Ads


» » » Meskipun Belum 100 Persen, Infrastruktur Penanggulangan Banjir Sudah Tampakan Hasil

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Plt Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi mengungkapkan, meski belum selesai 100 persen, infrastruktur penanggulangan banjir sudah menampakan hasilnya.

“Saat ini tinggi dan lama genangan sudah cukup berkurang, meskipun jumlah genangan masih relatif banyak namun ini merupakan indikasi bahwa infrastruktur-infrastruktur penanggulangan banjir walau belum selesai 100 persen namun sudah mempunyai dampak terhadap penanggulangan banjir,”tutur Mudjiadi saat ditemui wartawan, Jumat siang (13/4/2015).

Mudjiadi sebelumnya mengungkapkan bahwa ada 3 parameter yang menentukan keberhasilan dari pekerjaan penanggulangan banjir, yaitu luas genangan, tinggi genangan dan lama genangan.

Mengenai banjir yang terjadi di tanggal 9-10 Februari 2015, Mudjiadi melihat bahwa hal tersebut diakibatkan oleh kurangnya kapasitas drainase di DKI Jakarta yang hanya mampu menampung air dengan curah hujan 80-100 mm/hari. Sedangkan menurut data BMKG hujan local yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu sampai ada yang mencapai 361 mm/hari.

“Kemarin itu, kita lihat fakta-faktanya bahwa hujan yang jatuh di hari minggu malam sampai senin sore itu banyaknya hujan local di Jakarta yang sangat tinggi dan paling tinggi adalah di tanjung priok mencapai 361 mm dan bahkan di Sunter mencapai 367 mm, dan di tempat lainnya 120-180 mm," ujarnya.

Sedangkan, kata Mudjiadi, hujan yang jatuh di Bogor 60 mm dan Katulampa 77 mm. dengan tinggi curah hujan yang berkonsentrasi di Jakarta itu mengakibatkan genangan, karena kapasitas drainase di Jakarta yang direncanakan waktu itu hanya menanggulangi 80-100 mm.

“Dalam keadaan bagus pun, drainase kota tidak bisa menampung itu dan menghasilkan genangan,”tambah Mudjiadi.

Mudjiadi juga mengungkapkan, pada waktu tersebut, rata-rata status sungai di DKI Jakarta adalah siaga 3 dan 4, hanya satu yang dalam status siaga 1 yaitu di pintu karet.

Penanganan Banjir DKI Jakarta
Selanjutnya Mudjiadi menjelaskan penanganan banjir di DKI Jakarta dibagi menjadi 3, yaitu penanganan di Hulu yang meliputi Bogor, Puncak, kedua di tengah yang meliputi Katulampa, Depok sampai ke Jakarta dan di Pantai Utara atau Muara.

“Di hulu caranya bagaimana hujan yang turun ditahan selama mungkin karena disana ada reboisasi, dan konservasi, selain itu kita juga akan membangun 2 waduk yaitu Sukamahi dan Cimahi, itu dalam rangka bagaimana kita menahan air yang jatuh di hulu ditahan dulu lalu alirkan secukupnya,”tutur Mudjiadi.

Kemudian lanjut Mudjiadi, di daerah tengah, pendekatannya adalah bagaimana  kita meningkatkan kapasitas sungai di Ciliwung ini misalnya dengan normalisasi seperti di Pesanggrahan, Angke dan Sunter selain itu juga penambahan pintu air di Manggarai dan Karet.

Sedangkan di Muara, permasalahan disana,  selain sungai yang meluap juga rob, atau naiknya air pasang melimpas ke daratan, hal ini disebabkan oleh penurunan tanah, yang mencapai 7-10cm per tahun.

“Karena itu di pantura ada seawall, kemudian karena tanahnya turun yang rata-rata di utara itu bahkan sampai elevasi nya minus 3 meter dari permkaan air laut jadi tanggul kita sampai 4 meter, apapun kegiatannya entah itu GSW maupun NCICD, pembangunan tanggul tersebut merupakan keniscayaan dan harus dilakukan, karena kalau tidak bahaya sekali air masuk ke pemukiman,”tambah Mudjiadi. (nrm/puskom pupr/lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini