Ads


» » Sekitar 90 Persen Obat Anestesi Buvanest Spinal Prodksi PT.Kalbe Farma Telah Ditarik

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Sekitar 90 persen lebih obat anestesi Buvanest Spinal 0.5 persen heavy produksi PT Kalbe Farma yang diduga sebagai penyebab meninggalnya dua pasien Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, telah ditarik dari seluruh wilayah Indonesia.

"Sembilan puluh persen sudah masuk, tapi jumlah pastinya belum diketahui. Seharusnya Kalbe Farma sudah bisa laporkan angkanya dalam waktu dekat," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Roy  Alexander Sparringa, di Jakarta, Rabu (18/2/2015).

Ia menjelaskan berdasarkan hasil invesitigasi tanggal 15-16 Februari 2015, BPOM pada 17 Februari 2015 memutuskan membekukan izin edar injeksi Buvanest Spinal 0.5 persen heavy produksi industri farmasi PT Kalbe Farma, dan mengeluarkan surat perintah penghentian sementara kegiatan fasilitas produksi larutan injeksi volume kecil Non Beta Laktam milik industri farmasi itu.

Menurut dia, BPOM juga mengeluarkan surat perintah penarikan injeksi asam traneksamat kemasan dus 10 ampul masing-masing lima mili liter (mm) pada nomor batch 629668 dan 630025.

Pada saat bersamaan BPOM terus memonitor pelaksanaan keputusan tersebut, apabila dianggap perlu, akan dikeluarkan lagi keputusan lain untuk melindungi kesehatan dan keselamatan manusia.

"Kami sudah mengamankan produk tersebut, menarik produk tersebut untuk tidak digunakan. Investigasi di sarana produksi, distribusi juga telah dilakukan, termasuk bagaimana pemenuhan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan memastikan Balai Besar Balai POM di daerah terus pantau produk obat tersebut," ujar dia.

Menurut Roy, satu batch produksi terdiri dari 26.000 obat injeksi. Dan sebelumnya belum pernah ada laporan kasus meninggalnya pasien akibat injeksi obat anestesi Buvanest Spinal yang ternyata berisi asam traneksamat seperti yang terjadi di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang.

Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Maura Linda Sitanggang, mengatakan pihaknya langsung mengirimkan berita elektronik ke seluruh intalasi farmasi rumah sakit di Indonesia begitu mendapatkan laporan pada Sabtu pagi (14/2/2015), terkait kasus meninggalnya dua pasien setelah mendapat injeksi obat anestesi di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang.

Selain itu, pihaknya mengirimkan berita elektronik yang sama kepada seluruh direktur rumah sakit di Indonesia melalui jaringan Kementerian Kesehatan untuk mengamankan produk Buvanest Spinal dan tidak menggunakannya sampai ada hasil investigasi dan dikeluarkan regulatory action. "Ada bukti atau tidak ada bukti itu sudah diamankan," tegasnya.

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F Moeloek, mengatakan Kemenkes terus memantau investigasi yang dilakukan BPOM. "Langkah pertama yang kami lakukan setelah mendapat laporan tersebut menelepon BPOM, karena kalau sudah disebut kesalahan obat tentu BPOM harus bertindak. Kami minta laporan terus untuk kasus ini, saya kira (investigasi) ini masih berjalan," katanya.

Selain memantau investigasi BPOM, Kemenkes meminta laporan dari Rumah Sakit Siloam Karawaci dan PT Kalbe Farma.

Perketat Pengawasan
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Pius Lustrilanang, mengharapkan kasus obat anestesi yang diduga menyebabkan meninggalnya dua pasien Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, tidak terulang. "Kita harap tidak terulang di kemudian hari," katanya.

Ia meminta di masa mendatang pengawasan atas produk obat harus ditingkatkan. "Audit harus dilakukan secara menyeluruh hingga seluruh tahap produksi," katanya.

Rektor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Harsoyo, mengatakan selain BPOM, pemerintah dan perguruan tinggi perlu bersinergi mengawasi produksi dan distribusi obat-obatan, makanan, dan kosmetik agar sesuai dengan standar keamanan dan kegunaan.

"Sinergi antara pemerintah dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan ahli dan laboratorium perguruan tinggi itu diperlukan agar obat-obatan, kosmetik, dan makanan yang beredar tidak membahayakan kesehatan masyarakat," katanya. (sib/lasman)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini