Ads


» » » Indonesia Peringkat Tertinggi di Asia Tenggara Dalam Gangguan Tiroid

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Indonesia menduduki salah satu peringkat tertinggi di Asia Tenggara dalam gangguan tiroid yang mempengaruhi lebih dari 1,7 juta orang.Survei ini melibatkan 1.220 wanita dan 500 praktisi kesehatan yang dilakukan dalam kurun waktu Januari sampai Maret 2015.Survei ini dilakukan untuk lebih memahami sikap/pandangan masyarakat terhadap masalah kesehatan yang cukup serius ini.

Survei ini mengungkapkan temuan bahwa kesadaran akan gangguan tiroid masih rendahdan ada perbedaan di tiap daerah di Indonesia dalam mengenali tiroid, merawat, dan bagaimana mendiagnosa tiroid. Survei inijuga menyoroti kesenjangan dalam komunikasi antara pasien dan praktisi kesehatan mengenai kondisi, gejala, dan mengelola gangguan tiroid. Survei ini merupakan bagian dari kampanye untuk meningkatkan kesadaranmasyarakat yang berjudul "Bebaskan Diri Dari Gangguan Tiroid" yang digagas oleh Merck Serono.

Masalah ini di-rilis dalam Seminar Publik dan Peringatan Pekan Peduli Tiroid Internasional berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa pagi (26/5/2015).

Temuan mengenai gangguan tiroid pada perempuan dan anak, dari 1.220 wanita di 6 kota di Indonesia yang diwawancarai, 180 wanita didiagnosa gangguan tiroid, 150 wanita memiliki anak yang didiagnosa mengidap gangguan tiroid, 230 wanita yang baru melahirkan pada kurun waktu 6 bulan terakhir, dan 660 wanita yang tidak terdiagnosis gangguan tiroid, tetapi dianggap beresiko tinggi karena usia (lebih dari 5 tahun), sedang hamil atau mengalami depresi.32 % wanita berada pada kelompok usia 25 tahun-35 tahun dan 68 % berusia antara 36-45 tahun.55 % adalah waniya yang didiagnosa dalam gangguan tiroid dan 45 % memiliki anak dengan gangguan tiroid.

Gangguan tiroid pada wanita dewasa, rata-rata 30 % wanita menunggu lebih dari 12 bulan sebelum akhirnya memutuskan untuk menemui dokter. Hal ini disebabkan karena gejala umum gangguan tiroid seringkali diduga sebagai gejala penyakit lain.14 % tidak mendapatkan pengobatan/perawatan apapun meskipun telah terdiagnosa gangguan kesehatan.

Gejala gangguan tiroid dilaporkan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien , 65% pasien dewasa megatakankelelahan dan lemah otot adalah salah satu gejala awal yang mempengaruhi mereka, 52 % pertama kali menyadari bahwa mereka sulit tidur, 50 % mengalami nyeri otot, 57 % melaporkan bahwa mereka merasa cemas, gelisah, dan mudah marah, 44 % melaporkan bahwa denyut jantung sangat cepat dan jantung berdebar, 42 % menyadari bahwa mereka mengalami tangan gemetar dan 34 % mengalami perubahan berat badan.

Gangguan disfungsi tiroid mempengaruhi  produktivitas, 67 % wanita terpaksa harus mengambil cuti kerja karena kelelahan dan lemah otot, dan 53 % lainnya tidak bekerja karena nyeri otot/ sendi.Gangguan tiroid juga mempengaruhi percaya diri, hampir separuh (43%) wanita melaporkan bahwa mereka menjadi kurang percaya diri dan 21 % lainnya mengatakan bahwa mereka merasa depresi akibat gejala-gejala yang mereka alami.Setelah mendapatkan pengobatanmayoritas wanita mengatakan bahwa mereka merasa lebih siap untuk melakukan pekerjaan mereka, dan dapat lebih fokus memperhatikan rumah dan keluarga mereka serta merasa lebih percaya diri dan depresi yang berkurang.

Gangguan tiroid pada anak-anak, hampir sepertiga paasien (32%) menunggu selama 6 bulan atau lebih sebelum melakukan skrining gangguan tiroid. Bagi anak-anak didiagnosa tiroid memang lebih cepat daripada orang dewasa dengan 72 % orangtua menerima hasil diagnosa dalam kurun waktu 1-2 minggu masa skrining .Gangguan tiroid mempengaruhi pertumbuhan anak, gejala yang paling sering dilaporkan oleh ibu dengan anak gangguan tiroid adalah perkembangan fisik, meliputi susah makan (67%), kelelahan (62%), sulit tidur (49%), dann berat badan yang rendah karena napsu makan yang buruk (40%).

Gangguan tiroid juga mempengaruhi perkembangan sosial anak. 55 % ibu dengan anak didiagnosa gangguan tiroid mengatakan bahwa anak mereka tidak suka bermain denga teman atau keluarga dan 45 % anak tidak masuk sekolah , 41 % anak merasakurang percaya diri karena gejala yang mereka alami dan hampir seperempat (24%) anak memiliki sedikit teman.

Selain gejala-gejala ini hampir 20 % orangtua di seluruh Indonesia mengakui bahwa anak mereka tidak mendapatkan pengobatan untuk gangguan tiroid yang diderita.Mayoritas orangtua dengan anak gangguan tiroid mengatakan bahwa setelah mendapatkan pengobatan, anak-anak mereka bisa bersekolah kembali dan senang ke sekolah, menjadi lebih bahagia, ramah, dan percaya diri. (lasman simanjuntak)







eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini