Ads


» » » Cabai Rawit Merah Jadi Pemicu Inflasi

Bekasi, BeritaRayaOnline,-Harga cabai, terutama cabe rawit merah, dalam tiga tahun terakhir berkontribusi terhadap tingginya inflasi daerah, yang pada gilirannya mempengaruhi angka inflasi nasional. Hal ini perlu dicarikan solusi agar cabai rawit merah tidak lagi menjadi faktor yang memengaruhi inflasi.

“Solusi untuk itu sejatinya mudah. Asalkan ada kemauan,” kata Menteri Pertanian RI Suswono dalam acara Gerakan Tanam Cabai Rawit Merah dalam Pot di Perumahan Margahayu, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (22/4/2014).

Dalam acara yang digagas Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP) itu turut hadir Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Walikota Bekasi Rachmat Effendi, dan perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan, serta pejabat lainnya.

Menurut Mentan, solusi untuk mengatasi hal itu adalah setiap rumah menanam cabai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri. Sehingga anggaran untuk membeli cabai dapat dihemat atau digunakan untuk keperluan lain.

“Manfaatkan pekarangan untuk ditanami beragam sayuran, termasuk cabai. Tidak sulit menanam cabai. Ditanam di dalam polybag pun tumbuhan ini bisa hidup dan menghasilkan asalkan dirawat,” jelas Mentan.

Surplus
Pada kesempatan itu Mentan mengemukakan, sejatinya produksi cabai nasional cukup, bahkan surplus. Tahun 2013 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi cabai nasional mencapai 1,72 juta ton, yang terdiri dari 1.03 juta ton cabai kerinting dan cabai besar, serta 689 cabai rawit hijau dan cabe rawit merah. Angka tersebut melampaui target produksi cabai nasional 2013 sebesar 1,47 juta ton.

Mentan menambahkan, sejatinya produksi cabai nasional dibanding konsumsi terdapat surplus sebesar 15 persen.  Hanya pada bulan-bulan tertentu, terutama saat musim hujan selalu terjadi defisit.
Persoalannya, pada musim hujan perakaran cabai sering tergenang, sehingga tanaman cabai mudah terserang cendawan dan penyakit lainnya. Sehingga sekitar 50 persen tanaman cabai akan mati di musim penghujan.

Hal ini menyebabkan produksi cabai menurun. Kondisi ini diperparah dengan sulitnya distribusi karena terhambatnya transportasi, sehingga setiap musim hujan harga cabai selalu tinggi.
“Kondisi ini biasanya terjadi pada bulan Januari-Maret,” ujar Mentan.

Karenanya agar kondisi ini tidak berulang Kementan menggagas program Tanam Cabai dalam Pot dengan melibatkan kelompok wanita tani, baik di pedesaan maupun perkotaan.

“Jika tiap rumah bisa memenuhi kebutuhan cabai dari pekarangan sendiri, insya Allah tidak ada cerita lagi harga cabai mahal,” pungkas Mentan.  (humas kementan/lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini