Ads


» » » Kementerian Kesehatan Tingkatkan Kesiagaan Perubahan Iklim Bawa Dampak Perubahan Pola Insiden DBD dan Malaria

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Sebagai bentuk antisipasi dan adaptasi dampak perubahan iklim Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Malaria, Direktorat Penyehatan Lingkungan sebagai focal point perubahan iklim di Kementerian Kesehatan tahun 2O13-2O14, melaksanakan kegiatan "Kajian Kerentanan Kesehatan Akibat Perubahan Iklim: Penilaian,Pemetaan dan Adaptasi Berbasis Masyarakat pada Demam Berdarah Dengue dan Malaria" bekerja sama dengan RCCI-UI (Research Center for Climate Change Universitas Indonesia) dan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund).

Drh.Wilfred H.Purba, MM,M.Kes,Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan ketika membuka seminar nasional hasil kajian kerentanan bidang kesehatan akibat perubahan iklim terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan malaria dalam rangka memperingati Hari Kesehatan se-Dunia tahun 2O14 di Hotel Santika, TMII, di Jakarta, Kamis (17/4/2O14) mengatakan proyek ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat terhadap perubahan iklim yang akan membawa dampak pada perubahan pola insideb penyakit DBD dan Malaria.

Kajian Intergovernmental Panel for Climate Change (IPCC) menemukan bahwa peningkatan gas rumah kaca (CO2,CH4n,NOx1n dan CFC) di atmosfer akibat aktivitas manusia merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim di bumi.

"Karena perubahan iklim mempengarui keseimbangan ekosistem lingkungan tersebut dinamika berbagai komponennya.Penyakit-penyakit infeksi seperti yang ditularkan melalui vektor atau serangga pembawa dan penular penyakit, penyakit saluran cerna, dan penyakit yang berhubungan dengan penularan melalui air, diketahui sangat sensitif terhadap faktor iklim," katanya.


Penelitian ini dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan dengan RCCC (Research Center for Climate Change University Indonesia) dengan tujuan untuk membuktikan keterkaitan penyakit DBD dan Malaria dengan perubahan iklim mengembangkan model dan peta kerentanan masyarakat dan wilayah rentan DBD dan Malaria serta proyeksi iklim hingga tahun 2O38 di 2O kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Sumatera Barat, Bali, Jawa Timur,DKI Jakarta, Banten dan Kalimantan Tengah.

Dalam mencapai tujuan tersebut, Drh.Wilfried H Purba didampingi Budi Hariyanto, Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia, kegiatan proyek dapat dibagi menjadi tiga bagian.Kegiatan pada bagian pertama proyek dilakukan oleh RCCC-UI, sedangkan bagian kedua dan ketiga dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.(lasman simanjuntak)




eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini