Ads


» » » Peran RMU Dalam Industri Perberasan Nasional

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman didampingi Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo  langsung "diserbu" para wartawan usai mengikuti acara rapat upaya khusus peningkatan industri perberasan  di Kementerian Pertanian di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu siang (26/8/2015).(Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Beras merupakan komoditas strategis ditinjau dari aspek nasional, ekonomi, dan politik. Hal ini karena beras merupakan makanan pokok hampir semua penduduk Indonesia.

Kecukupan pangan merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan ketahanan nasional. Produksi padi di Indonesia 2015 sebesar 75,56 juta ton GKG dengan neraca beras diperkirakan surplus 10,57 juta ton beras (ARAM-1 BPS 2015). Produksi dan surplus beras ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya untuk menjamin ketersediaan pangan nasional.

Pengggilingan padi atau rice milling unit (RMU) berperan mengolah gabah menjadi beras untuk selanjutnya dijual ke pasar/konsumen. Di samping itu sebagian beras diserap BULOG untuk cadangan beras pemerintah dan sebagian oleh ritel moderen seperti minimarket, hypermarket, supermarket, perkulakan dan lainnya.

Keberadaan RMU ini sangat penting dalam rantai pasok beras sampai ke konsumen dan RMU dapat dijadikan salah satu barometer jumlah beras dan ketersediaan stok beras di suatu wilayah.

BPS tahun 2012 menyebutkan jumlah RMU di Indonesia 182.199 unit terdiri dari RMU skala besar 2.075 unit (1,14 %), RMU skala menengah 8.628 unit (4,74 %, RMU skala kecil 171.496 (94,13 %). RMU skala kecil umumnya menggunakan teknologi sederhana (1 phase) dan berumur tua dengan rendemen berkisar 50-5%. Sedangkan RMU dengan teknologi prosesing 2 phase lebih efisien dengan rendemen gabah menjadi beras mencapai 60 % sampai 65 %  bahkan lebih.

Memperhatikan peran strategis RMU, maka Kementerian Pertanian sejak tahun 2010 hingga sekarang telah merevitalisasi 2.361 unit RMU skala kecil milik Gapoktan/kelompok tani sehingga meningkatkan rendemen hingga 5 %. Kegiatan revitalisasi RMU ini akan terus ditingkatkanpada tahun mendatang dengan jumlah dan cakupan wilayah yang lebih luas.

Dalam rangka menjalankan fungsi Bulog sebagai pengendali dan stabilisasi harga pangan, mka cadangan beras pemerintah dipenuhi Bulog dengan bermitra strategisnya RMU yang tersebar di sentra-sentra produksi padi. Kemitraan yang saling menguntungkan ini akan berlangsung cukup lama.

Dalam waktu dekat RMU akan memasok Bulog untuk penyediaan beras pada Toko Tani Indonesia (TTI) yang tersebar di pasar-pasar strategis Indonesia. Guna memperlancar operasional kemitraan ini, maka perlu didukung oleh seluruh pihak terkait yaitu kelompoktani, Gapoktan, KTNA, penyuluh, Pemda, K/L terkait, TNI, lainnnya.

Pemerintah akan mengambil langkah-langkah strategis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang untuk meningkatkan peran seluruh pelaku usaha yang terkait dengan proses produksi dan penyediaan pangan pokok ini.

Dalam jangka pendek pemerintah (1) mendorong jumlah unit-unit usaha  RMU menjadi mitra kerja Bulog, (2) membantu me-revitalisasi RMU skala kecil, (3) mendata dan men-register RMU yang ada, (4) memonitor jumlah beras yang diproduksi RMU serta, (4) regulasi pembangunan RMU baru, sedangkan dalam jangka panjang akan memantapkan kelembagaan usaha di bidang hilir produk pertanian dn menciptakan nilai tambah.

Berkaitan dengan hal tersebut untuk pertama kalinya dalam  sejarah pembangunan pertanian pada Rabu, 26 Agustus 2015 dihadirkan lebih dari 5.000 orang pelaku usaha penggilingan padi/RMU, pedagang beras, asosiasi, KTNA, eksportir, importir beras, Bulog, TNI, dinas/badanlingkup pertanian provinsi/kabupaten dari 34 provinsi untuk berdialog dan berkoordinasi membahas industri pemberasan serta menggalang kemitraan dalam pengadaan stok beras nasional. (kabag humas kementerian pertanian/pulo lasman simanjuntak)

Foto-foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline




eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini