Ads


» » » Sekjen Kementan Hari Priyono : Masalah Kesediaan Pangan Sudah Jadi Isu Dunia !

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Masalah pangan akan menjadi salah satu perhatian dunia. Maka dari itu, program swasembada pangan yang ditargetkan pemerintah tercapai pada periode 2014-2019 dapat dipenuhi dengan optimalisasi implementasi kerja sama internasional.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Hari Priyono, mengungkapkan jika masalah kesediaan pangan tidak hanya dihadapi oleh Indonesia saja, tetapi sudah menjadi isu dunia. Oleh karena itu, persediaan lumbung pangan bersama menjadi cara menghadapi ketahanan pangan.

"Kita menyadari masalah pangan akan jadi masalah penting dunia, maka negara-negara semakin intens untuk melakukan kerja sama khususnya di bidang pangan dan pertanian," ungkap Hari, di Kantor Pusat Kementan, Jalan Harsono RM Nomor 3 Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2015) seperti dikutip dari metrotvnewsw.com

Oleh karena itu, terdapat tiga tujuan utama dalam strategi food basket. Pertama menjamin ketahanan pangan di wilayah subregional BIMP-EAGA.

"Jadi kita punya cadangan pangan di tingkat regional, tatkala ada negara membutuhkan, bisa menggunakan itu," jelasnya.

Kedua, mengoptimalkan potensi produk-produk pertanian, peternakan, dan perikanan untuk ekspor. Serta ketiga, mempromosikan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peningkatan peluang ekonomi bagi petani dan nelayan.

Program Swasembada Pangan
Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung program swasembada pangan yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi melalui optimalisasi implementasi kerja sama internasional.

Adapun kerja sama internasional yang sudah berjalan di Indonesia saat ini antara lain berupa Kerja sama Ekonomi Sub Regional (KESR) dan D-8 (Development Eight). Pembentukan swasembada pangan di tingkat regional ini karena adanya ancaman produksi pangan di dunia.

"Ancaman produksi pangan adalah perubahan iklim dan dinamika ekonomi global maka dari itu di tingkat regional kita punya konsen yang sama," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono, di Kantor Pusat Kementan, Jalan Harsono RM Nomor 3, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2015).

Menurut dia, saat ini ada dua bentuk KESR yang aktif, yaitu Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina, East ASEAN Grouth Area (BIMP-EAGA), dan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

Sementara kerja sama D-8 yang beranggotakan negara mayoritas muslim, yaitu Bangladesh, Indonesia, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, Turki, terdapat rencana kerja antarpihak swasta untuk pengembangan pasar produk-produk peternakan unggas.

Ternak Ayam Lokal

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Sekjen Kementan)  Hari Priyono melihat adanya komunikasi yang baik dan intens yang mesti dibangun antara pemerintah dengan asosiasi pengusaha ternak ayam lokal. Hal tersebut menanggapi kabar bangkrutnya 3.600 peternak ayam lokal sebagaimana disampaikan Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) belum lama ini.

"Komunikasi khususnya dalam mengatur supply and demand," kata Sekjen Hari Priyono di Jakarta Selasa (10/3/2015) kepada wartawan usai membuka workshop dukungan terhadap swasembada pangan melalui forum internasional kerjasama ekonomi sub regional (KESR) BIMP-EAGA seperti disiarkan republika online.

Jangan sampai, kata dia, terjadi produksi yang berlebih dalam produksi ayam potong lokal maupun ras, agar harga tidak jatuh karena over supply.

Ditanya soal langkah yang dilakukan kementan sebagai solusinya, ia menyebut ada paket bantuan yang diberikan kepada peternak. Namun ia tak menyebut secara rinci berikut terobosan-terobosannya.

Yang jelas, Hari menyebut konsumen ayam lokal dan ayam ras tidak sama. Keduanya memiliki pangsa pasar masing-masing dan tidak bisa dipersaingkan.

Komunikasi untuk mencari solusi pun perlu dilakuka  dalam urusan distribusi.

 "Kita ini negara kepulauan, jadi diatribusi tidak merata, ada yang sudah panen tapi belum bergerak karena terhambat produkai, ada yang lancar-lancar saja," turutnya.

Terdapat pula perbedaan ongkos distribusi antara kawasan satu dan yang lain. Makanya, penting bagi Kementan untuk mengkaji permasalaha  tersebut.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini