Ads


» » » Dr.dr.Ekowati Rahajeng : Keamanan Pangan adalah Upaya Cegah Pangan dari Cemaran Biologis, dan Kimia

Temu Media Keamanan Pangan: Temu media keamanan pangan dalam rangka hari kesehatan se-dunia berlangsung di Jakarta, Rabu pagi  (1/4/2015). Hadir sebagai nara sumber Dr.Ekowati Rahajeng, SKM, M.Kes, Plt.Direktur Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Dr.dr.Agustin Kusumayati,Msc,PhD, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Ir.Ita Munardini, MP, Kasubdit Penerapan dan Pengawasan Keamanan Pangan, Ditjen Produksi dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian, dan dari YLKI. (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

 Jakarta, BeritaRayaOnline,-Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda benda lain yang dapat menganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengann agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi (Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 1).

Sedangkan makanan dan/atau minuman yang sudah diolah dan siap untuk langsung disajikan di tempat usaha atau diluar tempat usaha atas dasar pesanan. (Peraturan Pemerintah Nomer 28 Tahun 2004tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan, Pasal 1 ). Makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan kepada standar dan/atau persyaratan kesehataan . (Undang-Undang Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 111 ayat (1) )

Demikian dikatakan oleh Dr.Ekowati Rahajeng, Skm, Mkes, Plt.Direktur Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, dalam acara Temu Media Keamanan Pangan dalam rangka Hari Kesehatan se-Dunia (HKN) di Jakarta, Rabu pagi (1/4/2015).

" Kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah makanan dan minuman yang sudah diolah dan siap untuk langsung disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atas dasar dari pesanandari kemungkinan cemaran biologis kimia, dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi," jelasnya.

Dalam rangka keamanan pangan, lanjutnya, setiap orang yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menyinggung tentang permasalahan pangan di Indonesia, Dr.Ekowati Rahajeng, Skm, Mks, Plt .Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan mengatakan yang pertama adalah higiene sanitasi tempat pengelolaan pangan. Kedua, pencemaranpangan berupa fisik, biologis, kimia (penggunaan BTP dan penyalahgunaan bahan berbahaya).

" Apakah bahan pangan yang kita pilih sudah memenuhi syarat? Bebas pestisida, bebas bahan kimia berbahaya seperti borax, rodhamin B, dan lain-lain, Kemudian tidak busuk aflatoxin, bakteri, dan lain-lain. Bersih bebas dari kerikil, pasir, dan debu, serta berasal dari sumber yang baik," katanya.

Menurutnya, permasalahan pangan yang ketiga yaitu peralatan pengelolaan pangan, keempat penjamah pangan (food handeler), dan kelima keracunan pangan.

Upaya yang telah dilakukan Direktorat Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, yaitu menyusun berbagai NSPK terkait pengelolaan pangan siap saji.Mengimplementasikan NSPK terkait pangan siap saji tersebut melalui berbagai kegiatan antara lain advokasi kepada pengambil kebijakan di daerah baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota.Sosialisasi kepada para pengusaha, asosiasi, organisasi profesi masyarakat, dan lain-lain.

 Orientasi, imlementasi higiene sanitasi pangan di sekolah bagi murid sekolah, guru, dan pedagang/penjamah makanan melalui metoda partisipatori dan permainan ular tangga di 147 kabupaten/kota.Orientasi, implementasi higiene sanitasi pangan di rumah tangga melalui metoda partisipatori di 147 kabupaten/kota, serta implementasi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pada 20.497 desa melalui pilar yang ketiga STBM yaitu pengelolaan air minum dan makanan padatingkat rumah tangga.

Upaya lainyang dilakukan yaitu surveilans keamanan pangan siap saji melalui E-Money HSP .Dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dini terhadap KLB keracunan pangan, maka kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis data terhadap faktor resiko keracunan pangan atau penyakit bawaan pangan dilakukan secara terus menerus dan berkesinamhungan, guna menjamin validitas dan reliabilitas data yang diterima dari provinsi/kabupaten/kota serta dalam rangka pemetaan KLB Keracunan Pangan Siap Saji beserta faktor resikonya.

"Kami juga melakukan koordinasi dan komunikasi dengan lintas program dan lintas sektor terkait dalam penanggulangan KLB keracunan pangan, Kemudian penyediaan media informasi keamanaan pangan siap saji. Guna meningkatkan pengetahuan masyarakat di bidang keamanan pangansiap saji dan faktor resikonya, maka Direktorat Penyehatan Lingkungan menyediakan dan menyebarkan berbagai media informasi dalam bentuk leaflet, poster, dan lain-lain diberbagai event seperti arus mudik Lebaran , perkemahan, pramuka, embarkasi haji, dan kejadian bencana," kata Dr.Ekowati Rahajeng.

Ditambahkannya, dalam rangka meningkatkan kapasitas petugas dalam mengawasi dan membina higiene sanitasi tempat pengelolaan makanan (TPM) siap saji ( rumah  makan/restoran, jasaboga, kantin, warung makanan jajanan,, depo air minum serta usaha pangan siap saji lainnya) di kabupaten/kota, maka secara bertahap sampai dengan tahun 2019 akan dilakukan pelatihan inspektur higiene sanitasi pangan yang terakreditasi bagi petugas di seluruh kabupaten/kota melalui peran B/BTKLPP sesuai wilayah regionalnya di seluruh Indonesia.(lasman simanjuntak)






eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini