Ads


» » » Belum Ada Penelitian Prosentase Terbesar Gangguan Psikogeriatri Lansia Kota dan Desa


Jakarta BeritaRayaOnline.Com,-Sampai saat ini belum ada penelitian secara menyeluruh mengenai prosentase terbesar gangguan psikogeriatri pada masyarakat usia lanjut (lansia) yang tinggal di perkotaan  , perdesaan, dan di pedalaman. Namun ,biasanya gangguan psikogeriatri banyak terjadi pada lansia kategori masyarakat miskin, tetapi angka pasti harus dihitung.

Demikian jawaban yang diberikan oleh dr.Eka Viora Sp.Kj, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Dr.dr.Martina Wiwie Setiawan Nasrun, Ketua Asosiasi Psikogeriatri Indonesia (API), dr.Tun Kurniasih Bastaman, Sp Kj, dari Persatuan Dokter Spesialis Jiwa serta dr.Albert Maramis, Sp Kj dari WHO menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline dalam acara Temu Media"Kebijakan Pemerintah Tentang Psikogeriatri" dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Dunia 10 Oktober 2013 di Jakarta, Selasa (8/10/2013).

Wartawan BeritaRayaOnline bertanya apakah ada penelitian prosentase terbesar gangguan psikogeriatri (cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia-red) pada lansia yang tinggal di perkotaan dan perdesaan, khususnya psikogeriatri yang paling sering yakni depresi, demensia (gangguan masalah kognitif dan perilaku), delirium (gangguan kebingungan akut) gangguan cemas dan psikosomatik dan insomnia."Sebenarnya kami sudah menerima ratusan penelitian kesehatan jiwa baik dari litbang maupun universitas. Data mentahnya ada di Litbang Kementerian Kesehatan" jelas dr.Eka Viora, Direktur Bina kesehatan Jiwa yang mmengaku baru tiga bulan menduduki jabatan ini.

Dr.dr.Martina Wiwie Setiawan Nasrun mengatakan  penelitian secara menyeluruh belum ada. Namun ada penelitian usia 55 tahun-74 tahun gangguan emosional mencapai hampir 40 %. Gangguan mental di atas usia 75 tahun (33%) usia 65 tahun (26,3%)."Ini serius harus lakukan tindakan meningkatkan kapasitas staf medik yang bekerja di layanan primer. Contoh depresi 15 % di komunitas. Kalau menderita penyakit diabetes dan darah tinggi 30 % sampai 40 % depresinya bebannya berlipat ganda.Demensia 3 % sampai 5 %1 juta orang menjadi 2 juta (2030) dan 5 juta (2050). Rural dan urban tak bisa dijawab. Tahun 2003 pernah dilakukan di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, dan hasilnya urban dan rural angka tak jauh beda,"jelasnya.

dr.Albert Maramis berpendapat psikogeriatri lansia pada masyarakat urban lebih tinggi berdasarkan penghasilan."Prosentase gangguan jiwa masyarakat miskin lebih banyak dari pada orang kaya. Angka pasti harus dihitung,"ucapnya dan oleh dr.Tun Kurniasih 'di-iyakan" bahwa kelompok miskin paling menderita termasuk bila mereka terkena bencana alam, misalnya.

Menjawab pertanyaan wartawan BeritaRayaOnline mengenai kesehatan jiwa dikaitkan dengan kemacetan lalu lintas yang kian parah di Kota Jakarta, serta bahaya narkoba, dr.Tun Kurniasih Bastaman,Sp.Kj, dari Persatuan Dokter Spesialis Jiwa, mengatakan narkoba menyangkut kelainan prilaku. Pada kelakuan orang itu (pemakai narkoba-red) itu terus melakukan berulang-ulang. Bahkan bila adiktif kelakuan makin menjadi-jadi."Sedangkan untuk kasus kemacetan lalu lintas hubungan dengan kesehatan jiwa, ini menyangkut kelakuan juga. Orang makin sehat jiwa punya kemampuan mencari solusi.Mengatasi kemacetan dengan main game atau dengar musik tidak stress hadapi kemacetan merupakan kepandaian mencari solusi bentuk kesehatan jiwa,"kilahnya.(lasman simanjuntak)

eMaritim.Com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments
close
Banner iklan disini