Ads


» » » Cegah Kecelakaan Lalin, Pengemudi Tensi Darah di Atas 150 mm Hg Tak Boleh Bawa Kendaraan

Temu Media Peringatan Keselamatan Jalan 2015 berlangsung di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat siang (23/10/2015).Tampak dalam gambar dr.Lily S Sulistyowati, MM, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes sedang memberikan keterangan pers didampingi  AKBP Elbin Darwin, SH, dari Korlantas Polri, Ir.Cucu Mulyana, D.Ess, Direktur Keselamatan Transportasi Darat, Kementerian Perhubungan, dan Drs.Busroni, dari Puskom Publik Kementerian Kesehatan. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,-"Guna mencegah kecelakaan lalin sebelum membawa kendaraan para pengemudi, khususnya bus luar kota, diperiksa terlebih dahulu tekanan darahnya. Bila tensi di atas 150 mm Hg  tak boleh bawa kendaraan bisa berbahaya bagi dirinya sendiri dan seluruh penumpang," jawab dr.Lily S Sulistyowati, MM, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline dalam temu media di Jakarta, Jumat siang (23/10/2015) sehubungan dengan 'Peringatan Keselamatan Jalan ' Tahun 2015.

Dijelaskannya lagi, Kementerian Kesehatan tidak berdiri sendiri- bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dan Polri- dalam pelayanan kesehatan, semisal di terminal-terminal bus kota.

"Pada saat Lebaran atau hari-hari raya besar lainnya ada posko-posko terpadu. Bahkan tiap terminal bus ada posko kesehatan untuk memeriksa kesehatan para supir layak atau tidak membawa kendaraan.Kita lakukan pemeriksaan kesehatan sebelum melakukan perjalanan, apakah ada hipertensi atau gula darahnya tinggi,"ucapnya.

Sementara AKBP.Elbin Darwin, SH, dari Korlantas Polri  yang ikut hadir sebagai nara sumber dalam temu media tersebut ditanya wartawan BeritaRayaOnline soal pemeriksaan kesehatan para calon yang mengikuti ujian (test kesehatan-red) guna memperoleh SIM C, A, Umum, dan SIM B1 dan B2 menjelaskan setiap pemohon Surat Izin Mengemudi (SIM) wajib mengikuti test kesehatan.

"Petugas SIM tak boleh ambil resiko. Pada saat test kesehatan untuk mengajukan permohonan pembuatan SIM,kelihatannya sih mereka  sehat-sehat saja," akuinya.

Namun, lanjutnya, khusus untuk kesehatan para pengemudi bus dalam dan luar kota Polri juga sering mengadakan uji test kesehatan para pengemudi di terminal-terminal.

"Polri pernah melakukan pilot project  di Provinsi Jawa Tengah.Ternyata hasilnya masih banyak para pengemudi yang karena terlalu lelah mengemudi kena gula serta gangguan pada mata," ujarnya.

Sedangkan Ir.Cucu Mulyana, D.ESS, Direktur Keselamatan Transportasi Darat, Kementerian Perhubungan menambahkan selama ini koordinasi lintas sektoral sudah berjalan dengan baik. Bahkan sudah dibentuk Forum LLAJ baik di tingkat kabupaten (bupati, kapolres, dan tokoh masyarakat),dan tingkat kota (walikota, kapolresta, dan tokoh masyarakat).

" Di sini Forum LLAJ dibicarakan segala hal termasuk keselamatan pengendara di jalan raya. Bahkan forum ini bisa memberi sarana dan solusi," ucapnya. 

dr.Lily S Sulistyowati, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, mengatakan lagi   tahun 2015 ini  'Peringatan Keselamatan Jalan' mengambil tema global "Third UN Global Road Safety Week adalah Save Kids Live with Road Safety" .

"Tema nasional Peringatan Keselamatan Jalan 2015 yaitu jaga keselamatan anak dengan perilaku berkendara yang aman dan sehat,"kilahnya.

Ditambahkannya, kejadian cidera akibat kecelakaan lalu lintas cenderung meningkat/masih tinggi, tingginya kejadian kecelakaan disebabkan oleh multi faktor sehingga dalam pengendaliannya juga harus melibatkan lintas program dan lintas sektor. Regulasi terkait pengendalian cedera akibat KLL sudah ada yaitu UU No.22 tahun 2009, dan Inpres No.4 tahun 2013. (lasman simanjuntak)




eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini