Ads


» » » Hadapi Pasar Tunggal Asean Pemerintah Dorong Industri Beton Pracetak


Jakarta,BeritaRayaOnline,-Percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia merupakan harga yang tidak bisa ditawar lagi.Selain itu untuk mendukung MP3EI dan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur adalah salah satu syarat agar daya saing bangsa semakin meningkat dalam upaya menghadapi Pasar Tunggal Asean.

Upaya percepatan tersebut harus diimbangi dengan terjaminnya ketersediaan sumber daya investasi yang salah satunya adalah Material dan Peralatan Konstruksi (MPK).Dalam rangka mewujudkan usaha tersebut Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum melalui Pusat Pembinaan Sumber Daya Investasi menyelenggarakan kegiatan dengan mengambil tema "Kesiapan Industri Beton Pracetak dan Prategang dalam Mendukung Pembangunan Nasional yang Efisien Menyongsong Pasar Tunggal Asean 2O15 dan Pasar Global 2O2O".

Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Hediyanto W Husaini yang membuka lokakarya ini di Jakarta, Selasa pagi (29/4/2O14) mengatakan investasi infrastruktur bidang ke-PU-an sangat bergantung pada terpenuhinya MPK secara efektif, efisien, dan tepat waktu."Apalagi dengan makin banyaknya pembangunan jalan,bangunan, dan lain sebagainya, kebutuhan MPK seperti beton pracetak ini sangat tinggi," katanya.


Bahkan sebagaimana disampaikan Menteri Pekerjaan Umum pemerintah berkomitmen untuk mendorong penggunaan sistem beton pracetak dalam inbdustri konstruksi dalam rangka meningkatkan efisiensi industri konstruksi.Dengan demikian diharapkan industri beton pracetak diharapkan dapat menyokong sedikitnya 5O persen pangsa pasar konstruksi beton di masa datang.


Dari data hingga 2O12 penerapan sistem beton pracetak telah memiliki pangsa pasar sekitar 25 persen dari total pemakaian konstruksi (disampaikan dalam The 6 th Civil Engineering Conference in Asia Region atau Cecar -6 di Jakarta, Agustus 2O13).Produksi beton pracetak Indonesia saat ini telah mampu bersaing di pasar internasional yaitu diantaranya di Aljazair, Kenya , Timor Leste, dan sekarang ini di Arab Saudi serta Myanmar.

"Terkait dengan semakin berkembangnya pembangunan gedung bertingkat tinggi atau high rise building dan infrastruktur publik di Indonesia serta beragamnya metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi maka diperlukan pengawasan yang lebih ketat pada setiap tahapnya.Hal itu dilakukan agar mutu yang dihasilkan sesuai persyaratan yang ditentukan," ucapnya.

Diantara variasi sistem/metode pelaksanaan tersebut masih terdapat sistem/metoda konvensional yang sarat dengan penyimpangan mutu dan waktu serta kompleksitas proses pengecoran lantai per lantai atau segmen per segmen.Kegagalan sistem konvensional yang tidak melalui pengawasan dapat kita lihat pada kejadian runtuhnya bangunan bertingkat seperti di Pakistan dan India.

Dimana penyebab utamanya adalah mutu beton hasil pengecoran setiap lantai yang tidak sesuai dengan mutu beton yang disyaratkan.Penyimpangan mutu beton tersebut merupakan konsekuensi dan pengecoran beton setempat yang diantaranya disebabkan oleh kelemahan pengawasan, ketidaksesuaian waktu pelaksanaan sekalipun cuaca tidak memungkinkan (penyebab potensial) dan ketidaksesuaian kompetensi tenaga kerja.

Agar kejadian semacam ini dapat dihindari maka pada 18 Juli 2O14 para profesional di bidang pembangunan gedung bertingkat dan perusahaan yang telah memproduksi komponen beton pracetak dab jasa prategang dan pemerhati telah membentuk wadah organisasi berupa Asosiasi Perusahan Pracetak dan Prategang Indonesia yang disingkat AP31.Dimana pada acara lokakarya ini dilakukan deklarasi yang disaksikan langsung Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Hediyanto W Husaini.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini