Ads


» » » Sosialisasi Peraturan Mentan Tentang Tata Cara Produksi Kopi Luwak di Cikole, Lembang, Jawa Barat

Lembang, BeritaRayaOnline,-Kopi luwak merupakan produk khas Indonesia dan sudah terkenal di dunia internasional yang diperoleh dengan cara mengumpulkanbiji kopi yang keluar bersama kotoran (feses) luwak. Kopi luwak pada mulanya diperoleh dari luwak liar yang hidup secara alamiah. Akan tetapi sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar, maka kopi yang diproduksi dengan luwak saat ini lebih banyak diperoleh dari luwak yang dipelihara.

"Saat ini kopi luwak Indonesia menduduki harga tertinggi diantara semua jenis produk kopi baik di dalam negeri maupun di pasaran internasional. Tingginya permintaan konsumen terhadap kopi luwak dengan harga yang tinggi, maka akhir-akhir ini timbul kreativitas masyarakat untuk memproduksi kopi luwak secara cepat. Hal tersebut berpotensi merugikan konsumen dan citra produk kopi luwak Indonesia," kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP), Kementerian Pertanian, Emilia Harahap, dalam rangka sosialisasi Peraturan Mentan tentang tata cara produksi kopi luwak melalui pemeliharaan luwak yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan di Cikole, Lembang, Bandung, Jawa Barat, Kamis sore (9/7/2015) .

Kopi luwak yang diproduksi secara cepat pada umumnya mempunyai kualitas kopi yang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan ditemukan adanya pemalsuan atau pencampuran biji kopi luwak dan non luwak."Hal ini sangat merugikan konsumen. Terlebih lagi apabila diproduksi dengan cara-cara yang tidak memenuhi prinsip kesejahteraan hewan dan kehalalan yang dapat merusak citra kopi luwak Indonesia," ucapnya.

Untuk itu, lanjut Dirjen PPHP, Emilia Harahap, pemerintah perlu mengatur cara produksi kopi luwak tidak saja agar memenuhi prinsip kehalalan produk, keamanan pangan, dan kelestarian lingkungan. Aturan tersebut telah ditetapkan oleh Menteri Pertanian RI pada 16 Juni 2015 melalui Permentan No.37/Permentan/KB.120/6/2015. 

Prinsip kesejahteraan hewan yang digunakan sebagai dasar acuan Permetan ini berdasarkan kepada lima prinsip kebebasan hewan (five freedom) yang diterapkan sebagai standar minimal kesejahteraan hewan yaitu hewan lunak yang dilibatkan dalam sistem produksi kopi luwak yang dilibatkan dalam sistem produksi kopi luwak harus terjamin kesejahteraannya dengan cara menerapkan prinsip kesejahteraan hewan meliputi  bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa sakit, cidera, dan penyakit, bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan dn penyalahgunaan, bebas dari rasatakut dan tertekan, serta bebas untuk mengekspresikan perilaku alaminya.

"Prinsip kesejahteraan hewan sebagaimana tersebut di atas diterapkan pada proses produksi kopi luwak melalui kegiatan seperti penempatan dan pengandangan, pemeliharaan dan perawatan, serta pengembalian luwak ke habitat alam," jelasnya.

Prinsip keamanan pangan untuk kopi luwak dimaksudkan untuk menjaga koopi luwak tetap aman, higienes, bermutu, bergizi, dan tidak bertentangan dengan agama keyakinan, dan budaya masyarakat.Keamanan pangan kopi luwak tersebut dapat dilakukan melalui sanitasi, penerapan sistem jaminan mutu produk kopi luwak dan jaminan produk halal sesuai dengan persyaratan. (pulo lasman simanjuntak)
Foto-foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini