Ads


» » » Jika Gangguan Tiroid Ditemukan pada Bayi Di Bawah Tiga Bulan ,Kesembuhannya Bisa 100 Persen

Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Mediko Legal, Drg.Tritarayati, SH, MHKes, sedang memberikan kepada wartawan usai mewakili Menteri Kesehatan  membuka Seminar Publik dan Peringatan Pekan Peduli Tiroid Internasional di Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa pagi (26/5/2015). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Tindakan skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada bayi-bayi baru lahir menjadi penting karena semakin cepat penyakit ditemukan akan semakin baik proses pengobatannya. Jika gangguan tiroid ditemukan pada bayi di bawah tiga bulan, maka tingkat kesembuhannya bisa 100 persen.

Demikian dikatakan Drg.Tritarayati,SH, MHKes, Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Mediko Legal dalam Seminar Publik dan Peringatan Pekan Peduli Tiroid Internasional di Kemenkes, Jakarta, Selasa pagi (26/5/2015)."Tindakan skrining hipotiroid  kongenital atau SHK perlu masuk ke dalam program BPJS Kesehatan,"ujarnya.

Kementerian Kesehatan saat ini tengah membahas kemungkinan tindakan skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada bayi-bayi baru lahir, dan masuk dalam layanan BadanPenyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

"Tiindakan skrining hipotiroid kongenital perlu masuk ke dalam program BPPJS Kesehatan sebagai bagian dari upaya prevetif dan promotif. Bila program tersebut berjalan dengan baik, maka pemerintah akan menghemat banyak uang, karena sumber daya manusia yang berkualitas," kata Drg.Tritarayati,SH, MHKes, Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Mediko Legal.

Dijelaskannya lagi, gangguan tiroid bukanlah jenis penyakit menular, tetapi bisa menimbulkan kanker tiroid, auto imun, gangguan kesuburan, depresi, dan defisiensi iondium. Pada bayi yang terkena gangguan tiroid, jika tidak diobati akan mengakibatkan keterbelakangan mental.

Kekurangan Hormon Tiroid

Gangguan tiroid merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih banyak dialami masyarakat Indonesia. Masalah ini disebabkan oleh kekurangan hormon tiroid akibat kurangnya asupan yodium dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian  sambutan Menteri Kesehatan RI Prof. Nila F Moeloek SpM(K) yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Mediko Legal, drg Tritarayati SH, MHKes, pada pembukaan  Seminar Publik dan Peringatan Pekan Peduli Tiroid Internasional di  Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa pagi (26/5/2015).

Menurut Menkes,  berdasarkan hasil pemeriksaan skrining hipotiroid kongenital (SHK) dari 2000-2014 di beberapa kota Indonesia, ditemukan kasus positif dengan proporsi sebesar 0,4 per 1000 bayi baru lahir. Bila tidak diintervensi, diperkirakan pada usia 16-26 tahun mendatang akan ada sekira 24.000-39.000 penduduk Indonesia berpotensi mengalami risiko gangguan tiroid.

"Kekurangan hormon yang dialami bayi sejak lahir dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan, perkembangan dan keterbelakangan mental. Gangguan tumbuh kembang ini akan berakibat peningkatan angka beban psikososial hingga kerugian ekonomi," ucap Menteri Kesehatan Prof.Nila F Moeloek, SpM (K).

SHK telah menjadi standar pelayanan bagi semua bayi yang ingin melakukan deteksi dini gangguan tiroid yang sudah tertuang dalam aturan Permenkes No 25 Tahun 2014 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Anak dan Permenkes No 27 Tahun 2014 tentang SHK.

Pekan peduli tiroid tahun ini mengangkat tema "Cegah Dirimu dari Gangguan Tiroid". Tema ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang pemerintah yang mengutamakan upaya promotif preventif dalam penanggulangan masalah kesehatan masyarakat yang diimplementasikan bersama seluruh komponen masyarakat.(dbs/lasman simanjuntak)



eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini