Ads


» » Laki-Laki Indonesia Menduduki Jumlah Perokok Tertinggi di Dunia

Oleh : Pulo Lasman Simanjuntak-Wartawan BeritaRayaOnline

  Masyarakat Indonesia yang terancam berbagai penyakit berbahaya akibat merokok cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah perokok aktif di kalangan generasi muda Indonesia juga terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan beban ekonomi yang tidak sedikit. Indonesia menjadi tujuan pemasaran produsen rokok dengan resiko kesehatan generasi bangsa.

Indonesiatidak bisa memperjuangkan kepentingan untuk melindungi secara efektif dengan penerapan panduan dan protocol FCTC (The Frame Convention on Tobacco Control/suatu perjanjian internasionalyang mengatur tentang pengendalian masalah tembakau sebagai hasil negosiasi 192 negara anggota Badan Kesehatan Dunia).

Dengan aksesi FCTC, Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti Conference of Party dalam memperjuangkan kepentingannya dan terlibat dalam negosiasi penerapan panduan dan protocol FCTC. Meningkatnya angka kematian akibat Penyakit Tidak menular (PTM) merokok merupakan faktor resiko utama PTM.

Dengan mengaksesi FCTC Indonesia menunjukkan kepedulian dan tanggungjawabnya dalam memberikan perlindungan terhadap hak masyarakat guna mencapai derajat kesehatan optimal sekaligus menyelamatkan  anak-anak dan generasi muda, penerus perjuangan bangsa dari bahaya akibat penyakit akibat konsumsi tembakau. Dengan mengaksesi FCTC, Indonesia akan menjadi bagian dari masyarakat dunia yang bermartabat.

Berdasarkan data dari Global Adults Tobacco Survey (GATS) 2011, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2009, fakta menyebutkan 34,7% prevalensi merokok Indonesia (Riskesdas, 2010), 34,8 % prevalensi merokok Indonesia (GATS 2011).67,4 % laki-laki Indonesia merokok(GATS 2011).Dan, sangat memprihatinkan laki-laki Indonesia menduduki jumlah perokok tertinggi di dunia.20,3% anak sekolah usia 13-15 tahun merokok .

Yang tidak merokok juga terancam.51,3% orang dewasa terpapar asap rokok di tempat kerja. 85,4% orang dewasa terpapar asap rokok di restoran. 78,5% orang dewasa terpapar asap rokok di rumah.68,8% anak sekolah usia 13-15 tahun terpapar asapp rokok di rumah. 78,1 % anak sekolah usia 13-15 tahun terpapar asap rokok di luar rumah.

Contoh buruk orangtua 72,4 % remaja punya orangtua yang merokok, 51,1 % anak sekolah usia 13-15 tahun membeli rokok di warung, dan 59 % anak sekolah usia 13-15 tahun dapat membeli rokok di warung tanpa penolakan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr.Untung Suseno Sutarjo, M.Kes, pada peluncuran materi iklan layanan masyarakat (ILM) yang diluncurkan Kementerian Kesehatan bersama dengan World Lung Foundation di Kantor Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat (22/5/2015) mengatakan selama ini orang tahu bahwa bahaya asap rokok berdampak hanya pada perokok aktif.Namun, sesungguhnya orang yang terpapar asap rokok pun atau yang biasa disebut perokok pasif bisa menerima dampak penyakit serupa.

Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2010) sekitar 95 juta penduduk Indonesia menjadi perokok pasif. Jumlah itu termasuk di dalamnya anak dan perempuan, yang terpapar asap rokok dari lingkungan rumahnya, akibat ada angota keluarganya yang merokok atau terpapar asap rokok di tempat kerja.

"Kami berharap iklan ini memberi inspirasi mereka yang saat ini masih merokok, untuk segera menghentikan kebiasaan buruknya tersebut. Karena kesenangan itu bisa membuat celaka bagi orang lain," kata Sekjen Kemenkes.

Kebiasaan merokok yang tidak sehat tersebut telah memunculkan perokok usia muda. Bahkan, beberapa tahun lalu sempat heboh keberadaan bayi perokok (baby smoker) di Jawa Timur.

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini