Ads


» » » Kepala BMKG : Cuaca di Jabodetabek Bisa Berubah Secara Drastis Dalam Waktu Sehari

Teks Foto : Kepala Badan Meteorologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr.Andi Eka Sakya,M.Eng (Foto :Lasman S/BeritaRayaOnline)

Jakarta, BeritaRayaOnline-Wilayah Jabodetabek saat ini memasuki musim pancaroba. Ini mengkibatkan cuaca bisa berubah secara drastis dalam waktu sehari saja.

"Yang terjadi bisa cuaca panas saat siang hari dan  hujan lebat di siang hari terjadi," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng saat diskusi "  sosialisasi bidang meteorologi klimatologi dan geofisika kepada media massa "  di Hotel Redtop Pecenongan, Jakarta, Rabu (23/4/2014).

Saat ini kawasan Jabodetabek diperkirakan, akhir April ini Jakarta sudah masuk kemarau.  "Namun meski memasuki musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali di Jakarta," katanya.

Menurut dia , terjadinya hujan lebat di sore atau malam hari dalam beberapa hari terakhir di wilayah Jakarta dan sekitarnya, tergolong normal.

Meski Jakarta baru mulai musim kemarau, wilayah lain justru telah memasuki kemarau.  Misalnya di Aceh, sejak Januari lalu telah memasuki musim kemarau.
  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan kegiatan manusia berkontribusi melepaskan karbon ke udara sebesar 30 persen.

Kualitas Udara

"Kita sering berbicara soal kualitas udara, kita bicara perubahan iklim, bagaimana aktivitas manusia berpengaruh pada perubahan iklim? Ternyata kontribusi kegiatan manusia melepas karbon 30 persen dari yang ada di udara," kata Kepala BMKG Dr.Andi Eka Sakya,M.Engkepada wartawan usai membuka Sosialisasi BMKG kepada Media Massa di Jakarta, Selasa (22/4/2014).

Menurut dia berdasarkan pengamatan BMKG pada perayaan Nyepi 2013 di Bali diketahui bahwa konstantasi karbon turun saat tidak ada aktivitas apa pun di pulau tersebut.

"Dan saat ada aktivitas jumlah karbon naik lagi hingga 30 persen. Bukti ini juga telah disepakati IPCC bahwa pemanasan global juga akibat aktivitas manusia," ujarnya.

Andi mengatakan mitigasi menjadi cara yang dilakukan guna mengurangi sumber-sumber emisi karbon. Namun antisipasi kegagalan tentu mengharuskan manusia mampu beradaptasi.

Pemanasan global, lanjutnya, akan semakin meningkatkan kejadian bencana hidrologi. Karena itu adaptasi merupakan langkah yang harus disiapkan menghadapi bencana tersebut.

Salah satu langkah yang BMKG lakukan, menurut dia, dengan menjalankan program Sekolah Lapangan Iklim untuk petani dengan mengajarkan kapan waktu yang tepat menanam. "Jadi program untuk petani ini bertujuan membuat mereka paham secara lokal kapan waktu tepat untuk tanam. Perkiraan saya, dengan menentukan waktu tanam yang pas mampu menaikkan padi hingga delapan ton per hektar lahan," ujar dia.

Program tersebut, lanjutnya, telah mulai ada di 25 provinsi. Rencananya BMKG akan mendengarkan testimoni dari petani-petani yang sukses mengikuti sosialisasi program adaprasi tersebut.(dbs/lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini