Jakarta , BeritaRayaOnline,- - Kementerian Pertanian akan meluncurkan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045 pada Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan ke-XIV, di Kabupaten Malang,Jawa Timur, 7-12 Juni2014.

"SIPP ini dirancang sebagai dokumen strategis penyelenggaraan pembangunan pertanian berbasis bio-industri berkelanjutan," kata Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Senin(19/5/2014).

Penas(Pekan Nasional)  merupakan perhelatan empat tahunan yang pada 2014 ini akan mengusung tema "Memantapkan Kepemimpinan dan Kemandirian Kontak Tani Nelayan dalam Rangka Kemitraan dan Jejaring Usaha Tani Guna Mewujudkan Kesejahteraan Petani dan Nelayan".

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan membuka perhelatan yang melibatkan 35 ribu nelayan dan petani ini sebagai partisipan.

Presiden juga dijadwalkan akan berdiskusi dengan perwakilan petani dan nelayan serta meninjau pengembangan inovasi teknologi pertanian.

Seperti tema yang diusung, Suswono mengatakan, perhelatan program kunci pada Penas ini juga mengusung tema besar soal Kepemimpinan dan Kemandirian bagi para petani dan nelayan.

Sebanyak tujuh kegiatan pokok Penas, diantaranya, mengedepankan akses pasar petani dan nelayan, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam usaha pertanian dan perikanan, pemerataan kesejahteraan rakyat, serta adaptasi teknologi untuk kegiatan produksi.

Dari perspektif tersebut, Mentan Suswono menjelaskan, kelompok kegiatan pokok yang dihelat di Penas, adalah apresiasi, kepemimpinan dan kemandirian kontak tani dan nelayan, kemitraan usaha dan jaringan informasi agribisnis, pengembangan teknologi dan kualitas produksi agribisnis, pengembangan wirausaha petani nelayan dan kesadaran lingkungan, sinkronisasi pembangunan pusat dan daerah, serta kesekretariatan.

Mentan mengharapkan Penas dapat menjadi indikator untuk upaya peningkatan kapasitas nelayan dan petani untuk menuju ketahanan pangan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Beberapa unsur organisasi petani dan nelayan yang akan menjadi partisipan Penas adalah Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Persatuan Petani Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI), serta para aparatur pendamping dan peninjau.(antaranews.com/lasman simanjuntak)