breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Potensi Luas Tanam Padi Secara Nasional MH 2014/2015 Seluas 11.804.172 Hektar

Share This

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Diprediksi awal waktu tanam dominan terjadi pada Oktober II-III dan November I-II serta pada Januari I-II dan Februari II-III. Awal tanam pada Februari II-III umumnya merupakan MT II pada MH 2014/2015, terutama untuk daerah dengan tipe hujan equatorial dan lokal seperti Sumatera dan Sulawesi bagian tengah-utara.

"Potensi luas tanam padi secara nasional selama MH 2014/2015 MT -1 dan MT 2 untuk padi  seluas 11.804.172 hektar yang ditanam selama MT -1  Oktober-Desember seluas 6.521.202 Hektar, dan selama MT-2  Januari-Maret seluas 5.282.970 Hektar, sedangkan potensi luas tanam jagung dan kedelai 1.982.193 Hektar," kata Dr.Haryono, M.SC, Kepala Badan Litbang Pertanian/ Plt.Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, dalam acara launching Katam Terpadu MH 2014/2015 di Jakarta, Senin sore (8/9/2014).

Menurutnya, beberapa catatan penting untuk diantisipasi antara lain (a) wilayah rawan dan sangat rawan kekeringan terdapat disebagian Aceh (24.168 Ha), Sumatera Utara (7.453 Ha), Sumatera Barat (545 Ha), Banten (2.280 Ha),, Jawa Barat (5.695 Ha), Jawa Tengah (36.315 Ha), DI Yogjakarta (13.224 Ha), Jawa Timur (14.058 Ha), NTB (26.101 Ha), Kalsel (3.056 Ha), Sulut (770 Ha), Gorontalo (1.948 Ha), Sulsel (10.431 Ha), dan Sultra (6.778 Ha). (b) wilayah rawan dan sangat rawan banjir terdap[at disebagian Aceh (30.572 Ha), Sumatera Utara (16.867 Ha), Riau (5.382 Ha), Jambi ( 7.271 Ha), Bengkulu (858 Ha), Sumsel (10.393 Ha), Lampung (16.867 Ha), Banten (26.701 Ha), Jawa Barat (54.504 Ha), Jawa Tengah (31.011 Ha), Jawa Timur (27.308 Ha), NTB (2.142 Ha), Kalbar (38.547 Ha), Kalteng (6.756 Ha), Kalsel (5.442 Ha), kaltim (920 Ha), Sulut (563 Ha), dan Sulsel (21.510 Ha). (c) OPT padi dominan, penggerek batang padi dan tikus terdapat dihampir semua provinsi di Indonesia, Kresek, dan Wereng Batang Coklat terdapat di Jawa, sedangkan Blast terdapat di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

A.Sulawesi, rekomendasi varietas padi spesifik lokasi VUB maupun lokal sesuai dengan kondisi agroekosistem lahan (lahan sawah, lahan kering, lahan rawa) preferensi petani/konsumen, serta tingkat kerawanan bencana banjir, kekeringan, dan OPT utama sebagai berikut ;
a. Sumatera : Inpari 1, Inpari 10, dan Inpari 13 serta Mekongga.Khusus Sumatera Barat direkomendasikan Batang Piaman dan Batang Lembang.
b.Jawa, Bali, NTT, dan NTB: Inpari 10, Inpari 13 serta Mekongga.
c.Kalimantan : pada lahan beririgasi, Mekongga ; pada lahan rawa Inpara 1,2. dan 4.
d.Indonesia Timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua: Inpari 10, Tukad Unda, Tukad Balian serta Way Apo Baru.

B.Rekomendasi varietas berdasarkan toleransi terdapat kerawanan bencana sebagai berikut:
a.Varietas rekomendasi untuk wilayah rawan-sangat rawan banjir: Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, Inpari 29, Inpari 30, Kapuas, Batanghari, Banyuasin, Siak Raya, Lambur, Dendang.
b.Varietas rekomendasi untuk wilayah rawan-sangat rawan kekeringan : Inpari 10, Inpari 18, Inpari 19, Situ Patenggang, Limboto, Batutegi, Situbagendit, Inpago 6, Inpago 7, Inpago 8.
c.Varietas rekomendasi untuk wilayah rawan-sangat rawan terserang Tungro: Inpari 5, Inpari 7, Inpari 21, Tukad Unda, Tukad Petanu, dan Tukad Balian.
d.Varietas rekomendasi untuk wilayah rawan-sangat rawan terserang WBC adalah Inpari 2, Inpari 5, Inpari 6, Inpari 10, Inpari 13, Inpari 18, Batang Piaman, Konawe Mekongga, Inpari 31, dan Inpari 33.
e.Varietas rekomendasi untuk wilayah rawan-sangat rawan terserang Blast : Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, Inpari 16, Inpari 17, Batang  Piaman, Situ Patenggang, Batutegi, dan Inpari 32 HDB.
f.Varietas rekomendasi untuk wilayah rawan-sangat rawan terserang Kresek (HDB): Inpari 1, Inpari 4, Inpari 6, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 18, Inpari 19, Conde, Angke, dan Inpari 32 HDB.

Menurut Kepala Badan Litbang Pertanian/Plt Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Dr.Haryopno, Msc, rekomendasi pupuk P dan K per kecamatan yang dimuat dalam S Katam Terpadu veris 2 didasarkan pada status hara untuk pupuk P dan K tanah, tingkat produktivitas dan target hasil tanaman padi untuk pupuk N.

"Semua rekomendasi pupuk disesuaikan dengan ketersediaan pupuk di lapangan dan penggunaan pupuk organik berupa kompos jerami atau pukup kandang," ujarnya.(lasman simanjuntak)


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama