Ads


» » » Wamentan : Perusahaan Mitra Tetap Perhatikan Standar Teknis Tanaman dan Produksi Kebun Petani

Teks Foto : Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan sedang membuka pertemuan koordinasi program revitalisasi perkebunan 2014 di Hotel Grand Pasundan, Kota Bandung, Kamis pagi (8/5/2014). (Foto  :Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Bandung, BeritaRayaOnline,-"Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan  secara nasional realisasi pencapaian masih belum seperti yang diharapkan.Dan, secara program tahun 2O14 ini merupakan tahun terakhir periode kedua pelaksanaan program revitalisasi perkebunan.Intinya kita kehilangan peluang untuk memaksimalkan fasilitas yang diberikan apakah memang persyaratan kredit ini rumit dan sulit," kata Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan pada acara pembukaan Pertemuan Koordinasi Program Revitalisasi Perkebunan yang juga dihadiri Direktur Jenderal Perkebunan Gamal Nasir di Hotel Grand Pasundan, Kota Bandung, Kamis pagi (8/4/2O14).

Dalam menyikapi pelaksanaan yang telah memasuki tahun terakhir pada periode kedua ini, ada beberapa hal yang dapat disampaikan yaitu :

1.Dalam pelaksanaan dengan pola kemitraan agar perusahaan mitra tetap memperhatikan standar teknis tanaman dan produksi kebun petani peserta agar standar produktivitas tanaman tetap terjaga.

2.Dalam pelaksanaan dengan pola non kemitraan kepala dinas perkebunan baik tingkat kabupaten maupun provinsi agar tetap mengawal pelaksanaan di lapangan baik pengawalab standar tanaman maupun pengembalian kredit.

3.Kepala dinas perkebunan provinsi dan kabupaten agar tetap memperhatikan sasaran yang harus dicapai dalam pembangunan perkebunan melalui program revitalisasi perkebunan dengan pembiayaan dari KPEN-RP ini.

4.Dukungan dari instansi terkait sangat diharapkan dapat penyelesaian kepemilikan lahan baik dari Kementerian Kehutanan, BPN dan pemerintah daerah.

"Saya juga mencatat ada beberapa kendala yang mengakibatkan pencapaian program revitalisasi perkebunan belum sesuai dengan target," ujarnya.

1.Semakin sulit mendapatkan areal pengembangan kelapa sawit yang berada pada satu hamparan dengan topografi yang landai.Pada saat ini lahan yang tersedia tidak berupa hamparan dan topografinya bergelombang hingga berbukit sehingga memerlukan biaya dan teknologi yang lebih tinggi.

2.Kurangnya dukungan dari instansi terkait dalam memberikan informasi ketersediaan lahan dan penyediaan calon petani dan calon lahan dengan tepat waktu.

3.Tersedianya kredit program lain yang lebih diminati oleh bank pelaksana walaupun tingkat suku bunganya lebih tinggi.Namun, mendapat penjaminan sehingga prosesnya dapat lebih mudah dan cepat.

4.Proses penyelesaian sertifikat lahan yang masih berlarut-larut walaupun telah ada Mou antara BPN dan Kementerian Pertanian.Namun, masih memerlukan kesepakatan di tingkat kabupaten, sehingga pada saat pembangunan kebun selesai belum seluruhnya sertifikat lahan dapat diserahkan kepada bank pelaksana sebagai jaminan, dalam hal kelapa sawit sangat memperlambat sertifikasi ISPO.

5.Di beberapa daerah tertentu dimana pengembangan kelapa sawit sawit sudah memasuki tahap peremajaan, sebagian petaninya telah mampu membangun kebun secara swadaya, namun masih kurang dalam memperhatikan standar teknis budidaya atau telah terjadi pengalihan kepemilikan sehingga menghambat peremajaan apabila mengikuti kredit program.


Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan pada kesempatan itu mengatakan lagi meskipun banyak ditemui kendala, namun pada kesempatan ini ia menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Bank Pelaksana KPEN-RP yang telah bersedia menglokasikan dananya, pemerintah daerah, perusahaan mitra serta seluruh pemangku kepentingan dalam rangka untuk oercepatan produksi, produktivitas, mutu tanaman, perkebunan, serta meningkatkan kesejhateraan petani khususnya untuk komoditi kelapa sawit, karet, dan kakao melalui program revitalisasi perkebunan.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini