Ads


» » » Direktur Penyehatan Lingkungan Kemenkes :Perubahan Iklim Juga Berpengaruh terhadap Kesehatan!

Teks Foto  : Drh.Wilfried H .Purba MM, M.Kes, Direktur Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, diwawancara doorstop usai membuka seminar nasional kajian kerentanan bidang kesehatan akibat perubahan iklim terhadap demam berdarah dengue dan malaria di Hotel Santika, TMII, di Jakarta, Kamis pagi (17/4/2014). (Foto :Lasman Simanjuntak/BeritaRayaOnline)

Jakarta,BeritaRayaOnline, Perubahan iklim memang merupakan kenyataan yang tak bisa dihindari. Meningkatnya populasi penduduk di perkotaan serta banyaknya pabrik dan kendaraan membuat ancaman pemanasan global menjadi serius bagi lingkungan. Perubahan iklim juga berpengaruh terhadap kesehatan.

Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Drh. Wilfred H. Purba MM, M.Kes, mengatakan  perubahan iklim mempengaruhi keseimbangan ekosistem beserta dinamika berbagai komponennya. Hal ini berpengaruh langsung terhadap vektor (serangga pembawa dan penular penyakit) penyakit menular seperti DBD dan malaria.

"Penyakit-penyakit infeksi seperti yang ditularkan melalui vektor, penyakit saluran cerna dan penyakit yang berhububungan dengan penularan melalui air diketahui sangat sensitif terhadap faktor iklim," jelas drh Wilfred pada acara pembacaan hasil Kajian Kerentanan Akibat Perubahan Iklim Pada Penyakit DBD dan Malaria di Hotel Santika, Jl Pintu 1 TMII, Jakarta Timur, Kamis (17/4/2014).

Penelitian ini dilakukan oleh Kemenkes bekerja sama dengan Research Center for Climate Change University of Indonesia (RCCC UI) dengan tujuan membuktikan keterkaitan penyakit DBD dan Malaria dengan perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan dari tahun 2013 hingga awal 2014 di 20 kabupaten/kota di 5 provinsi yaitu Sumatra Barat, Bali, Jawa Timur, DKI Jakarta dan Banten serta Kalimantan Tengah.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar kabupaten/kota yang diteliti memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap kasus DBD dan Malaria. Hal ini diakibatkan oleh ketidak mampuan kabupaten/kota tersebut menghadapi dampak buruk dari terjadinya perubahan iklim, termasuk keragaman iklim dan iklim ekstrem.


Penyebab lain meningkatnya kerentanan terhadap DBD dan Malaria adalah karena populasi penduduk yang semakin meningkat, sehingga lingkungan perumahan menjadi semakin rapat dan padat. Hal ini menurut Dr Budi Haryanto, merupakan sebab utama kasus DBD masih sering terjadi terutama di kota besar.

"Jarak terbang nyamuk Aedes Aegypti itu 150 m. Sementara di kota besar seperti Jakarta saja perumikan sudah padat, masyarakat tinggal berdesak-desakan. Sehingga potensi penularan menjadi semakin meningkat," papar Ketua Bidang Riset RCCC UI tersebut pada kesempatan yang sama.

Oleh karena itu, ia mengharapkan agar pemerintah lebih giat melakukan sosialisasi dan advokasi kepada petugas kesehatan terutama di daerah yang rentan DBD. Sehingga dampak perubahan lingkungan kepada kesehatan masyarakat tidak akan terlalu berpengaruh.


"Kalau sosialisasi dan advokasi terus dilakukan, tentunya tingkat adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim akan meningkat, yang berakibat langsung pada meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat,"katanya. (dbs/lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini