Ads


» » » Swasembada Beras Berkelanjutan Memiliki Arti Penting untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

Ragunan, Pasar Minggu BeritaRayaOnline.Com-Dalam menghadapi persoalan pangan beras yang sangat komplek swasembada beras berkelanjutan memiliki arti penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Salah satu kebijakan yang dirumuskan berdasarkan analisis yang komprehensif terhadap sistem produksi beras adalah percepatan penyiapan lahan dan tanam dengan alat dan mesin pertanian (alsintan), penurunan losses panen sebesar 0,5 % dan losses pasca panen sebesar 1 %.

Demikian dikatakan oleh Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian Dr.Ir.Haryono pada acara launching "Indo Jarwo Transplanter dan Indo Combine Harvester" Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan oleh Menteri Pertanian Suswono berlangsung di Gedung PIA, Kantor Kementerian Pertanian, Jumat pagi (8/11/2013).

Dijelaskannya, serangkaian rekomendasi kebijakan lainnya ang harus dilakukan adalah sebagai berikut : (1) penambahan luas lahan 100.000 hektare/tahun termasuk pemanfaatan lahan suboptimal seperti lahan rawa dan lahan kering, (2) peningkatan produktivitas dari 512 ton/ha menjadi 5,70 ton/ha dan indek pertanaman IP 1.52 menjadi 1,68 melalui perbaikan jaringanirigasi 18,8 %/tahun, penggunaan pupuk berimbang sebesar 70 %, penggunaan benih VUB sebesar 60 %, pengendalian OPT mencapai 70 % dan peningkatan penyuluhan mencapai 50 % dari total jumlah desa, serta penurunan tingkat konsumsi beras 1,5 % /tahun."Sedangkan penggunaan alat dan mesin pertanian berkontribusi antara 10 % sampai 15 % dalam peningkatan produksi beras nasional," katanya.

Menurut Kepala Badan Litbang Pertanian Dr.Ir.Haryono, salah satu metode untuk meningkatkan produktivitas padi yang telah direkomendasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian adalah jajar legowo 2:1. Metode tersebut mampu menghasilkan jumlah populasi tanaman 213.300 tanaman/hektare atau 33,31 % lebih banyak dibanding metode tanaman tegel 25 cmX 25 cm dengan populsi tanaman hanya 160.000/ha.Melalui program diseminasi inovasi teknologi jajar legowo di setiap wilayah kerja BPTP se-Indonesia sampai dengan September 2013 jajar legowo diadopsi seluas 1.613.550 hektare.

Peningkatan produtivitas rata-rata yang dicapai dengan penerapan jajar legowo adalah 20,57 % dibanding dengan metode tanaman tegel. Namun demikian menurut para petani yang menerapkan jajar legowo, biaya tanam per hektare lebih tinggi dibanding metode tanaman tegel 25 X 25 cm."Kebutuhan tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah tanah sawah cukup banyak yang mencapai 30 % dari kebutuhan tenaga kerja tanam secara total. Selain itu waktu yang dihabiskan untuk mengolah tanah cukup panjang yaitu sekitar sepertiga musim tanam,"ujarnya.

Kebutuhan tenaga dan waktu yang besar akan berdampak terhadap membengkaknya biaya produksi sehingga dapat mengurangi pendapatan petani. Jika persiapan lahan ini dapat dipersingkat diharapkan musim tanam padi dapat berlangsung lebih cepat sehingga luas tanam padi bertambah. Salah satu upaya untuk mempersingkat penyiapan lahan dan tanam adalah penggunaan traktor dan alsin tanam (transplanter) yang berdampak meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi biaya produksi dan meningkatkan hasil produksi pertanian.

Dengan pertimbangan berbagai hal di atas, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian merancang mesin tanam padi jajar legowo 2:1 yang diberi nama Indo Jarwo Transplanter 2:1.Mesin Indo Jarwo Transplanter disamping mempercepat waktu dan menurunkan biaya tanam mesin ini diharapkan dapat mensubtitusi masuknya mesin tanam impor sistem tegel. Untuk menanam 1 ha bibit padi satu unit mesin tanam Indo Jarwo memerlukan waktu sekitar 6,5 jam atau kemampuannya setara dengan 20 tenaga kerja tanam. Selain itu mesin tanam Indo Jarwo Transplanter mampu menurunkan biaya tanam dan sekaligus mempercepat waktu waktu tanam.

Kondisi saat ini tingkat susut hasil (losses) masih cukup tinggi dan bervariasi yang dipengaruhi oleh musim saat panen, varietas, metode serta sarana panen dan pasca panen yang digunakan. Selama kurun waktu 15 tahun kemudian, tingkat kehilangan hasil masih belum banyak berubah.Susut hasil terjadi pada kegiatan permanenan perontokkan pengangkutan, pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pemasaran. Titik krisis kehilangan hasil terjadi pada tahapan pemanenan dan perontokkan yang diperkirakan kehilangan pada tahapan tersebut sekitar 10 %.(lasman simanjuntak)


eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini