,-Potensi hortikultura yang terdiri dari buah-buahan, sayuran,  florikultura , dan tanaman obat sangat besar sehingga layak untuk dikembangkan guna pemenuhan pasar domestik, eskpor, pariwisata, maupun untuk mengangkat citra Indonesia di dunia internasional.
Neraca perdagangan hortikultura tahun 2014 mengalami defisit sebesar US$ 1.176 juta setara Rp 11,76 triliun. Kondisi defisit neraca perdagangan hortikultura terutama terjadi pada kelompok komoditas buah dan sayur, sementara tanaman obat dan tanaman hias menunjukkan surplus perdagangan.

Buah  manggis dan mangga menjadi penyumbang ekspor terbesar, sedangkan untuk kelompok sayuran adalah kol, tomat, dan kentang. Sebaliknya buah-buahan yang banyak diimport adalah durian , jeruk, dan untuk kelompok sayuran adalah bawang putih, bawang merah, kentang, dan wortel.

Demikian sambutan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian  Spudnik Sujono pada pembukaan acara Festival Hortikultura 2015 di Kota Mataram, Sabtu (10/10/2015).Hadir pada kesempatan tersebut Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi.
"Dengan memperhatikan data tersebut saya perintahkan Dirjen Hortikultura untuk bekerja lebih keras lagi guna mengurangi impor dan meningkatkan ekspor hortikultura dengan cara memperhatikan produk-produk hortikultura yang berdaya saing tinggi," katanya.
Dengan penduduk 250 juta, lanjut Mentan, Indonesia merupakan pasar yang besar, yang apabila tidak kita garap dengan baik akan dimanfaatkan oleh produk-produk import.
Oleh karena itu sebagai negara yang besar, Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Ha ini sejalan dengan dengan visi Presiden untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Salah satu agenda Nawa Cita yang harus kita laksanakan dalam pengembangan hortikultura adalah meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional dan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
Kementerian Pertanian sebagaimana perintah Presiden harus dapat mewujudkan swasembada untuk tujuh komoditas utama yaitu padi, jagung, kedelai, daging sapi, gula, cabai, dan bawang merah. Pemerintah pusat maupun provinsi, dan kabupaten/kota harus serius dalam mewujudkan swasembada pangan tersebut.

"Untuk komoditas hortikultura saya sudah tidak mengizinkan untuk mengimpor bawang merah segar mulai tahun 2016.Potensi Indonesia untuk menghasilkan bawang merah sangat besar, mulai dari Aceh sampai Merauke dapat ditanami bawang merah dan bawang merah dapat ditanam dalam jumlah yang lebih besar. Provinsi Nusa Tenggara Barat khususnya Kabupaten Bima dan Sumbawa memiliki potensi yang sangat besar untuk bertanam bawang merah sepanjang tahun, sehingga dapat dijadikan andalan dalam penyediaan bawang merah nasional. Pemerintah pusat akan terus membantu pengembangan bawang merah di provinsi ini," jelasnya.

Untuk cabai tantangan kita adalah bertanam di musim kemarau dan diproduksi pada musim hujan. Untuk itu program pemerintah dalam membantu ketersediaan air untuk pertanaman pada musim kemarau dan memperkenalkan penggunaan shading net agar saat musim hujan bunga cabai tidak rontok terlalu banyak.
Tantangan bagi Litbang dan produsen benih adalah menghasilkan varietas yang tahan ditanam di musim kemarau dan produtivitasnya tinggi saat dipanen di musim hujan. 

"Agar harga cabai tidak berfluktuasi tajam, kita harus menerapkan pola tanam yang baik sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan produksi di bulan-bulan tertentu.Di sini peran Dinas Pertanian untuk mengajak petani mentaati pola tanam sangat penting," jelasnya.
Untuk komoditas buhan-buahan saat ini Indonesia tercatat sebagai eksportir nanas olahan terbesar di dunia dengan konsentrasi kawasan di Provinsi Lampung.Kita juga unggul dalam hal ekspor buah-buahan eksotik sperti manggis, salak, dan mangga. Pertumbuhan nilai ekspor buh-buahan tersebut meningkat dari tahun 2010 sampai 2013 rata-rata sebesar 13,6 %.
"Oleh karena itu saya minta Dirjen Hortikultura, Dinas Pertanian provinsi dan kabupaten/kota dapat meningkatkan produksi dan memperbaiki kualitas buah yang dihasilkan petani untuk memenuhi kebutuhan ekspor," pesan Mentan Andi Amran Sulaiman.

Menurut Mentan, apabila kita cermati dalam beberapa dekade terakhir ini produksi hortikultura terus mengalami peningkatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas sebagai dampak dari penerapan GAP (Good Agricultural Practices) dalam usaha budidaya hortikultura. Produk hortikultura ke depan bukan saja harus semakin berkualitas dan kontinuitas pasokannya terjamin, akan tetapi juga harus diusahakan dengan memperhatikan sistem pelestarian lingkungan.
"Dari berbagai pengalaman empiris kita sampai kepada kesimpulan bahwa pengembangan usaha hortikultura harus dilakukan dengan pendekatan industri. Melalui pendekatan ini kita berharap daya saing produk hortikultura meningkat berkat kecermatan dan ketepatan dalam memilih jenis dan ragam komoditas yang sesuai dengan permintaan pasar. Produk hortikultura dalam negeri terkesan dengan pasokan yang tidak stabil dan mutu yang belum terstandar. Oleh karena itu penerapan  Good Agricultural Practices atau GAP dan Good Handing Practices atau GHP disertai dengan pemberdayaan kelembagaan petani, penguatan kemauan usaha yang saling menguntungkan dan dikelola secara terintegrasi diharapkan mampu menjadi kekuatan besaar bagi hortikultura untuk menghasilkan produk yang berdaya saing," katanya.

Lumbung Bawang Nasional

Sementara itu Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi mengatakan, NTB siap menjadi daerah lumbung bawang nasional. Untuk itu, ia meminta petani diberikan bibit yang cukup dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Hal ini disampaikan gubernur kepada wartawan  usai membuka pekan Festival Hortikultura Nasional, Sabtu (10/10/2015). "Jadi kita siap berapapun asal petani kita diberikan bibit yang cukup dan perhatian," kata Zainul Majdi.

Menurut dia, dalam waktu dekat Kementerian Pertanian akan membangun gudang bawang di Bima, untuk menampung bawang hasil produkasi petani. Saat ini hasil produksi bawang di Bima cukup tinggi, yaitu, 11.000 ton per tahun.

Jumlah produksi bawang yang tinggi di Bima, diharapkan mampu menopang kebutuhan bawang nasional. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah yang akan menghentikan impor bawang, tahun 2016 mendatang. (lasman simanjuntak)


Foto-foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama