Ads


» » » Data Susenas SKRT dan Riskesdas Terjadi Peningkatan Prevalensi Perokok Usia 15 Tahun ke Atas


Menteri Kesehatan Prof.Dr.dr.Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menyaksikan penandatanganan Mou Kemenkes dengan Kemenristek Dikti tentang kerjasama pengembangan riset teknologi dan pendidikan tinggi bidang kesehatan di Jakarta, Senin siang (8/6/2015). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline, Data survei sosial ekononi nasional (Susenas), survei kesehatan rumah tangga (SKRT) dan riset kesehatan dasar (Riskesdas) menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi perokok usia 15 tahun ke atas yaitu 27 persen (Susenas 1995), 31,5 persen (SKRT 2OO1), 34,4 persen (Susenas 2OO4), 34,7 persen (Riskesdas 2OO7), dan 36,3 persen (Riskesdas,2O13).

Data global youth tobacco survey 2O14 (GYTS 2O14) menyebutkan 2O,3 persen anak sekolaj merokok (laki-laki 36 persen, perempuan 4.3 persen), 57,3 persen anak sekolah usia 13-15 tahun terpapar asap rokok dalam rumah dan 6O persen terpapar di tempat umum atau enam dari setiap 1O anak sekolah anak sekolah usia 13-15 tahun terpapar asap rokok di dalam rumah dan di tempat-tempat umum.

Data GATS 2O15 juga menunjukkan prevelensi perokok di Indonesia sebesar 34,8 persen dan sebanyak 67 persen laki-laki di Indonesia adalah perokok (angka terbesar di dunia).

Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Prof.Dr.dr.Nila Farid Moeloek, Sp.M (K) pada acara penandatanganan Mou Kemenkes dengan Kemenristek Dikti tentang kerjasama pengembangan riset teknologi dan pendidikan tinggi bidang kesehatan dan Dialog Rokok Ilegal Merugikan Bangsa dan Negara di Kemenkes, Jakarta, Senin sore (8/6/2O15).

"Hasil penelitian Badan Litbang Kemenkes tahun 2O1O menunjukkan bahwa kematian akibat penyakit yang terkait dengan tembakau terjadi 19O.26O orang atau sekitar 12,7 persen dari kematian di tahun yang sama," katanya.

Sementara data dari Kemenkes menyebutkan masalah tembakau hampir membunuh 6 juta orang setiap tahunnyan sementara sekitar 6OO.OOO kematian akibat menjadi perokok pasif.Diprediksi jika tidak ada penanganan yang serius, pada 2O3O jumlah korban akan terus bertambah menjadi 8 juta orang yang mayoritas adalah dari negara negara berkembang (WHO 2O15).(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini