breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Bima dan Sumbawa NTB Berpotensi Besar Sebagai Pemasok Bawang Merah Nasional

Share This

  Teks Foto :Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono K sedang memberikan penjelasan pada Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tgh.M.Zainul Majdi disela-sela kunjungan pada stand pameran dan Festival Hortikultura Nasional  2015 di Kota Mataram yang berlangsung mulai 10-14 Oktober 2015 . (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

  Mataram, BeritaRayaOnline,- Kabupaten  Bima dan Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)  berpotensi besar sebagai pemasok bawang merah nasional. Sebab di daerah ini, petani menanam bawang sepanjang tahun sehingga produksinya cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. 

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Hortikultura, Spudnik Sujono K, kepada wartawan usai membuka Festival Hortikultura Nasional di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu siang (10/10/2015).

Selain itu, lanjut Dirjen Hortikultura,  bawang merah NTB telah diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.  "Artinya apa, ke depan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri Insya Allah kita bisa penuhi semua untuk bawang merah," kata Spudnik Sujono.


Teks Foto : Festival Hortikultura Nasional 2015 juga diisi dengan seminar bertemakan "Meningkatkan Daya Saing Hortikultura Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)" yang juga dihadiri Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono di Kota Mataram, Sabtu malam (10/10/2015). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Ia menambahkan, saat ini Indonesia memiliki lahan seluas 1 juta hektar tanaman bawang. Pihaknya menargetkan akan menambah lahan seluas 5.000-7.000 hektar dari lahan yang sudah ada saat ini. Termasuk penambahan lahan di wilayah Bima, NTB.

Menurutnya, guna memenuhi produksi bawang nasional para petani minimal dapat menghasilkan sebanyak 12 juta ton dalam setahun. Dengan perolehan produksi saat ini, ia optimistis dapat melampaui target.
Pola Tanam Cabai

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono K mengatakan lagi pihaknya telah  menyiapkan manajemen baru pola tanam cabai pada musim kemarau sebagai upaya menjaga ketersediaan stok dan menstabilkan harga cabai.

Teks Foto: Direktur Jenderal Hortikultura Spudnik Sujono K berfoto bersama dengan para peserta usai seminar mengenai bisnis hortikultura dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) Januari 2016 mendatang yang berlangsung di sebuah hotel di Kota Mataram, NTB, Sabtu malam (10/10/2015). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

"Tahun 2016 kita sudah buat manajemen baru untuk tanam cabai, termasuk untuk produksi minimal per bulan," jelasnya.

Ia mengatakan, dalam penetapan manajemen pola tanam cabai tersebut, pihaknya telah melakukan pemetaan atau mapping pola tanam, agar pasokan tidak berlebih yang berdampak anjloknya harga cabai di pasaran.

Seperti saat ini, harga cabai di pasar hanya mencapai Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram, bahkan di tingkat petani hanya Rp2.000 per kilogram.

"Kondisi ini tentu sangat merugikan bagi petani, karena harga jual tidak sesuai dengan biaya produksi," ujarnya.

Dia mengatakan, tanaman hortikultura jenis cabai, tomat dan bawang dibutuhkan setiap hari di rumah tangga, sehingga komoditas itu harus tersedia, tetapi tidak boleh berlebihan.

Untuk tahun ini, lanjutnya, pemerintah mulai memprogramkan gerakan tanam cabai musim kemarau untuk diproduksi di musim hujan.

"Ini tentu menjadi tantangan, karena itu program pemerintah adalah membantu ketersediaan air untuk pertanaman pada musim kemarau dan memperkenalkan penggunaan teknologi agar saat musim hujan bunga cabai tidak rontok terlalu banyak," ujarnya.

Sementara, program ini juga menjadi tantangan bagi produsen benih dalam menghasilkan varietas yang tahan ditanam di musim kemarau dan produktivitas tinggi saat dipanen di musin hujan.

Menurut dia, agar harga cabai tidak berfluktuasi tajam, petani harus melakukan pola tanam yang baik sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan produksi di bulan-bulan tertentu.

"Peran dinas pertanian dalam hal ini sangat penting untuk mengajak petani mentaati pola tanam, guna menjaga ketersediaan stok dan harga," katanya.(dbs/lasman simanjuntak) 
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama