Ads


» » » Prof.Dr.Bambang Sutaryo : Kenaikan Produksi Padi Tumbuhkan Optimisme Menuju Swasembada Beras

Prof.Dr.Bambang Sutaryo (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Bogor, BeritaRayaOnline, Dalam dua hingga tiga tahun mendatang, Indonesia dituntut untuk berswasembada pangan.Untuk merealisasikan swasembada pangan pemerintah memprioritaskan empat hal yaitu penyediaan bibit unggul, pupuk, waktu tanam yang tepat, dan perbaikan fasiitas pengairan.

Demikian Prof. Dr.Bambang Sutaryo, dalam Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pemuliaan dan Genetika Tanaman berjudul "Prospek Perakitan dan Pengembangan Padi Hibrida Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan" berlangsung di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Bogor, Jumat siang (26/6/2O15). Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Dr.Ir.Muhammad Syakir, MS.

Mengacu pada kondisi produksi pangan dalam lima tahun terakhir (2OO9-2O13) pemerintah menargetkan swasembada beras pada 2O15 sebanyak 65,7 juta ton, swasembada jagung pada 2O16 sebanyak 2O juta ton, dan swasembada kedelai pada 2O17.Dalam kurun waktu 2OO9-2O13 produksi padi tertinggi di Indonesia terjadi pada 2O13 yaitu 71,28 juta ton.

"Kenaikan produksi padi ini menumbuhkan optimisme menuju swasembada beras.Belajar dari keberhasilan capaian ini pemerintah mengamanatkan Indonesia untuk mandiri pangan," katanya.

Dr.Ir.Bambang Sutaryo menjelaskan pada 2O14 Indonesia diharapkan surplus beras sebesar 1O juta ton.Laju peningkatan produksi padi tidak hanya didasarkan atas pertimbangan tersedianya bibit unggul, pupuk, waktu tanam yang tepat, dan pembangunan fasilitas pengairan, tetapi juga ditentukan oleh interaksi antara luas areal tanam dan produktivitas.

Peningkatan produksi terkait dengan implementasi sistem intensifikasi padi yang didukung inovasi teknologi, antara lain penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi dan toleran cekaman lingkungan.

Untuk mendapatkan varietas unggul padi dengan sifat yang diinginkan dapat diupayakan melalui persilangan dengan metode inbrida dan hibrida.

Pada 2O11, penggunaan varietas unggul padi di Indonesia didominasi oleh Ciherang dengan penyebaran di masing-masing provinsi berkisar antara 47 persen sampai 5O persen dan diikuti oleh varietas unggul lain seperti IR64 (7,81 persen),Mekongga (5,55 persen), Cigeulis (4,33 persen) dan Ciliwung (3,35 persen).

Selanjutnya diikuti oleh varietas lokal antara lain Bengawan, Ketan Lusi, Gropak, dan Markoti dengan luas penyebaran 15 persen yang semuanya adalah varietas inbrida.Namun,peningkatan produksi varietas unggul baru inbrida ini masih terkendala oleh diversitas genetik yang terbatas.

Sejak pencapaian swasembada beras pada 1984 dengan produksi 25,8 juta ton, pemerintah mengkombinasikan program ekstensifikasi seperti penggunaan varietas pada tipe baru dengan hasil tinggi.

"Namun swasembada beras tidak dapat bertahan lama antara lain disebabkan oleh alih fungsi lahan yang belum terkendali dan produktivitas yang melandai," ucapnya.

Untuk mengatasi permasalahan stagnasi produktivitas tersebut antara lain dapat ditempuh melalui pengembangan varietas padi hibrida.Peluang pengembangan hibrida di Indonesia cukup besar dengan dukungan bioteknologi Marker-Assisted Backcrossing (MAB), Marker-Assisted Selection (MAS), Quantitative Trait Loci (QTL), Simple Sequence Repeats (SSR), mikrosatelit RM9 dan teknik kultur anthera.

"Selain itu juga dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi padi hibrida tipe baru atau padi hibrida super dan pemuliaan padi hibrida sistem dua galur.Melalui dukungan inovasi teknologi tersebut diharapkan akan meniblngkatkan produktivitas padi,"ujarnya.

Ditambahkannya, berkaitan dengan hal-hal tersebut, orasi ilmiah ini menguraikan dinamika dan perkembangan perakitan padi hibrida terutama di Indonesia dengan harapan dapat dijadikan sebagai landasan kebijakan dalam mendukung program swasembada beras secara berkelanjutan.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini