Ads


» » » Petani Bojonegoro Menjerit Harga Gabah Terus Anjlok

Bojonegoro, BeritaRayaOnline,-Harga gabah hasil panen padi di tingkat petani di Kabupaten Bojonegoro terus anjlok pasca musim panen tahun ini. Kondisi ini membuat para petani makin menjerit dan mengharapkan harga gabah hasil panen tetap stabil.

Sukir, petani di Dusun Glagah, Desa/Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro mengungkapkan, pasca panen terakhir, harga gabah yang dihasilkannya terus merosot harganya dari semula Rp3.500 per kilogram (Kg), dalam sebulan terakhir ini turun menjadi Rp3.200, kemudian turun lagi menjadi Rp3.000, bahkan sempat di harga Rp2.800 per kilogramnya yang terjadi di desa Sakirman.

"Pada awal musim panen dulu harga jual gabah masih di kisaran Rp4.200. Kemudian memasuki panen raya harga anjlok di kisaran Rp3.500, lalu turun lagi Rp3.200/kg dan kini anjlok lagi di kisaran Rp 3.000/kg," ungkapnya saat ditemui di areal sawah yang digarapnya, Rabu (6/5/2015).

Akibat harga jual gabah hasil panen terus anjlok, petani sudah tentu merugi dan tidak cukup untuk biaya tanam kedua. Belum lagi hasil panen padi di lahan sawahnya tidak maksimal akibat serangan hama.

"Kalau normal satu hektare lahan sawah itu mampu menghasilkan 7-8 ton gabah," ujarnya sambil menjemur gabah padi.

Saat ini lahan persawahan di wilayah Bojonegoro yang panen padi hampir habis. Tercatat sebanyak 103 ribu hektare lahan sawah di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo dan di daerah lainnya mulai tanam padi kedua.

Dengan kondisi harga gabah yang anjlok, tak ayal tengkulak gabah banyak mengincar hasil panen padi di Kabupaten Bojonegoro. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Jombang, Gresik, Banyuwangi, Blora, dan Pati, dan Jawa Tengah.

Petani lainnya, Haryono mengungkapkan, para tengkulak mengincar hasil panen padi di Bojonegoro karena dikenal sebagai daerah lumbung pangan. Karena Bulog enggan menerima hasil panen petani setempat, membuat banyak gabah dibeli tengkulak dari luar daerah. 

“Rendahnya harga gabah di Bojonegoro ini karena permainan para tengkulak. Bahkan tengkulak itu masih menyetorkan gabah sini ke tengkulak lainnya, bisa sampe ke tiga tengkulak, setelah itu entah kemana,” ujarnya.

Saat harga gabah jatuh, Divisi Regional III Sub-Bulog Bojonegoro dinilai kurang memainkan perannya untuk menyerap gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) yang sudah ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.700 per kilogram berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2015.

Haryono menjelaskan, petani setempat enggan berurusan dengan Bulog dikarenakan persyaratan yang ditetapkan oleh Bulog terlalu memberatkan para petani yang rata-rata areal sawah yang digarap kecil. Sementara syarat yang diajukan Bulog misalnya kualitas kadar air gabah yang tidak boleh terlalu tinggi dan jumlah produksi yang disetorkan harus banyak.

"Jika bisa memenuhi syarat itu baru gabah dibeli Bulog dengan menandatangani kontrak. Tapi di sini rata-rata yang dihasilkan petani tidak bisa memenuhi persyaratan itu," ungkapnya.

Penyerapan yang dilakukan oleh Bulog di lapangan memang masih belum maksimal karena terkendala kualitas gabah dan beras yang tidak sesuai ketentuan Inpres. Sebagai contoh, berdasarkan Inpres No.5/2015, HPP berlaku untuk GKP dengan kadar air maksimum 25%, sementara banyak beras petani yang kadar airnya di atas 25%, bahkan di atas 30%.

Petani menilai, proses yang berbelit-belit tersebut membuat petani lebih memilih menjual hasil panennya ke tengkulak meski harga rendah. Karena petani terdesak dengan modal untuk mengejar tanam berikutnya.

Di tempat yang berbeda, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta Bulog agar lebih kreatif dalam menyerap gabah supaya harga gabah petani tidak terjun hingga di bawah HPP yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, Bulog harus cepat turun ke lapangan untuk menyerap gabah petani dengan harga sesuai HPP agar para petani tak merugi.

Namun, menurut Mentan Amran, Bulog harusnya bisa menyiasati masalah tersebut melalui kerjasama dengan penggilingan-penggilingan berskala kecil. Gabah-gabah yang masih basah bisa saja ditingkatkan kualitasnya di penggilingan-penggilingan padi yang memiliki banyak alat pengering (dryer).

"Kadar air kan bisa disiasati, harus kreatif menyerap produksi petani, jangan menunggu mereka," ucap Mentan Amran.

Mentan Amran menambahkan, bila hanya mengandalkan pengadaan dari penggilingan besar saja, Bulog akan kesulitan. Karena itu, jaringan semut Bulog perlu lebih dioptimalkan.

"Kerjasama dengan penggilingan kecil. Bulog harus bekerja keras, kan punya jaringan semut, harus lebih dioptimalkan," pungkasnya.(siaran pers humas kementerian pertanian/lasman simanjuntak)
------------------------------------------------------------------------------

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini