Ads


» » » Potensi Produk Pangan Indonesia Belum Tergarap Optimal

Jakarta, BeritaRayaOnline,-– Kontribusi produk pangan pada gross domestik produk (GDP) sangat besar mencapai 7,42 persen dari seluruh jenis produk yang ada. Sayangnya potensi tersebut belum tergarap optimal, sehingga mendorong pemerintah melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. 

 “Kita sudah tahu mulai dari sayuran, buah-buahan, beras dan produk pangan lainnya kita sangat tergantung impor,” jelas Ir Adhi S Lukman, Chairman of Program Commite of indonesian Food & Beverage Associantion (Gapmmi) disela penjelasan pameran Food ingredients Asia (Fi Asia)  yang akan berlangsung 15-17 Oktober di Jakarta Expo Kemayoran, Rabu (20/8/2014).

Menurut Adhi dengan jumlah penduduk mencapai 247 juta maka Indonesia adalah pasar yang sangat potensial untuk produk pangan. Sayangnya hingga kini industri pangan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara-negara lain. Upaya mengejar ketertinggalan dalam hal industri pangan, kata Adhi, Indonesia perlu membuka peluang selebar-lebarnya bagi investasi dibidang pangan, baik investor lokal maupun asing. Dengan cara seperti ini maka Indonesia akan bisa lebih siap untuk menghadapi era perdagangan bebas 2015.

 “Harus dengan berbagai cara agar investor bidang pangan bisa masuk ke Indonesia,” lanjutnya.

Hingga kini industri pangan di Indonesia diakui Adhi masih didominasi oleh industri skala rumah tangga. Diperkirakan saat ini ada lebih dari 1 juta pelaku usaha dibidang pangan berskala rumah tangga (home industry) dan hanya sekitar 6000 saja pelaku usaha skala industri besar. Dengan pertumbuhan yang cenderung meningkat dari 5,56 persen menjadi 9,47 persen dan nilaai gross output mencapai Rp 942 triliun pada 2012, menurut Adhi, Indonesia akan menjadi negara tujuan investasi produk pangan terbesar  ketiga setelah China dan Amerika Serikat.

Terkait pameran Fi Asia 2014, Rungphech Rose Chitanuwat, Business Development Director UMB Asia, penyelenggara Food Ingredients Asia menjelaskan bahwa ini adalah even ketiga kalinya yang digelar di Indonesia dalam 4 tahun terakhir ini.

 “Kami mengambil Indonesia sebagai Fi Asia karena potensi pasarnya yang bagus dan pertumbuhan ekonominya yang pesat,” jelasnya.

Fi Asia diakui mengalami pertumbuhan hingga 25 persen per tahun dan terus bertekad mempertahankan posisi ekslusifnya sebagai rute yang terpenting bagi pasar bahan makanan Asia Tenggara. Pameran Fi Asia 2014 ditargetkan akan diikuti oleh 450 peserta pameran dan 13 ribu pengunjung dari 56 negara. Sementara perusahaan dari Indonesia akan mengambil 50 persen dari total luasan area pameran. Fi Asia itu sendiri merupakan salah satu platform jejaring usaha bertemunya para pelaku bisnis dan pembeli makanan minuman seluruh dunia yang diselenggarakan oleh UBM Asia. (poskotanews.com/lasman simanjuntak))

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini