Ads


» » » Wilfried H.Purba : Peta Ini Dikembangkan pada 20 Kabupaten/Kota Tersebar di Lima Provinsi !

Jakarta,BeritaRayaOnline,-"Dalam mencapai tujuan tersebut besar tersebut kegiatan proyek dapat dibagi menjadi tiga bagian.Kegiatan pada bagian kedua dan ketiga dilakukan oleh Kementerian Kesehatan," jelas Drh.Wilfried H.Purba Direktur Penyehatan Lingkungan,Kementerian Kesehatan didampingi Budi Hariyanto, Ketua Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia dalam Seminar Nasional Hasil Kajian Kerentanan Bidang Kesehatan Akibat Perubahan Iklim Terhadap Demam Berdarah Dengue dan Malaria dalam rangka memperingati Hari Kesehatan se-Dunia di Hotel Santika, TMII, di Jakarta, Kamis (17/4/2O14).

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai ketiga bagian proyek tersebut.
1.Kajian basis ilmiah tentang hubungan antara perubahan iklim dan penyakit DBD dan Malaria dengan keluaran berupa model proyeksi dan peta kerentanan penyakit DBD dan Malaria.

"Peta ini dikembangkan pada 2O kota/kabupaten yang tersebar di lima provinsi meliputi Sumatera Barat,Jawa Timur,Bali,DKI Jakarta dan Kalimantan Tengah,"katanya.

Sosialisasi dan advokasi kepada petugas kesehatan pembuat kebijakan tingkat provinsi dan kabupaten di tiga provinsi yaitu Provinsi Sumatera Barat, Jawa Timur,dan Bali untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak perubahan iklim terhadap perubahan pola DBD dan Malaria, serta masyarakat yang rentan terkena dampak.

"Dari kegiatan ini diharapkan timbulnya dukungan dari pihak daerah khususnya terkait kebijakan adaptasi untuk menanggulangi dampak perubahan iklim terhadap DBD dan Malaria," jelas Drh.Wilfried H.Purba.


Kegiatan capasity bulding untuk petugas kesehatan dan fasilitator yang akan ditempatkan pada dua kecamatan/desa di masing-masing kabupaten/kota terpilih di Provinsi Sumatera Barat dan Jawa Timur dengan tingkat kerentanan tertinggi sebagai wilayah sasaran kegiatan.Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk lokakarya untuk meningkatkan kapasitas petugas kesehatan agar dapat memfasilitasi masyarakat dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan pola penyakit DBD dan Malaria akibat dampak perubahan iklim.

Hasil akhir yang diharapkan adalah tersusunnya rencana kegiatan masyarakat berupa panduan yang berisi tahapan pelaksanaan kegiatan dalam upaya adaptasi terhadap perubahan pola penyakit DBD dan Malaria tersebut.

Pada periode Januari-Desember 2O13, tim telah menyusun rincian rencana kerja dan instrumen yang diperlukan dalam proyek,mengumpulkan dan melakukan pengolahan data yang diperlukan untuk analisis kerentanan populasi dan wilayah terhadap perubahan iklim terkait dengan DBD dan Malaria, serta melakukan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas petugas kesehatan di beberapa daerah dalam melakukan pengolahan dan analisis data iklim dihubungkan dengan kejadian penyakit DBD dan Malaria.

Kegiatan proyek pada periode Januari-Maret 2O14 terfokus kepada proses merapikan penulisan laporan akhir penelitian out put 1 dan persiapan kegiatan output 2 diantaranya adalah penyampaian informasi kepada pihak provinsi mengenai kabupaten/kota yang rentan terhadap DBD dan Malaria akibat perubahan iklim,penyusunan materi dan pembuatan media informasi peningkatan kesadaran masyarakat, perekrutan konsultan dan fasilitator di daerah serta pembuatan pedoman pemberdayaan masyarakat.

Sebagai kesimpulannya, kerentanan wilayah Sumatera Barat khususnya Kota Padang, Kota Bukit Tinggi, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Padang Panjang akibat perubahan iklim terhadap kejadian DBD sangat rentan dan kurang rentan.

Kerentanan wilayah Bali khususnya Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Badung akibat perubahan iklim terhadap kejadian DBD sangat rentan dan rentan.Kerentanan wilayah Jawa Timur khususnya Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang akibat perubahan iklim terhadap kejadian DBD sangat rentan dan rentan.

Kerentanan wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya khususnya Jakarta Utara, Jakarta Pusat,Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang akibat perubahan iklim terhadap kejadian DBD sangat rentan dan rentan.

Kerentanan wilayah Kalimantan Tengah khususnya Palangkaraya, Barito Utara, Kotawaringib Timur akibat perubahan iklim terhadap kejadian DBD sangat rentan dan rentan.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini