Ads


» » » Masyarakat Dipersilahkan Mengadu ke MKDKI Bila Ada Dokter Langgar Etika, Disiplin, dan Pidana

Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, Prof.DR.dr.Bambang Supriyatno, Sp.A (K), didampingi Prof. Farid Anfasa Moeloek, dr.SpOK (K), Ketua Konsil Kedokteran KKI periode tahun 2005-2009 sedang memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (20/5/2015) usai membuka Sarasehan Dasawarsa Konsil Kedokteran Indonesia dan Dialog, bertemakan "Kemandirian pengaturan profesi kedokteran (dokter dan dokter gigi) dalam menghadapi tantangan masa kini dan mendatang". (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline,-"Masyarakat dipersilahkan mengadu ke Konsil Kedokteran Indonesia atau KKI bila ada dokter yang melanggar etika, disiplin, serta melanggar pidana dengan menyertakan identitas diri, siapa yang diadukan, dan kejadiannya ada dimana.Nanti kasus pengaduan akan kita serahkan kepada Majelis Kehormatan (MK) Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).MKDKI akan melakukan tindakan semacam menjewer, bukan pidana," kata Prof.Bambang Supriyatno, MD, Ph.D, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) didampingi Prof.Farid Anfasa Moeloek, mantan Menteri Kesehatan periode tahun 2000-2005 yang juga Ketua Konsil Kedokteran KKI periode tahun 2005-2009.

Berbicara kepada wartawan usai membuka Sarasehan Dasawarsa Konsil Kedokteran Indonesia dan Dialog "Kemandirian Pengaturan Profesi Kedokteran (dokter dan dokter gigi) Dalam Menghadapi Tantangan Masa kini dan Masa Mendatang" di Jakarta, Rabu pagi (20/5/2015, Prof.Bambang Supriyatno, MD, Ph.D mengatakan lagi dari tahun ke tahun jumlah pengaduan ke MKDKI semakin meningkat.

"Namun MKDKI tak boleh aktif. Misalnya, mencari di sana ada malapraktik. Kita hanya menunggu pengaduan dari masyarakat. Umumnya masyarakat ngadu merusak kulit dengan pisau untuk kebidanan dan bedah. Kesalahan lain barangkali mau bedah kaki kanan, tetapi yang dibedah kaki kiri. Atau cabut gigi atas, tetapi yang dicabut gigi bawah he...he...he... ini sekedar contoh pengaduan," ujarnya sambil tertawa lepas.

Berdasarkan data-data yang masuk sampai April 2015 jumlah pengaduan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) mencapai 317. Profesional medis yang diadukan berdasarkan spesialisasi antara lain  internist, mata, anastesi, syaraf, kulit, paru, jantung, ortopedi
, kesehatan jiwa, forensik, bedah mulut,  dan masih banyak lagi.Sumber pengaduan masyarakat (297), institusi (9), Dinkes, Depkes, Asuransi, Ten-Kes (11).

Trilogi

Sebelumnya Prof.Farid Anfasa Moeloek menjelaskan mengenai latar belakang mengapa Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) perlu ada.

"Pada sekitar tahun 1998-1999 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ada konsorsium agar pendidikan kedokteran bisa dijalankan dengan baik.Para senior saya yaitu para Guru Besar kurang puas, harus satu rangkaian dengan  pendidikan, pelayanan dan pendanaan yang harus diatur," ceritanya.

Menurutnya, ada trilogi (tiga hal) yaitu pendidikan dokter/dokter gigi, pelayanan kedokteran, dan pendanaan kedokteran.

"Kita perlu ada Undang-Undang untuk mengatur pendidikan, pelayanan, dan pendanaan ini. Lalu lahirlah Undang-Undang Nomer 29 tahun 2005 UU Praktik Kedokteran. Dalam undang-undang ini diatur tiga unsur trilogi tadi.Harus diatur dengan sebaiknya. Maka lahirlah Konsil Kedokteran Indonesia," katanya.

Di dalam Konsil Kedokteran Indonesia ini ada lembaga yang juga mandiri yaitu Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sebagai wadah pengaduan masyarakat."Yang 'mengadili' bukan hanya dokter, tetapi juga orang awam dan KKI ini bertanggungjawan langsung kepada Presiden," ucapnya.

Kita perlu standar pendidikan, pelayanan, dan pendanaan untuk tentukan kualitas.Pendidikan kedokteran itu mahal, jadi kualitas harus bagus baik itu standar isi, kurikulum, dan kompetisi kelulusan dari Sabang sampai Merauke harus standar.

"Dengan demikian masyarakat mendapat pelayanan yang baik.Untuk pendanaan sekarang sudah ada standar melalui BPJS.Sifatnya gotong royong, dan cross subsidi. KKI harus bisa memberi asupan, dokter juga harus dibayar karena dia juga manusia biasa, sesuai dengan standar.Sehinga standar pendidikan kedokteran, pelayanan kedokteran, dan pendanaan kedokteran, akan lebih bagus lagi," kata Prof.Farid Anfasa Moeloek. (lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini