Ads


» » » Prof.Dr.Djadja Subardja : Pembangunan Pertanian Di Indonesia Dihadapkan kepada Tantangan yang Semakin Berat

Prof.Dr.Djadja Subardja Sutaatmadja (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Bogor,BeritaRayaOnline,-Penbangunan pertanian di Indonesia dihadapkan kepada tantangan yang semakin berat.Kebutuhan pangan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk.Sementara lahan subur telah banyak mengalami degradasi dan konversi.Produktivitas padi yang merupakan pangan utama melandai, bahkan menurun akibat intensitasnya penggunaan lahan dan tidak rasionalnya pemberian pupuk anorganik.

Demikian Dr.Ir.Djadja Subardja Sutaatmadja dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pedologi dan Penginderaan Jarak Jauh berjudul "Pendekatan Pedologis Dalam Pemanfaatan Lahan Suboptimal Untuk Pengembangan Pertanian Berkelanjutan" berlangsung di Auditorium Sadikin Sumintawikarta  di Bogor, Jumat siang (26/6/2O15). Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr.Ir.Muhammad Syakir, MS.

Terbatasnya sumberdaya lahan produktif menuntut perlunya teknologi spesifik untuk meminimalisasi input dan memaksimalisasi output.

"Penggunaan lahan di luar Jawa merupakan salah satu harapan, tetapi kita dihadapkan kepada kendala biofisik, sosial, ekonomi, dan persaingan dengan komoditas perkebunan," katanya.

Sebagian besar lahan yang dapat digunakan untuk pengembangan pertanian saat ini didominasi oleh lahan suboptimal, terutama lahan kering masam di Sumateta, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.Lahan suboptimal secara alamiah berproduktivitas rendah dan ringkih (fragile) karena faktor inheren (tanah) dan faktor eksternal (iklim ekstrim).Lahan suboptimal lain adalah lahan kering beriklim kering, lahan rawa gambut dan lahan rawa sulfat masam.

"Permasalahan yang lebih mendasar adalah karakteristik, potensi, kendala dan sebaran lahan suboptimal belum diketahui secara rinci dan akurat.Akibatnyta sering terjadi salah pengelolaan yang berdampak terjadap kegagalan produksi, tumpang tindih kepentingan, dan kerusakan lingkungan.Karena itu pemanfaatan lahan suboptimal memerlukan pendekatan pedologis," ujarnya.

Dr.Ir.Djadja Subardja Sutaatmadja, M.Sc menjelaskan pedologi berasal dari kata pedo (tanah) dan logi (ilmu).Arti pedologi yang lebih luas adalah cabang ilmu alam atau ilmu kebumian yang mempelajari faktor-faktor dan proses pembentukan tanah, termasuk mendiskripsi profil (penampang) tanah, klasifikasi tanah, pemetaan dan interpretasi tanah untuk penggunaan tertentu.

Pendekatan pedologis adalah pendekatan ilmiah yang didasarkan pada sifat dan karakteristik tanah yang dipengaruhi oleh faktor pembentuk tanah, terutama bahan induk, iklim, dan relief.Dengan pendekatan pedologis, potensi, kendala, dan tata cara perbaikan lahan, termasuk lahan suboptimal dapat diketahui secara cepat dan tepat.

"Orasi ilmiah ini memaparkan pendekatan pedologis dalam pemanfaatan lahan suboptimal untuk pengembangan pertanian berkelanjutan," ucapnya.

Sebagai penutup, Dr.Ir.Djadja Subardja Sutaatmadja, M.Sc, mengatakan pembangunan pertanian mutlak memerlukan data/informasi sumberdaya lahan yang rinci dan akurat.Data/informasi tersebut hanya dapat diperoleh melalui pendekatan pedologis yang lebih detil dan komprehensif untuk mendukung penentuan kebijakan pertanian yang tepat dan terarah pada setiap hirarkhi, serta mencegah terjadinya tumpang tindih kepentingan dan kerusakan lingkungan.

"Pendekatan pedologis sangat strategis untuk mengindentifikasi karakteristik lahan suboptimal yang sangat kompleks, khususnya pada lahan kering masam, dalam penentuan arah penggunaan, penyusunan rancangan dan rekomendasi teknologi pengembangannya terutama dalam pengembangan pertanian terpadu menuju precision and prescription farming di masa depan," katanya.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini