Ads


» » » Mentan Suswono Akui Produktivitas Produk Pertanian Belum Bisa Imbangi Pertumbuhan Konsumsi Dalam Negeri


Teks Foto  : Menteri Pertanian Suswono didampingi Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menyerahkan penghargaan tingkat nasional di Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin pagi (18/8/2014). (Foto : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta, BeritaRayaOnline,- Menteri Pertanian Suswono mengakui produktivitas produk pertanian belum bisa mengimbangi pertumbuhan konsumsi dalam negeri. Alhasil, impor produk pertanian tidak bisa dihindari.

"Peningkatan kebutuhan karena ada peningaktan pendapatan per kapita dan jumlah penduduk. Inilah yang menjadikan peningkatan konsumsi jauh melebihi dari peningkatan produk yang ada," ujar Menteri Pertanian Suswono  kepada wartawan di Jakarta, Senin (18/8/2014), usai memberikan sejumlah penghargaan tingkat nasional di lingkungan Kementerian Pertanian.

Suswono menjelaskan, sebenarnya sejumlah produk pertanian mengalami peningkatan produksi dalam lima tahun terakhir. Tanaman padi mengalami peningkatan produksi rata-rata 2,6% per tahun dari 64,40 juta ton di 2009 menjadi 71,29 juta ton di 2013.

Sementara produksi jagung mengalami rata-rata peningkatan 1,39% per tahun. Namun, dia mengakui peningkatan produksi belum bisa mengimbang konsumsi.



"Pangan relatif ada peningkatan tapi memang konsumsi meningkat, jadi volume konsumsi meningkat. Tetapi kalau bicara keseluruhan, komoditas pertanian punya sumbangan devisa cukup besar dari perkebunan sehinga surplus perdagngan di sektor pertanian sekitar US$20 miliar. Tapi kalau di pangan sendiri antara yang kita ekspor dan impor memang difisit, ini harus diakui," ucapnya.

Suswono mengungkapkan, tidak berimbangnya peningkatan produksi dengan konsumsi karena sejumlah persoalan. Utamanya, akses lahan untuk petani. Idealnya, akses lahan per petani ialah 2 hektar namun saat ini baru sekitar 0,3 hektar.

"Bandingkan dengan Thailand yang akses lahan per petani sebesar 3 hektar. Sedangkan bila mengacu ke Eropa rata-rata 50 hektar per petani," katanya.

Pun mendapatkan lahan untuk pertanian bukanlah perkara mudah. Lahan seluas 2 juta hektar yang dijanjikan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk pengembangan pertanian sulit direalisaikan. Dari 7,2 juta hektar lahan yang terindikasi terlantar, lahan potensialnya hanya sekitar 4,8 juta hektar.

Sementara lahan yang clean and clear alias tidak digugat sekitar 13 ribu hektar. Adapun lahan yang cocok untuk pertanian hanya sekitar 600 hektar.




Menurut Suswono, lahan sempit sekaligus biaya tinggi membuat produk pertanian domestik sulit bersaing dengan produk pertanian dari negara lain. Agaknya kondisi ini tergambar dalam data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) di mana terjadi peningkatan impor produk pertanian dari US$3,34 miliar di 2003 menjadi US$14,9 miliar di 2013. Impor didominasi produk hortikultura.

Untuk mememenuhi kebutuhan konsumsi memang masih diperlukan impor produk pertanian. Menurutnya, hal tersebut tidak masalah dilakukan asal tidak mengganggu keberlangsung usaha petani. Dalam artian, jumlah yang diimpor harus sesuai perhitungan kekurangan pasokan di dalam negeri.

"Impor boleh masuk pada saat tidak produksi, jadi diatur waktunya kemudian diatur besarannya. Intinya tidak melarang impor tetapi pengaturan," tuturnya

Meski begitu, Kementerian Pertanian terus berupaya mempertahankan dan menggenjot produksi. Semisal tahun ini pihaknya mengejar produksi sebesar 70,24 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini merupakan revisi rencana aksi Bukit Tinggi yang semula sekitar 76 juta ton GKG. Penyebabnya, produksi padi menghadapi persoalan cuaca, lahan, ataupun banjir di awal tahun.

Suswono mengatakan, cara yang ditempuh ialah percepatan tanam dengan memberikan bantuan alat pertanian. Sebagai pilot project akan dilakukan di Sulawesi Selatan dengan lahan pertanian seluas 100 hektar.(metronews.com/lasman simanjuntak)

Foto-foto oleh  : Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini