breaking
Gambar tema oleh mskowronek. Diberdayakan oleh Blogger.
Gangguan Jiwa Terutama Depresi Merupakan Faktor Resiko Penting Terjadinya Bunuh Diri

Share This

Jakarta, BeritaRayaOnline,-"Terhubungkan dengan berbagai tingkat pelayanan juga merupakan hal penting untuk mencegah bunuh diri.Gangguan jiwa terutama depresi merupakan faktor resiko penting terjadinya bunuh diri," kata dr.Eka Viora, SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, kepada wartawan di Jakarta, Kamis siang (11/9/2014).

Oleh karena itu upaya pencegahan bunuh diri merupakan upaya multisektor yang berkesinambungan, dan dapat dilakukan oleh individu, keluarga, masyarakat, sektor kesehatan, ekonomi, keamanan, guru, media massa, tokoh agama, dan pengobat tradisionil.

Upaya yang dapat dilakukan individu mengenali pelaku TBD beserta latar belakangnya dan menjalin kontak dengannya. Dengarkan dengan penuh perhatian dan biarkan ia bicara tentang perasaaannya. Kenali masalah dan pahami perasaannya. Hargai pemikirannya dan jangan menyalahkan.

Telusuri situasi sekarang dan pengalaman serta keyakinannya pada masa lalu. Telusuri pilihan alternatif yang postif. Identifikasi cara terbaik untuk menolong mereka dalam situasi krisis. Beri mereka harapan dan optimisme, dan bantu mengurangi beban pikirannya.

"Upaya yang dapat dilakukan oleh individu libatkan dalam kegiatan sosial dan rekreasi, bertemu orang, bicara kepada teman, dengarkan radio, nonton televisi, menghadiri pertemuan sosial. Rujuk kepada konselor atau tenaga kesehatan jiwa seperti psikiater, psikolog atau pekerja sosial. Ikuti saran dari dokter atau konselor secara ketat khususnya kepatuhan terhadap terapi.Dampingi dan bantu dengan segala cara yang mungkin, serta teruskan berinteraksi, mendengarkan dan menawarkan dukungan," kata dr.Eka Viora, SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan.

Sementara upaya yang dapat dilakukan keluarga yakni keluarga merupakan pusat dari semua kegiatan dalam kehidupan individu. Konflik interpersonal hubungan yang terganggu dan kehidupan yang tidak harmonis faktor pencetus yang penting dalam TBD. Keluarga perlu memberikan dukungan dan melakukan upaya untuk mencegah BD.

"Anggota keluarga dapat melakukan upaya yang efektif dengan berbagai cara antara lain identifikasi tanda stress dan kecenderungan BD. Karena ekspresinya sangat unik untuk setiap budaya, keluarga harus mengenalinya. Membina hubungan yang erat dengan pelaku, penuh perhatian, dengarkan, hargai perasaan serta pahami emosinya. Tunjukkan bahwa keluarga ingin menlongnya lebih baik membangun potensi kekuatan pelaku dari pada terpaku pada kelemahannya," jelasnya.

Upaya lain yang dapat dilakukan keluarga yakni jangan tinggalkan ia seorang diri, jauhkan benda-benda yang membahayakan seperti obat-obatan, racun, benda tajam, dan tali. Bangkitkan kembali keinginan untuk hidup. Praktekkan metode penyelesaian masalah dan timbulkan rasa optimis. Minimalkan konflik di rumah dan kembangkan latihan pemecahan masalah bersama anggota keluarga lain. Mendorong untuk mencari pertolongan profesional yang tepat diperlukan konsultasi teratur.

"Bantu atasi krisis dengan berbagai cara yang cocok, tetap mengobservasi dan mewaspadai tindakan, reaksi dan perilakunya. Perhatian khusus pada usia lanjut, penyakit terminal, gangguan jiwa dan penderita cacat. Identifikasi lembaga atau tokoh dalam masyarakat untuk membantu kasus spesifik, misalnya sekolah, tenaga kerja, sosial, institusi kesehatan, toga dan toma. Berikan perhatian yang penuh kasih sayang, pengertian dan dukungan, selain dari memberi obat yang diperlukan secara teratur," katanya lagi.

Sementara upaya yang dilakukan oleh masyarakat yaitu masyarakat mempunyai tanggungjawab yang besar untuk mencegah tindakan bunuh diri (TBD). Masyarakat menciptakan norma perilaku yang membantu anggotanya bertumbuh dengan cara yang positif dan sehat. Masyarakat dalam transisi menurunnya sistem nilai, terjadi konflik dan frustasi. Masyarakat perlu membangun mekanisme pertahanan sosial, advokasi ke pengambil keputusan. Membentuk "hotline" sesuai dengan kebutuhan.Mengembangkan sistem informasi dan komunikasi, misalnya, layanan telepon 24 jam yang dapat dihubungi langsung, menyebarluaskan publikasi tentang "hotline" dan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan, serta membentuk relawan lokal yang dapat membentuk relawan lokal yang dapat memberikan pertolongan darurat terhadap penderita distress atau mereka yang membutuhkan dalam situasi krisis.

Upaya lain yang dapat dilakukan masyarakat yaitu mengembangkan sistem dukungan intersektoral berdasarkan masalah yang ada dan SDM yang tersedia, mengorganisasikan kegiatan promosi keswa dan sosialdi sekolah, perguruan tinggi, industri, rumah sakit, dan masyarakat resiko tinggi dengan melibatkan individu dan keluarga, memberikan informasi yang bermakna kepada media lokal tentang penyebab, situasi dan keadaan BD, serta kembangkan program pendidikan menggunakan bahasa dan dialek setempat sesuai kebutuhan.(lasman simanjuntak)
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama