Ads


» » » Mentan: Peneliti Biasanya Kurang Bicara, Tetapi Banyak Kerjanya !

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sedang memberikan arahan dan masukkan kepada para peneliti Litbang Pertanian saat meninjau Laboratorium Sumber Daya Terpadu, Balai Penelitian Tanah, di Jalan Tentara, Cimanggu, Bogor, Jumat siang (5/6/2015). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Bogor, BeritaRayaOnline,-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terharu sekaligus sedih melihat  " Sinkronisasi Program Litbang Dalam Rangka Mendukung Akselerasi Pencapaian Swasembada Pangan" yang menjadi tema Rapat Kerja (Raker) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian berlangsung di Cimanggu, Bogor, Jumat (5/6/2015).

"Alhamdulilah... kami urut. Mulai gambar padi. Sangat indah, kami bangga karena produksi naik, padahal di satu sisi kita masih import beras. Gambar kedua, jagung. Saya bangga, jagungnya besar, tetapi alhamdulilah, jagung masih import tahun lalu 3 juta ton...," kata Mentan langsung disambut tepuk tangan dan tawa lepas dari para peserta Raker Balitbang Pertanian.

Lalu, kedelai. Mudah-mudahan bukan kedelai import. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman lalu bertanya,  produksi kedelai saat ini berapa? Produksi hanya 2,5 ton, harus cari yang 5 ton.

"Tugas Litbang Pertanian cari yang lima ton ya.Biasanya peneliti itu miskin.Kami pernah jadi peneliti 13 tahun, pengusaha 8 tahun, dan birokrat 15 tahun. Peneliti biasanya kurang bicara, tetapi banyak kerjanya, termasuk yang hadir di sini," ujarnya dalam lagi-lagi disambut apllaus tepuk tangan meriah para peserta raker pagi itu.

Andi Amran Sulaiman mengatakan royalti Rp 800 juta."Alhamdulilah, biasanya dibagi berapa ya.40 persen, berarti Rp 12 juta per peneliti. Itu baru pemanasan kok," selanya.

Kemudian cabe dan bawang. Bawang masih import.Buat nanti kita tanam bawang berdasarkan keunggulan komparatif, tak boleh lagi fokus pada wilayah.

" Kita memilih tujuh kualitas. Ini  berdasarkan wilayah. Brebes, jangan lagi bergerak dari sana. Sulawesi Utara dan Bima, selesai. Jangan berikan ke lain. Litbang Pertanian wajib hadir di tengahnya, mengerti maksud saya? Buat percontohannya, dan kerjasama dengan petani. Litbang hadir di tengahnya memberi contoh. Karena ada 3000 hektar, kalau Litbang bisa contoh di sana 1000 hektar, enggak apa-apa. Jadi, 30 persen jadi contoh. Anggarkan. Anggaran Kementan ke depan Rp 30 triliun, bahkan Presiden Jokowi di koran bilang anggaran Kementerian Pertanian jadi Rp 45 triliun," ujarnya.

Masih bicara tentang bawang, Mentan mengatakan bawang import 30 ribu ton. Padahal, solusinya cuma  satu desa, di Indonesia ada 70 ribu desa." Di Tapin aja solusinya 30 ribu hektar, selesai itu import. Buat desa khusus tanam bawang,"pesannya.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman minta penelitian ke depan ditingkatkan dan fokus pada tujuh komoditi. Jangan tujuh komoditi belum selesai, cari masalah yang baru. Selesaikan dulu rumah tangga kita yang menyangkut tujuh komoditi pangan tadi yang masih import.

"Juga mekanisme. Masa depan pertanian dan bangsa ini ada di Litbang Pertanian," ucapnya.

Dilanjutkannya lagi, kami ingin penelitian jagung di Kabupaten Maros. Berapa hektar jagung dan berapa hektar luas lahan di sana.

"40 hektar yang ditanam jagung, produksnya 13 ton.Tolong Pak Kepala Balai naikkan anggaran untuk penelitian di sana 13 ton.Lanjutkan penelitian, bapak nanti saya nilai basis kinerjanya.Yang 13 ton dikembangkan terus.Bisa enggak dtiingkatkan menjadi 500 hektar, nganggurnya sedikit. Ini bukan petarung.Bilang bisa, titik.Belum saya suruh bikin roket terbang ke bulan. Anggaran disiapkan500 hektar ya. Dibuat kluster-kluster, nanti yang beli Kementerian Pertanian juga,"pesannya lagi.

Untuk tebu, di Malang produksinya mencapai 5 hektar. di Pati, Jawa Tengah, 20 hektar.

 "Tebu saat ini 5 hektar di Malang. Genggam petaninya, saya minta 500 hektar sampai dengan 1000 hektar. Kasih benih, pupuk, dan traktor. Dana ada, pasar ada, Kementerian Pertanian yang beli. Anggaran siap baik dari Ditjen Tanaman Pangan maupun dari Ditjen Perkebunan. Rendemen bisa 8 persen, rata-rata nasional 7,6 persen. Di Thailand mencapai 10,2 persen.Usahakan rendemen 10 persen ya...," ucapnya.

Khusus mengenai jaringan irigasi, di depan peserta Raker Balitbang Pertanian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta agar dipantau jaringan irigasi dimasing-masing daerah.

"Litbang bisa ya pantau irigasi masing-masing daerah. Target kita 3 juta hektar per tiga tahun dari permintaan Bapak Presiden Jokowi. Namun, Kementerian Pertanian sanggup selesaikan satu tahun 833 ribu hektar, selesai Mei. Insya Allah memasuki musim kering atau kemarau, 2 juta hektar jaringan irigasi tersier dapat diselesaikan. Anggaran tahun ini untuk 2,6 juta hektar. Saya minta satu kabupaten, satu orang awasi irigasi," katanya. (pulo lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini