Ads


» » » Mentan Andi Amran Sulaiman : Stok Pangan Aman Jelang Lebaran 2015 !

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai blusukan di Pasar Legi, Solo, Kamis lalu (11/6/2015), berkumpul bersama wartawan (termasuk wartawan BeritaRayaOnline)  untuk sarapan pagi di sebuah kedai soto. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang sangat "akrab" dengan para wartawan khususnya yang tergabung dalam Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) ini  bersedia menjawab pertanyaan apa saja terutama terkait dengan swasembada pangan. (Foto : Humas Kementan/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan ada beberapa hal yang telah dicapai Kementerian Pertanian. Pertama, sampai saat ini telah diperbaiki jaringan irigasi tersier seluas 1,3 juta hektar dari target 1 juta hektar, sehingga telah melampaui target.

Hal ini dikatakannya di depan peserta Rapat Koordinasi (Rakor) Perkembangan Produksi dan Serapan Gabah/Beras 2015 berlangsung di Kampus Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa (16/6/2015).

"Terima kasih aparat TNI. Salah hormat saya kepada Babinsa seluruh Indonesia,"ucapnya.

Kedua, alat mesin pertanian (alsintan) bisa meningkatkan biaya produksi. Sebanyak 30 ribu unit alsintan, akan selesai 2 sampai 3 ribu unit yang bisa meningkatkan produksi.

 Ketiga, pupuk sering terlambat. Kalaupun belum sempurna, sudah ada perbaikan-perbaikan."Terima kasih Dandim.Oplos pupuk memang ada penyimpangan.Ada yang harus masuk penjara, sekitar 30-40 orang harus berhadapan dengan hukum," tegasnya.

Keempat, soal benih.Benih unggul keluar dari laboratorium, kampus, dan Litbang. IPB, UGM, Unila, Unhas dilibatkan dari perguruan tinggi.Sedangkan untuk mahasiswa juga dilibatkan sebanyak 8700 mahasiswa.

"Ada pertanyaan baik dari LSM maupun wartawan? Kenapa Babinsa dilibatkan. Begini kronologisnya. Pada saat saya masuk ke Kementerian Pertanian, irigasi 52 % bermasalah. Benih, pupuk, alsintan, dan penyuluh, 27 ribu penyuluh kita telah berusia 50 tahun ke atas. Kita butuh 70 ribu penyuluh. THL 23 ribu, kita kurang 20 ribu orang. Kita lalu diskusi dengan Kasad TNI, ternyata beliau lebih tahu soal pertanian. Akhirnya kami sepakat di depan Presiden Jokowi bagaimana kita manfaaatkan Babinsa. Yang bisa menyatukan ketahanan pangan adalah ketahanan negara," ujarnya.

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, ada 7 komoditi impor yang akan kita fokuskan.Pertama, padi masih impor, begitu naik 1 %, 2 %, sampai 5 %, langsung naik harganya. Kalau kita impor terus itu berarti menguatkan petani negara lain. 

 Kedua, bawang merah. Di Brebes 50 ribu ton, sementara kebutuhan nasional 90 ribu ton."Saat panen bawang merah di Brebes minggu lalu kami beli 10 truk bawang merah senilai Rp 3 miliar. Beli, dan langsung bawa ke Pasar Induk Kramat Jati," ujarnya.

Dilanjutkannya, harga bawang merah di tingkat petani Rp 6.800 per kilogram.Petani jual mulai Rp 8 ribu sampai Rp 11 ribu per kilogram, sedangkan harga di tingkat konsumen jadi Rp 40 ribu per kilogram, ada kenaikan 400 persen.

"Kita pasok 80 ton bawang merah dari Brebes ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur dengan harga Rp 20 ribu per kilogram. Hari ini kami cek Rp 21 ribu per kilogram," jelasnya.

Andi Amran Sulaiman mengakui telah mendatangi 200 kabupaten dan ada berbagai persoalan yang dihadapi."Bulog tak bisa hadir di tengah-tengah petani karena regulasi. Bulog tak pernah ketemu langsung dengan petani karena adanya regulasi. Tidak bisa hadir di tengah-tengah petani, makanya kita masih impor,"katanya.

Sementara menjawab pertanyaan wartawan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pihaknya fokus pada penyerapan beras bekerjasama dengan Kementerian Koperasi, Kementerian Perdagangan, Perum Bulog, dan TNI AD.

 Kementerian Pertanian juga akan melaksanakan pasar murah, misalnya ,untuk komoditi bawang merah di 12 titik sampai Hari Raya Idul Fitri mendatang."Insya Allah, Jumat, 19 Juni 2015, kami akan lakukan panen bawang merah di Bima NTB," selanya.

Memasuki bulan Ramadhan dan jelang Lebaran 2015 untuk tok beras cukup sebesar 20 juta ton untuk kebutuhan 6 sampai 7 bulan ke depan.

"Daging juga cukup, tiga bulan sebelumnya sudah disiapkan. Stok pangan aman jelang Lebaran tahun ini. Setiap jelang Lebaran memang naik 1 persen sampai 2 persen, itu hal biasa harga naik, asal jangan terlalu tinggi ya. Namun, kalau harga naik satu persen sampai dua persen jangan langsung berfikir untuk impor. Impor adalah pilihan terakhir," jelasnya. (lasman simanjuntak)




eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini